
"Mas, jadi bagaimana? Jadi kan mas membawaku ke rumah orang tua mas?" tanya Santi saat mereka sedang berada di dalam mobil.
"Sabar ya, sayang. Secepatnya aku akan membawamu ke rumah orang tuaku." jawab Bilson sambil tangannya seerius dengan setir.
"Tapi mas, mau sampai kapan?" Apa tunggu perutku membesar baru kamu mengenalkan aku pada orang tuamu?" protes Santi.
Ini adalah perdebatan yang entah uda keberapa kalinya bagi mereka. Namun ujung-ujungnya tak membuahkan hasil.
"Aku udah nggak mau menunggu terlalu lama, mas. Aku malu bila aku hamil tanpa ada suami. Coba kamu pahami bagaimana posisiku, mas." imbuhnya lagi.
"Tapi kan kamu bisa sabar menunggu sampai rencanaku berhasil. Atau kamu bisa...." ucap Bilson masih dengan tanpa kepastiannya.
"Bisa apa, mas?" desak Dewi.
"Dari dulu alasanmu nggak jelas. Kalau begitu kita putus saja. Turunin aku sekarang!" bentak Santi.
Bilson menghentikan mobilnya dan mencoba untuk membujuk Santi lagi. Namun gagal. Santi sudah keluar dari dalam mobil.
Tak ada yang tau bahwa Aletha ternyata mengikuti mereka dari belakang berssma dengan Rimba suruhannya Dena.
"Kita dengarkan saja percakapan mereka, tapi jangan sampai ketahuan!" ujar Aletha ke Rimba.
"Baik, bu." jawab Rimba cepat.
Mereka tertuju pada dua insan yang sedang berdebat di jalan umum.
"Ayo, masuk sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Jangan marah gitu, dong." bujuk Bilson.
Akan tetapi Santi tak bergeming. Tak ingin rasaya dia melihat mata Bilson. Takut bila ia tergoda dengan bujuk rayunya.
"Tinggalkan aku, mas. Aku mau sendiri." ucap Santi datar.
"Tapi, sayang..."
"Kubilang kamu pergi sekarang!" bentak Santi tanpa menoleh.
"Oh, jadi dia rekan kerjamu, mas? Rekan kerja yang hamil di luar nikah?" ledek Aletha yang tiba-tiba sudah berdiri diantara mereka.
"Tante ngapain di sini?" tanya Santi heran.
Ia menatap Aletha dengan tajam.
"Aku hanya meluruskan sedikit. Jadi silakan kamu dengar. Saya adalah istri sahnya. Dan kamu? Kamu tak ada hubungan dengan saya. Asal kau tau ya, sebelum dia bertemu kmau tadi, dia sudah bertemu wanita lain di hotel." ucap Aletha dengan emosi.
Ada rasa tidak suka saat Santi menatapnya dengan tajam. Ia merasa tatapan itu sebagai kode bahwa dirinyalah yang bersalah di sini.
"Ma-maksid tante, tante ini adalah...."
"Saya istri sahnya. Ini buktinya." ucap Aletha ketus.
Dilemparkannya buku pernikahan itu ke wajah Bilson.
__ADS_1
"Baca itu!" ucap Aletha dengan keras.
Santi mengutip buku nikah itu dari tanah.
"Jadi, mas beneran kamu sudah menikah?" tanya Santi.
Ia masih ingin mendengar pengakuan dari mulut Bilson.
"I-iya. Mas sudah menikah. Kan mas sudah pernah bilang kalau itu pernikahan tanpa cinta. Jadi itu hanya setting-an." jawab Bilson enteng.
"Lalu bagaimana dengan perempuan yang kamu jumpai di hotel tadi?" selidik Santi.
"Oh, dia itu adalah rekan bisnisku. Kebetulan kami sedang rapat di sana " jawab Bilson.
"Bohong. Dia sedang membohongi kamu." ucap Aletha memotong pembicaraan mereka.
"Kamu nggak usah ikut campur! Ini bukan urusanmu!" tukas Bilson.
"Ini adalah urusnku. Karena suamiku berselingkuh dengan wanita lain dan meninggalkan anak dan istrinya." ucap Aletha prites.
"Kita bicara di mobil ya, sayang. Nggak usah kamu pedulikan dia. Anggap saja dia orang kurang waraa." ucap Bilson sambil menarik tangan Santi.
"Nggak, aku mau di sini kita bicara. Aku butuh penjelasan untuk semua ini." ucap Santi sambil melepaskan tangannya dari genggaman Bilson.
"Rimba, bawa ke sini buktinya!" perintah Aletha kepada Rimba yang sibuk memperhatikan perdebatan mereka.
"Siap, bu." jawab Rimba cepat.
Ia membawa bukti yang diminta Aletha.
"Coba lihat, sayang Ini editan. Mana mungkin . Saya nggak kenal mereka." jawab Bilson bohong.
"Dari mana anda mendapatkannya ini, tante?" tanya Santi menyelidiki.
"Kamu nggak perlu tau itu dari mana. Dan kamu harus tau, ini bukan pertama kalinya dia selingkuh. Dia ini penjahat wanita." ucap Aletha.
Santi masih ragu antara percaya dan tidak dengan apa yang diucapkan Aletha. Satu sisi dia nggak kenal dengan Aletha, di sisi lain dia sedikit ragu dengan Bilson.
"Ini ada bukti yang lainnya." tukas Aletha.
Santi melihat video yang diperlihatkan Aletha.
"Nggak, nggak mungkin mas Bilson selingkuh. Aku yakin kamu bohong. Kamu kan hanya mau mengejar harta mas Bilson kan?" ucap Santi kepada Aletha.
"Harusnya kamu buka matamu. Untuk apa aku menginginkan hartanya? Harta yang dia miliki saat ini adalah bukan miliknya. Kamu tertipu." ucap Aletha panjang lebar.
"Ya sudah, jika kamu nggak percaya juga terserah. Itu bukan urusanku."
"Ayo, Rim kita pergi. Kita tinggalkan orang yang tak tau diuntung ini." tukas Aletha sambil menatap sinis Bilson.
Ia hendak melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Upss, satu lagi. Aku lupa. Ini buatmu." ujar Aletha.
Ia memberikan amplop coklat ke tangan Bilson secara paksa.
Lalu mereka pergi dari sana meninggalkan Bilson dan kekasih hatinya.
"Sayang, kamu jangan percaya dia." ucap Bilson lagi.
Ia masih mencoba untuk menenangkan hati Santi. Tak ingin rasanya Santi meninggalkan Bilson begitu saja.
"Nggak usah perdulikan aku!" bentak Santi.
"Jangan gitu dong, sayang. Aku mencintai kamu." ucap Bilson.
Aku juga mencintaimu, mas. Tapi saat ini hatiku masih ragu tentangmu. Aku nggak tau percaya sama kamu atau tidak. Aku perlu waktu sendiri,mas. Batin Santi.
"Nggak perlu aku kata-kata cintamu saat ini. Aku hanya sedang ingin sendiri."
"Tapi sayang, tolong dengarkan aku dulu." ucap Bilson.
"Aku nggak butuh penjelasan kamu. Hari ini sudah cukup lelah bagiku."
Santi berlari memasuki taksi yang sudah dipanggilnya.
Setelah Santi masuk, taksi itu pun meluncur dengan sangat cepat atas permintaan si penumpang.
Bilson tak terima ditinggalkan Santi begitu saja. Ia pun mengikuti lajunya taksi yang membawa Santi.
"Nona, sepertinya ada yang mengikuti kita." ucap supir taksi.
Santi melirik ke belakang.
Kamu nggal ngerti juga mas. Baiklah kalau kamu tak ingin memahamiku. Batin Santi.
"Lebih cepat lagi, pak! Nanti aku akan bayar dua kali lipat" ujar Santi.
"Baik, nona." sahut si supir sambil tersenyum mendengar bayaran double.
Taksi yang ditumpangi Santi dan mobil Bilson pun seperti sedanh ikut lomba balapan.
"Percepat, pak!" tukas Santi.
Taksi itu pun melaju dengan sangat kencang sampai tiba di simpang empat. Lalu taksi itu pun berbelok ke kiri.
"Dimana taksinya? Cepat amat meluncur " gerutu Bilson.
Mobil itu pun berbelok ke kanan.
"Sepertinya dia sudah kehilangan jejak kita, pak." ucap Santi sambil mengeluarkan napasnya.
"Iya, nona. Dia sudah tak kelihatan lagi." ucap pak supir.
__ADS_1
"Turunkan saya di jalan Mawar, ya pak." tukas Santi.
"Baik, nona." balas supir taksi itu.