
"Dengan ini sidang kami tunda. Karena pihak kedua sebagai tergugat tidak menghadiri sidang," ucap pak hakim sembari mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Aletha yang berdiri serasa kakinya tak kuat untuk berpijak lagi. Lututnya bergetar dan nyaris jatuh. Namun ia berusaha sekuat tenaga memegang kursi agar tidak sampai terjatuh.
"Tha, kamu nggak apa-apa?" tanya Dena yang menghampirinya langsung.
"Nggak, nggak apa-apa kok, Den...." ucap Aletha lirih.
Baby Eril berlari memeluk kaki Aletha. Lalu Aletha pun jongkok agar bisa menyamai baby Eril. Langsung dia peluk tubuh putranya itu dengan erat. Erat sekali. Suasana di kantor pengadilan itu seketika mengharu biru. Seolah yang lain turut merasakan kepedihann yang menghinggapi dirinya saat ini.
"Kita pulang, yok!" ajak Dena.
Seorang pria yang hendak memasuki ruangan itu, memperhatikan Aletha dalam-dalam. Sepertinya dia juga turut merasakan apa yang dialami wanita itu. Tubuhnya yang tegap dengan stelan jas menunjukkan bahwa dia tidaklah berperan sebagai pihak terdakwa, dan terduga.
Wewangian semerbak yang terpancar dari tubuhnya, membuat orang mabuk kepayang saking harumnya, bahkan sampai menusuk hidung.
Sementara di apartemen, Santi sedang memikirkan hubungannya dengan Bilson. Petualangannya beberapa minggu ini mampu membuatnya mengetahui kebenaran, kalau ternyata Bilson benar sudah menikah.
Keputusannya sudah bulat setelah ia cukup lama. bergulat dengan hati dan pikirannya. Bahkan ia sampai meminta Tito Kardalis waktu yang lebih banyak agar ia bisa membuat keputusan terberat dalam hidupnya.
Tiba-tiba ia teringat dengan kencannya seminggu yang lalu di tepian danau yang sangat sejuk nan indah. Di sanalah ia meminta waktu kepada Tito. Dan Tito memberinya waktu yang lebih setelah ia membujuk mamanya.
"Trimakasih, mas. Aku akan memikirkannya lebih baik lagi. Bagaimanapun ini adalah keputusan yang sangat sulit bagiku. Disatu sisi aku ingin menjaga amanah orang lain," ucap Santi sambil menundukkan kepalanya.
Tito memegang dagu Santi, lalu menaikkannya agaf Santi menatap kepadanya. "Iya, aku memberimu waktu. Tapi jangan terlalu lama, bolehkan?" tanyanya serius. Ada harapan yang sangat amat disana.
"Baik, mas," jawab Santi singkat.
"Semoga aku bisa mencintaimu, mas dan kamu pun begitu," gumam Santi saat tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Dengan ligat ia mengemasi semua barang-barangnya. Sebuah koper besar telah penuh oleh pakaian dan barang-barang lainnya. Ia berniat meninggalkan apartemen sebelum kedatangan Bilson.
Dia tau saat ini Bilson sangat sibuk di kantor, itu yang diucapkan Bilson padanya tadi pagi lewat teleponnya. "Semangat, Santi!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar olehnya pintu apartemennya diketuk seseorang. "Apa mas Bilson sudah pulang? Ah, nggak mungkin. Kan lagi sibuk di kantor," gumamnya sambil menghentikan aktivitasnya.
Karena penasaran, Santi pun mengintip dari balik gorden. "Tito? Ngapain dia ke sini? Dari mama dia tau apartemenku?" batin Santi.
"Kamu kesini ngapain? Trus tau apartemenku darimana? Kamu nggak bekerja? Tante gimana? Siapa yang jaga di sana?" Santi menjejali Tito Kardalis pertanyaan sementara si Titonya kebingungan dicwcali pertanyaan sebanyak itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengheningkan cipta. Seperti saat upacara bendera dulu di sekolah. Hahaha.
"Kok diam aja kamu? Ada masalah?" tanya Santi heran. Melihat ekpresi wajah Tito dia pun mendekati pria itu.
"Aku cuma bingung aja mau jawab pertanyaan yang mana duluan. Habisnya kamu borong semua pertanyaan tanpa membuatku menjawabnya dulu," ujar Tito.
Pipi merah bak kepiting kukus ditonjolkan oleh Santi karena malu. Ia baru teringat akan tumpukan pertanyaan yang sudah dilontarkannya kepada pria yang akan jadi suaminya itu kelak.
"Kenapa dia jadi gugup begini? Sebelumnya dia nggak pernah seperti ini," batin Tito.
"Kamu sedang apa? Bisakah kita keluar sebentar?" tanya Tito sambil mengangkat dagu mencoba melihat ke dalam apartemen, karena Santi belum juga memperbolehkannya masuk.
"A-aku se-s-sedang beres-beres," jawabnya gugup. Mau kemana?" tanya Santi penuh selidik. Ia mengalihkan fokus Tito aga tidak menanyakan terlalu dalam mengenai aktivitasnya.
"Ada deh, Surprise," jawab Tito singkat.
"Aku mandi sebentar boleh? Gerah banget, kan nggak mungkin aku butek begini jalan denganmu," ucapnya lagi. Entah mengapa dia langsung menerima ajakam Tito.
Lagi-lagi membuat Tito heran. Ada banyak kejanggalan yang ia lihat dari tingkah Santi pada hari ini. Namun, dia lebih memilih bungkam. Takut bila Santi semakin gugup walau sejujurnya ia senang melihat tingkah Santi hari ini.
__ADS_1
"Iya, tapi apa aku harus menunggumu sambil berdiri terus di pintu ini?" Tito mengingatkan Santi kalau dia masih belum diberi ijin kepada yang empunya apartemen.
"Oh, iya. Silakan duduk! Kamu tunggu aku di sini!" ujarnya sambil keluar dari apartemen dengan melebarkan pintu lalu menunjuk kursi yang terletak di teras apartemen. Ia mendorong sedikit tubuh Tito agar bisa melewati pintu itu.
"Kamu mau minum apa?" tanyanya lagi. Gugupnya sudah hilang.
"Es jeruk ada? Panas banget soalnya," kilah Tito sambil melirik bola mata Santi jauh ke dalam.
"Kalau aku buat es jeruk, bisa lama dong? Soalnya nggak ada bahan di kulkas, katanya kamu ada keperluan sebentar dan segera. Kamu mau menungguku membelinya dulu?" tanya Santi.
"Nggak usah deh kalau begitu. Teh manis dingin saja kalau ada," ucapnya. Pandangan Tito menyusuri pekarangan apartemen. Ada banyak bunga-bungi yang sedang bermekaran tertata rapi di sana. Berwarna-warni, membuat siapa yang melihatnya merasa nyaman dan segar.
Santi pergi ke dalam, lalu membuat teh manis dingin, setelah itu ia pamit untuk mandi.
"Oh ya, kamu mau kemana? Tadi nggak sengaja kulihat koper besar terletak di depan kamarmu saat di apartemen," ujar Tito.
"Aku? Aku nggak kemana-mana? Aku hanya beres-beres aja. Baju-baju aku udah nggak jaman makanya kuungsikan semua ke dalma koper," ujar Santi berbohong. Ia sedang sibuk menllihat-lihat menu resto yang ada di tangannya.
"Oh ya, aku lupa. Harus cepat-cepar aku supaya mas Bilson nggak tau kalau aku pergi. Dengan cara seperti ini hubunganku dengannya akan berakhir selamanya, dan aku juga nggak mau merusak rumah tangga orang lain," ucap Santi dalam hati.
"Tito, aku aku pamit sebentar, ya. Ada yang mau aku bereskan. Sebentar saja, please!" ucapnya dengan kedua telapak tangan saling menyatu bersama dengan jari-jemarinya dan meletakkannya di dadanya, memohon.
"Ya, udah kuantar," sahut Tito cepat.
"Ng-nggak usah, Tito aku cuma sebentar kok. Kamu tunggu aja di sini, aku akan kembali," ucapnya menolak.
"Aku nggak mau menunggu di sini sendirlrian, lebih baik aku ikut saja denganmu, gimana?" tanya Tito.
"Aduh, gimana ini? Bisa lama kalau aku harus menjelaskan padanya secara keseluruhan, itu kan butuh waktu lama. Nanti keburu mas Bilson datang gimana?" batin Santi.
__ADS_1
Pikirannya sudah bercabang-cabang entah kemana.
"Tapi nanti kalau nggak kujelaskan, bisa-bisa dia curiga dan ..... akan selalu mencari taunya nanti. Arrggggh!" gerutu Santi dalam hati.