
"Jangan takut! Saya pasti menolong anda," gumam lelaki itu. Ditatapnya Aletha yang masih takut-takut sambil memanggu baby Eril diatas pahanya.
"Saya Deo Ramses. Anda bisa memanggil saya Deo," ucap lelaki itu tanpa melirik Aletha. Saya adalah seorang pengacara. Anda pasti sidah tau kan pengacara itu bwrtugas sebahlgai apa? Jadi anda nggak perlu khawatir," imbuhnya lagi.
Aletha tak bergeming. Matanya terlihat sayu. Ada sedikit memar di dagunya. Deo bisa melihat wajah Aletha dari cermin mobil yang ada diatas kepalanya.
"Nama kamu siapa?" tanya Deo. Ia mencoba mencoba mendekati wanita di belakangnya itu melalui suara lembutnya. Mencoba berbasa-basi agar suasana berubah menjadi tidak kaku.
"Jangan takut, nona. Percaya sama saya, meskipun anda tidak mengenal saya, tapi saya pernah bertemu anda sebelumnya," kilah Deo.
Aletha mengangkat dagunya. "Kita pernah ketemu?" tanyanya memberanikan diri. "Dimana?" imbuhnya lagi.
"Bertemu sih nggak, tapi.... saya pernah melihat nona di suatu tempat," gumam Deo. Tangan sibuk dibelakang kemudi. Sambil sesekali melirik cermin itu untuk melihat reaksi Aletha.
"Jangan panggil saya nona. Saya Aletha Indira. Anda bisa memanggil saya Aletha," gumam wanita itu. Didudukkannya baby Eril yang sudah mulai tenang di sampingnya. "Anak mama duduk, ya!" ucapnya. Sang babyi mengangguk setuju.
Aletha melirik ke bawah. "Astaga.... aku nggak pakai sandal?" batinnya. Ia baru sadar kalau perlawanannya tadi kepada Bilson membuatnya tidak sempat memakai alas kaki, karena buru-buru menyelamatkan diri dari amukan Bilson.
Deo menyadari apa yang dipikirkan Aletha. Dia tersenyum tipis saat melihat wajah Aletha yang sudah memerah karena menahan malu. "Dasar wanita, tadi nggak sadar kalau ia tak mengenakan alas kaki. Sadarnya baru sekarang," kekehnya dalam hati.
"Bapak kenapa tersenyum? Maksud saya, anda kenapa tersenyum?" tanya Aletha mengalihkan pandangannya dari kakinya. Ia tau kalau Deo memperhatikannya.
"Panggil saya Deo," ucap lelaki itu mengingatkan Aletha.
"Ma-maaf, saya saya l-lupa," sahut Aletha gugup.
Deo Ramses mengangguk. "Tidak apa-apa, Dira," sahutnya cepat.
Aletha merasa lain karena lelaki itu memanggilnya Dira. Seumur hidupnya baru kedua kalinya orang memanggilnya dengan nama ujungnya. Sekelebat ingatan Aletha tentang masa lalunya bersama Bilson ketika mereka belum menikah.
Lelaki itulah yang memanggil namanya Dira kala itu. Tali sekarang sudah tidak lagi. Bahkan nyaris Bilson tak pernah memanggilnya dengan sebutan nama. Sendu kembali hinggap di tepian wajahnya hingga membuatnya murung.
Tentu saja hal itu membuat Deo merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf, saya nggak ada niat untuk memarahi kamu. Saya hanya mengingatkan saja kalau kamu nggak usah memanggil saya bapak, atau anda. Yah, kamu dan aku saja begitu, biar nggak sungkan," ucap Deo menjelaskan.
"I-iya, pak. Eh maksudku iya, Deo," sahut Aletha gugup. "Kami mau dibawa kemana, Deo?" tanya Aletha saat mobil Deo berhenti di depan rumah sakit.
"Ikut saja," sahutnya. Dibukanya pintu mobil dan dibiarkannya Aletha bersama baby Eril turun dari mobil. Entah mengapa, seperti terhipnotis Aletha menurut dan berjalan sesuai kemauan langkahnya.
Deo Ramses langsung masuk ke dalan rumah sakit dan menjelaskan niatnya kepada petugas di meja resepsionis. Lalu dia kembali kepada Aletha dan baby Eril.
"Anak baik, sini sama om. Mama mau ke sana sebentar," ucap lelaki itu lembut kepada baby Eril. Awalnya baby Eril malu-malu, namun kemudian dia berlari mendekati Deo, dan... Deo pun menggendongnya. Sementara Aletha mengikiti langkah dua orang perawat yang menjemputnya kedepan rumah sakit.
****
"Sudah siap berangkat?" tanya Tito lagi kepada Santi sambil menyusuri sekeliling apartemen. Santi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Pintunya nggak dikunci?" tanya Tito saat Santi langsung beranjak ke mobil tanpa mengunci pintu. "Nanti kalau ada yang masuk gimana?" tanyanya lagi.
"Aku sudah menghubungi sang pemilik apartemen tadi... dan akan datang penghuni baru nanti sore. Pemilik apartemen juga yang bilang kalau pintunya nggak perlu dikunci karena dia akan mengganti dengan kunci yang baru," jelas Santi.
Tito percaya dan mereka pun meninggalkan apartemen itu.
"Hallo!" sapanya kepada sang penelepon.
"Apa?" tanyanya dengan mata terbelalak. Tentu saja Santi ikut terperanjat karena kaget mendengar teriakan Tito.
"Baik, saya akan segera ke sana," jawabnya. Lalu mematikan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Santi menatap Tito penuh tanya. Kepalanya ia miringkan sedikit agar dapat menatap langsung wajah temannya itu.
"Mam nggak sadarkan diri katanya. Dan aku harus segera ke rumah sakit. Kamu kamu bisa pulang sendiri kan?" Tito mulai panik.
"Iya aku bisa sendiri. Kamu pergi sajabke Rumah Sakit, aku turun di sini saja," ucap Santi cepat. Dia langsung mengeluarkan kopernya dari bagasi lalu saat mobil Tito sudah berhenti.
"Kamu hati-hati nyetirnya, ya!" pinta Santi. Diangguki oleh Tito tanpa suaranya. Lalu dia buru-buri pergi.
__ADS_1
"Hhhhhhhhh, syukur saja dia nggak jadi ngantarin aku pulang. Bisa brabe nanti. Bakal banyak pertanyaan yang aneh-aneh nanti dari mama dan papa. Bisa-bisa aku dikira yang nggak-nggak sama Tito. Akukan uda lama nggak pulang," gerutu Santi.
"Tapi... kasihan juga ya mamanya Tito. Nanti kalau ada waktu aku ke rumah sakit deh jenguk tante Clau," gumamnya. Ia melangkahkan kakinya menuji taksi yang sudah dipanggilnya dari kejauhan tadi.
"Antas saya ke jalan bunga teratai, pak!" pintanya kepada supir taksi. Dan... diangguki oleh pak supir. Dia membantu Santi memasukkan barang-barangnya ke bagasi taksi.
"Trimakasih, pak," ujar Santi menunduk.
"Sama-sama, mbak," sahut pak supir.
Sementara di rumah sakit, petugas medis telah selesai dengan Aletha.
"Trimakasih banyak, dokter," ujar Deo. Diangguki oleh sang dokter dan perawat yang ada di sana.
"Bapak tunggu sampai besok ya, karena hasilnya akan keluar besok pagi," jelas sang dokter.
"Baik, dok," tukas Deo. Ia masih menggendong baby Eril sambil sesekali mencium rambut baby Eril yang harum semerbak, aroma bayi.
"Kami permisi, dokter," ujarnya. Lalu berjalan menuju mobil dan diikuti Aletha dari belakang. Dalam hati Aletha ingin sekali menanyakan maksud dan tujuan lelaki itu membawanya ke sini dan melalukan pemeriksaan yang menurutnya sangat aneh.
Karena seumur hidupnya, Aletha tidak pernah melakukan pemeriksaan yang seperti itu.
"Ada apa sebenarnya....dan kenapa mereka memeriksa saya dengan cara seperti itu?" Aletha mencoba bertanya kepada Deo.
"Kamu tenang, jernihkan pikiranmu, maka.... kamu akan tau apa maksud dari semua ini. Kan sudah aku bilang tadi bahwa....aku akan membantumu," kilah Deo.
"Iya, tapi aku nggak ngerti sama sekali," sahut Santi.
"Duduklah yang benar, lihat bayi lucu itu sepertinya sudah mengantuk," ucap Deo.
"Aletha? Ngapain dia ke sini... dan sama siapa dia?" gumam dokter Ariel. Ia memperhatikan lekat-lekat mobil yang ditumpangi Aletha sampai tidak terlihat lagi.
"Aletha itu kan? Kayaknya aku nggak salah deh, itu pasti Aletha," gumamnya lagi.
__ADS_1
Orang-orang yang melewatinya meliriknya dengn tatapan jijik. Mereka mengira kalau dokter Ariel sedang gila karena bicara sendiri.