Mama Superku

Mama Superku
Kejang


__ADS_3

"Dokter, pasien yang ada di ruangan Mawar nomor 329 sedang mengalami kejang!" seru seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan dan menghampiri sang dokter yang sedang duduk di ruangannya.


"Baik, saya akan segera kesana," sahut sang dokter, kemudian ia meletakkan kembali kertas yang sempat dia baca diatas mejanya. Lalu ia memakai baju putihnya dan membawa peralatannya ke ruangan yang dimaksud oleh perawat tadi.


"Sudah berapa hari dia demam, bu?" tanya dokter tersebut kepada si ibu yang yang sedang duduk di samping ranjang si anak.


"Sudah tiga hari, dok."


"Apakah dia sudah pernah kejang sebelumnya?"


"Sebelumnya enggak ada dokter tapi, dari tadi pagi hingga hari ini sudah tiga kali kejang dok."


"Dokter, suhu tubuhnya 38,9 dok," seru salah seorang perawat yang baru selesai mengecek suhu tubuh si anak.


Lalu dokter itu menjelaskan kepada perawat itu untuk memberikan obat penurun panas kepada si anak.


"Apakah ada keluhan lain, ibu?" tanya dokter itu kepada si ibu.


"Dia juga nggak mau makan dok," ucap si ibu dengan senyum getirnya.


"Naiklah, bu. Nanti ibu minta saja obatnya dari perawat ya, saya sudah memberikan resep kepada mereka. Ibu harus banyak memberikan dia minum air putih, supaya dia nggak dehidrasi, dan kalau bisa air hangat supaya demam nya cepat turun!"


" Tapi dok, dia juga susah minum dok."


"Dipaksa, bu. Sedikit-sedikit pun nggak apa-apa. Tapi jangan beri dia minum sambil tiduran. Kalau memang terpaksa sambil tidur, bantalnya harus ditinggikan ya, bu. Dan juga jangan memberi dia minum saat dia menangis nanti dia bisa tersedak," imbuh sang dokter.


Si ibu mengangguk atas apa yang diucapkan oleh sang dokter. Seperti biasa sambil menunjukkan senyum getir yang ia paksakan.

__ADS_1


"Kalau begitu saya tinggal ya, bu. Nanti kalau ada apa-apa, tanyakan saja kepada perawat. Besok saya akan datang lagi untuk mengeceknya.


"Trima kasih, dokter!" seru si ibu kepada sang dokter yang sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Ibu kita ambil sampel darahnya dulu ya," ucap seorang perawat meminta ijin.


"Untuk apa, suster?" tanya si ibu kepada perawat tersebut saat dilihatnya perawat itu sedang mempersiapkan jarum suntik.


"Dari hasil pemeriksaan sampel darahnya kita akan mengetahui anak ibu sakit apa. Kita akan mengetahuinya melalui hasil dari laboratorium tersebut, bu," jawab sang perawat.


Si ibu tersebut menundukkan kepala tanda mengerti lalu dia kembali fokus dengan anak yang tidur disampingnya.


Ditatapnya anaknya yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat pasi dan mata yang sudah menjorok ke dalam. Ingin rasanya ia menggantikan posisi anak di atas tempat tidur tersebut namun ia lemah tak berdaya.


Ia hanya bisa memandangi si anak dengan perasaan iba serta doa yang tak pernah putus yang ia haturkan di dalam batinnya. Dengan harapan si anak cepat sembuh dan akan kembali berkumpul di rumah seperti sedia kala.


"Masih banyak kok," gumamnya. Kemudian si ibu melanjutkan lagi aktivitasnya yang sempat berhenti.


"Aduh bagaimana ini, semua baju-bajunya sudah habis, dan pampersnya pun tinggal sedikit. Aku harus bagaimana ya? Apakah ada yang bisa menolongku? Nggak mungkin kan baju yang sudah kotor aku pakai kembali, kalau aku mencucinya di sini ini pasti enggak akan kering. Dan gak etis rasanya aku mencuci pakaian di rumah sakit," gumamnya seorang diri.


Kamar yang mereka tempati sekarang kebetulan sepi. Hanya mereka berdua yang ada di dalamnya. Tak ada pasien ataupun penjaga pasien lain yang ada di sana. Hanya dua ranjang kosong yang meramaikan ruangan itu beserta dua lemari di samping setiap ranjang.


Saat si ibu itu sibuk memikirkan mengenai perlengkapan bayinya, empat orang perawat masuk ke dalam kamar tersebut. Seperti biasa mereka akan selalu mengabsen dan memberitahukan kepada si penjaga pasien, bahwa pergantian shift akan dimulai. Mereka memperkenalkan dirinya masing-masing sambil memberitahukan bahwa mereka lah yang akan bertugas pada malam hari ini.


Timbul dalam benak si ibu meminta tolong kepada perawat tersebut, untuk menjaga anaknya sementara dia akan pulang ke rumah menjemput perlengkapan si bayi.


Ia menjelaskan kepada perawat tersebut bahwa tidak ada yang bisa untuk menemaninya disini karena ia belum memberitahukan kepada keluarga yang lain bahwa anaknya harus dirawat di sini.

__ADS_1


Dengan lembut perawat itu mengiyakan permintaan si ibu. Salah satu perawat menjaga di kamar itu sepeninggalnya si ibu untuk menjemput perlengkapan buah hatinya.


"Maaf ya suster, saya sudah merepotkan suster," ucap si ibu tersebut yang baru saja sampai. Napasnya masih ngos-ngosan.


"Tidak apa-apa, bu. Saya senang bisa membantu ibu. Dan bagaimana, apakah sudah ada yang bisa menemani ibu di sini?"


"Belum sus, tapi saya sudah memberitahu kepada mama dan papa saya kalau saya ada disini untuk menjaga anak saya yang sedang sakit. Tapi mereka sudah tua, jadi tidak mungkin saya meminta mereka untuk menemani saya disini," ucap si ibu menjelaskan.


"Oh, begitu. Yang sabar ya Bu," tukas perawat tersebut sambil melirik botol infus yang ada di atas kepala Eril. "sebentar ya, bu. Saya akan mengganti infusnya karena sudah mau habis," tumas perawat tersebut. Ia pun pergi meninggalkan ruangan itu dan kemudian kembali lagi dengan membawa sebotol infus yang baru.


Ia mengganti botol infus yang kosong tersebut menjadi botol infus yang baru, kemudian botol infus yang kosong itu dimasukkannya ke dalam tong sampah yang ada di dalam ruangan tersebut. Tak lupa ia mencuci tangannya, lalu mengoleskan sedikit hand sanitizer.


"Saya tinggal ya, bu. Jangan lupa untuk tetap memberikan si adik minum air putih yang banyak ya, bu ya," ucap si perawat tersebut sambil memamerkan senyumnya sehingga tampaklah giginya yang sangat putih dan bersih.


Si ibu tersebut mengangguk menjawab saran dari perawat tersebut. Lalu kembali menyusun barang-barang yang dibawa dari rumah ke dalam lemari yang ada di samping ranjang tersebut.


Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia baru sadar bahwa dari pagi hingga malam ini, belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Namun ia enggan untuk meminta tolong kepada perawat itu lagi.


"Sudahlah, lebih baik aku tahan saja," gumamnya pelan. Matanya melirik sang bayi yang sedang menggeliat, kemudian diperiksanya pembersih bayi dan ternyata sudah penuh. Lalu ia mangganti pampers tersebut dengan pampers yang baru yang ia beli tadi di lantai dasar. Kemudian membuang pampers bekas tersebut ke dalam tong sampah.


"sayang ini mama. Sayang bangun! Eril, Eril! Bangun, sayang!" ujar wanita itu sambil terisak. Tubuh Eril kembali lagi mengejang. Wanita itu mencoba untuk mengguncang-guncang tubuh Eril, berharap ia bisa mendengarkan suara jeritan sang mama.


"Suster, suster tolong anak saya!" seru Aletha dari dalam ruangan.


Tiga orang perawat berlari menuju ruangan tersebut.


"Ada apa Bu?" tanya salah seorang perawat tersebut dengan santai.

__ADS_1


"Anak saya kejang lagi, sus," ucap Aletha.


__ADS_2