Mama Superku

Mama Superku
Penagih Hutang, Lagikah?


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah Dena, Aletha masih menimang-nimang tentang tawaran yang Dena berikan. Ia masih sibuk dengan pikirannya, karena disatu sisi dia tidak punya pengalaman sama sekali mengenai desainer jadi ia sangat berat untuk menerima tawaran itu.


Tiba-tiba terdengar seruan orang dari luar rumah disertai suara ketukan pintu. Mengagetkan Aletha yang sedang melamun. Sambil berjalan dengan membawa pikiran yang bercabang, Aletha membuka pintu dan ia melihat dua orang berseragam sedang menunggu kehadiran si empunya rumah.


"Selamat siang nyonya! Kami dari Pegadaian dan kami ingin meminta pembayaran bunga untuk bulan ini," ucap salah seorang dari antara mereka.


"Maksudnya bagaimana ya pak?," tanya Aletha heran. Karena selama ini ia merasa tidak pernah berhubungan dengan pihak Pegadaian.


"Begini, Bu rumah ini ini sudah digadaikan atas nama Bilson Devariel. Dan pembayaran bunganya setiap bulan adalah sebanyak 15 juta. Jadi untuk bulan ini, kami meminta pembayaran bunganya untuk segera dilunasi karena masa tenggangnya sudah mau habis," ucap lelaki itu lagi.


Alangkah terperanjatnya Aletha ketika mendengarkan penjelasan dari pihak Pegadaian tersebut. Ternyata bukan hanya aset-aset yang di dijual oleh Bilson, tapi rumah ini pun dia sudah gadaikan.


"Tolong beri saya waktu selama seminggu pak! Saya akan melunaskannya segera," jawab Aletha. Matanya menatap kedua petugas itu dengan tatapan memohon sehingga kedua petugas itu merasa iba padanya.


Lalu merekapun pamit undur diri dan berjanji akan kembali seminggu lagi untuk menagih janji yang telah diucapkan oleh Aletha.


"Terima kasih, pak. Saya akan mencoba untuk mengusahakan melunasi bunganya dan saya juga akan berusaha agar saya bisa menebus rumah ini kembali dari perusahaan bapak," ucap Aletha.


Kedua petugas itu pun pergi meninggalkan kediaman Aletha. Kemudian, Aletha kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu rapat-rapat.


Ia merasa kepalanya seperti dibelah oleh pisau yang tajam dan tipis. Ia berusaha memijit-mijit dahinya berharap semakin ia merasa jauh lebih baik. Aletha meletakkan jempolnya di atas telinganya kemudian memijit kepalanya perlahan.


"Haduh! Apa yang akan aku lakukan? Bagaimana ini? Aku nggak mau kehilangan rumah ini, hanya rumah inilah yang tersisa kenangan aku, mama dan juga papa. Oh Tuhan, tolong aku! Berilah aku petunjuk Mu! Tanpa sadar air matanya pun mulai mengalir.


"Mama, mama, menangis?" tanya Eril kepada mamanya. Ia mendekati mamanya yang sedang duduk di sofa lalu naik ke pangkuan sang mama.


Tangannya pun ia ulurkan, lalu ia mengusap pipi Aletha dengan kedua jari jempolnya lalu mengeringkan air mata yang jatuh di pipi mulus mamanya itu.


"Mama jangan nangis! Abang nggak akan bandel kok ma. Abang pasti akan nurut," ujar Eril. bibirnya sangat menggemaskan saat mengucapkan kata-kata itu. Dan tentu saja Aletha nggak kuat mendengarkan apa yang diucapkan oleh anak yang masih sangat belia itu.


Seketika tangisnya berubah menjadi senyum. Kekuatan yang hilang kini mulai muncul kembali ke permukaan.


"Nggak kok sayang mama enggak nangis. Tadi mama hanya kelilipan karena kemasukan debu setelah membersihkan meja," sahut Aleta berbohong kepada eril.


"Mama jangan sedih ya, ya! Abang nggak akan nakal kok. Abang akan menuruti apa yang Mama bilang. Abang nggak akan bandel dan Abang nggak akan main-main terus," ucap Eril.


Terharu Aletha mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Kecupan hangat mendarat di kening Eril yang berasal dari sang mama tercinta.

__ADS_1


"Mama sayang Eril."


"Eril juga sayang mama." Ia pun melakukan hal yang sama, mencium pipi kiri dan kanan mama tercinta. Lalu pindah ke kening sang mama tersayang.


"Sekarang anak mama yang tampan dan penurut ini, tidur siang, yah!" ucap Aletha. Ia mengalihkan pembicaraan dan berusaha merayu sang anak agar mau tidur siang.


Bukan Eril namanya kalau tidak susah tidur siang. Bahkan terkadang sang mama harus menyanyikan beberapa album lagu, barulah dia tertidur pulas. Selain lagu, ia juga menarik-narik rambut mamanya, sambil menghisap jempol tangan kanannya.


Seperti ada kenikmatan tersendiri di sana, yang membuatnya akhirnya bisa tertidur. Mau tak mau sang mama harus stand by didekatnya, menjelang ia tidur lelap.


"Nggak mau, mama. Abang masih mau main," ucapnya cemberut. Kedua bibirnya ia katupkan sampai bibir bawahnya merosot ke bawah.


"Tapi katanya tadi mau nurut, kok sekarang nggak nurut?" ucap Aletha mengingatkan kembali kata-kata yang diucapkan oleh Eril sebelumnya.


"Oh iya, yah. Lupa Abang. Hehehe!" Eril terkekeh karena telah melupakan apa yg baru saja ia ucapkan.


"Abang mau tidur siang, tapi nyanyiin ya, ma!" pintanya memelas. Masih saja dia mengoceh, padahal matanya sudah terlihat sangat sayu. Kira-kira sudah lima Watt lah.


"Iya, mama nyanyiin."


Bobo Eril oh Eril sayang.


Kalau tidak bobo dimarah mama


Bobolah sayang anakku yang baik


Kalau tidak bobo digigitnya semut


Bobolah Eril anakku sayang


Kalau tidak bobo dimarah mama


Kemudian ia ulangi lagi bait itu sekali lagi.


Dan, mata Eril hampir saja tertutup.


"Kerlip kerlip, ma," gumamnya pelan. Namun masih terdengar di telinga sang mama.

__ADS_1


"Siap, boss!" sahut Aletha.


Kerlip bintang di langit


Dari mana kau datang


Jauh tinggi di langit


Bagai sebuah permata


Kerlip bintang di langit


Dari mana kau datang.


"Lagi!" ucapnya semakin perlahan.


Aletha menyanyikan kembali lagu tersebut, dan.... Kemudian Eril pun terlelap. Lalu Aletha meninggalkan Eril setelah ia mengoles minyak angin plus anti nyamuk di seluruh tubuhnya. Ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena Eril selalu mengganggunya.


Suara ketukan dari luar membuatnya untuk menghentikan lagi sejenak aktivitasnya.


"Siapa lagi sih yang datang? Jangan-jangan penagih hutang lagi. Mendingan nggak usah aku buka,'" gumamnya.


"Dasar memang lelaki brengsek! Dimana-mana hutang. Disini hutang, disana hutang, aku jadi pusing. Mau bergerak pun susah," Alethapun menggerutu.


Lalu ia melanjutkan kembali kesibukannya. Sementara suara seruan dari luar semakin lama semakin terdengar jelas di telinga. Yah, suara itu suara seorang lelaki.


"Ah, yang tadipun laki-laki. Jsngan-jangan ini dari showroom? Uda ah, biarkan saja. Aku capek harus menangani hutang piutang lagi. Tapi kalau aku nggak keluar yang ada dia nggak akan beranjak dari sana. Bisa-bisa aku dilapor polisi karena sudah menghindar dari hutang."


Setelah bergelut dengan kegalauannya, iapun melangkahkan kaki menuju pintu, hendak membukakan pintu tersebut. Namun ia masih rada bingung. Semenjak kedatangan para penagih hutang, Aletha semakin takut untuk membuka pintu.


"Permisi! Apakah ada orang didalam?" seru suara lelaki itu terdengar jelas dari luar.


Aletha melekatkan telinganya ke pintu, berusaha mengenali suara seruan itu. "Eh, sepertinya aku mengenal suara itu. Tapi untuk apa dia ke sini?" batin Aletha.


"Dira, apakah kalian baik-baik saja didalam?" tanya suara itu dari luar.


Sontak saja pertanyaan itu membuat Aletha terperanjat. "Mas Revan, eh mas Bilson?" batinnya. "Untuk apa dia datang?" gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2