
"Memangnya si mbak galau karena apa?" tanya lelaki itu kepada Santi yang sedang sibuk menjerit memanggil-manggil pembeli agar buahnya segera habis terjual habis.
"Eh bapak kepo ya?" ledek Santi.
"Bukan, bukan itu. Kali aja saya ada solusi buat si mbak supaya mbaknya nggak pusing." ucap lelaki itu lagi.
Ternyata mereka sudah bisa saling mengakrabkan diri. Meskipun usia mereka terpaut jauh. Ternyata mereka ada chemistry juga.
Santi pun menceritakan semua kegalauannya kepada lelaki yang akrab dipanggil Jaka itu. Jaka mendengarkannya dengan serius sambil sesekali manggut-manggut.
"Itu, pak ceritanya. Jadi aku bingung sekarang. Satu sisi mas Bilson katanya sudah punya istri, itu yang membuat aku ragu... " ucap Santi lirih.
"Jadi maksud kamu Bilson sudah menikah dan sudah punya anak?" tanya Jaka penasaran.
"Iya, pak. Tapi itu menurut pengakuan wanita itu. Mas Bilsonnya bilang kalau dia belum menikah." tutur Santi.
Polos banget wanita ini. Hanya karena dia mencintai lelaki itu, kepercayaannya pun sampai tak tergoyahkan. Begitu liciknya lelaki yang bernama Bilson itu. Hmmm, jaman sekarang memang jaman edan. Batin lelaki itu.
"Trus kamu percaya dengan lelaki itu?"
"Itu yang membuat aku ragu sekarang. Entah kenapa kepercayaanku terhadap mas Bilson saat ini sedikit memudar..." gumamnya lirih.
"Kalau begitu mbak harus menyelidikinya. Jangan terlalu percaya dengan wanita yang mengaku sebagai istri Bilson dan jangan ambil kesimpulan dari penuturan Bilson." ucap lelaki itu.
Jaka mencoba membuka pikiran Santi agar memandang secara logika.
"Caranya bagaimana, pak?" tanya Santi bingung.
"Ya elah mbak, mbak. Lugu atau polos sih?" ucap Jaka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Santi hanya bengong melihat Jaka.
"Caranya ya banyak atuh, neng." gumam Jaka lagi.
"Iya, gimana caranya?" tanya Santi polos.
Coba kamu awasi Bilson dan wanita itu secara diam-diam. Tanpa mereka tau kalau kamu mengintai mereka." tutur Jaka.
"Kenapa aku nggak kepikiran sampai ke sana ya, pak?" celetuk Santi sembari tangannya menepuk jidatnya sendiri.
"Tapi, pak....." lirih Santi.
Ia menghentikan ucapannya sambil memikirkan sesuatu yang akan dia ucapkan.
"Tapi apa?" tanya Jaka penasaran.
"Nanti mas Bilsonnya marah bila sampai taj. Nnayi dibilang aku nggak percaya sama dia. Dan mengintai orang lain kan itu sangat tidak dianjurkan." ucap Santi lesu.
__ADS_1
"Ya jangan sampai Bilsonnha tau. Makanya kamu harus pintar-pintar. Jangan sampai dia mencurigaimu." tukas Jaka lagi.
"Kamu nggak usah takut. Kalau untuk mendapatkan kebenaran menurutku nggak masalah sih. Dari pada kebohongannya terus berlanjut??" tukas Jaka.
"Iya juga sih. Hmmmm." ujar Santi.
Wajahnya berseri-seri bagaikan ketiban durian runtuh mendapatkan ide cemerlang dari lelaki penjual buah tersebut.
"Ya uda, kalau gitu saya pamit, pak. Ini uang sebagai ganti rugi karena saya sudah membuat lengan bapak sakit. Fan buahnya ini aku akan beli semuanya dan kuberikan kepada anak-anak yang ada di oanti asuhan." tukas Santi dengan wajah berseri-seri.
Santi menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Jaka.
"Nggak usah, mbak. Nggak usah. Saya mah nggak apa-apa. Justru saya bertrimakasih karena mbak sudah membeli semua dagangan saya." ucap Jaka menolak secara halus.
"Aku mohon terima ya, pak. Aku juga senang karena bapak sudah membuka pikiran saya." ucap Santi.
Karena Santi memaksa, akhirnya Jaka menerima uang itu sambil tersenyum. Ia membantu Santi untuk mengantarkan buah tersebut ke panti asuhan yang disebutkan Santi.
Ternyata zaman sekarang masih ada orang seperti wanita ini. Semoga kelak dia mendapatkan yang terbaik dihidupnya. Batin Santi.
****
Aletha berjalan sambil menggendong baby Eril hendak menghentikan taksi. Namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya kasar.
"Lepaskan saya! Kamu siapa?" jerit Aletha.
Sementaara temannya yang satu lagi berusaha merampas Eril dari gendongan Aletha.
"Lepaskan saya!" pekiknya.
Namun mereka tak mengabaikan jeritan Aletha. Aletha bertahan aekuat tenaga agar baby Eril tidak sampai ke tangan orang-orang yang tak dikenal itu.
"Toloooooong! Tolooooooong!"
Aletha teriak minta tolong. Namun tak ada yang perduli satu pun. Mereka hanya melewatinya dengan tatapan tak perduli dan juga datar.
"Kembalikan anak saya sekarang!" ujar Aletha.
Baby Eril sudah berada dalam genggaman lelaki dengan rambut panjang itu. Sementara lelaku yang bertubuh pendek itu berusaha sekuat tenaga untuk menarik paksa tubuh Aletha.
"Meskipun kau perempuan, ternyata besar juga nyalimu." puji lelaki itu dengan sinis.
"Ikut aku sekarang!" bentaknya pada Aletha.
"Tidak!"
Aletha menghempaskan tangannya kuat hingga terlepas dari genggaman pria bertubuh pendek tersebut.
__ADS_1
Lelaki yang menggendong baby Eril mengukurkan pisau ke ceruk baby Eril.
"Kalau kamu tak mau diajak kerja sama, maka bersiaplah bahwa kamu akan kehilangannya untuk selama-lamanya!" gertak lelaki itu.
"Tolong, tolong lepaskan putraku! Kasihanilah dia!" mohon Aletha.
Namun tak sedikitpun kedua pria itu menunjukkan rasa ibanya kepada Aletha maupun baby Eril. Mata membunuh mereka seolah memerintahkan agar Aletha segera masuk ke dalmnya.
"Tidak ada gunanya anda berteriak seperti itu! Tak kan ada yang berani menolongmu." tukas lelaki bertubuh pendek itu.
Lelaki itu memukul-mukul perutnya dengan cepat.
Apa maksudnya dia begitu? Aneh. Batin Aletha.
"Maksud anda apa?" tanya Aletha dengan berani.
"Semua jalan ini sudah kami kuasai dan mereka sudah pasti mengenal kami. Jadi siapa yang tidak mau diajak kerja sama akan kami lenyapkan!" gertak lelaki itu lagi.
"Tapi, tapi ini kan jalan umum. Tidak ada yang berhak atas jalan ini kecuali pemerintah." ucap Aletha lugas
"Oh, rupanya kau tak tau kelompok kami ya" ujar lelaki berambut panjang tersebut.
"Aku nggak perduli anda dari kelompok mana. Itu bukan urusan ku." ujar Aetha.
"Yang perlu anda lakukan sekarang adalah kembalikan anak saya! Dan jangan pernah mengganggu kami lagi karena kami tak ada urusan dengan anda!" ucap Aletha tegas.
"Berani anda melawan saya, yah."
Plakk
Lelaki itu menampar pipi Aletha dengan kuat. Wajah Aletha tampak memerah. Ia memegang wajahnya yang terasa panas.
"Anda sudah keterlaluan. Melakukan tindak kriminal dan mengancam keselamatan orang lain adalah perbuatan keji. Saya akan melaporkan anda ke kantor polisi." imbuh Aletha lagi.
"Oh ya? Bagaimana cara kau melaporkan pada polisi? hahahahha." tawanya memecahkan gendang telinga.
Aletha menatap kedua lelaki itu dengan tatapan tajamnya.
"Bagaiman anda mau melapor sementara anda saat ini sudah terjebak dan tak bisa melepaskan diri." ucap lelaki yang menggendong baby Eril kasar.
"Sudah, kamu bawa saja dia dengan paksa! Tak usah dengarkan omelan-omelannya yang tak bermutu itu!" ujar lelaki itu lagi kepada temannya.
"Siapa kalian sebenarnya? Dan untuk apa kalian membawa aku dan anakku?" tanya Aletha penasaran.
Lelaki itu membekap mulut Aletha dan menariknya dengan kasar lalu membukakan pintu mobil untuknya lalu mendorong kasar tubuh Aletha agar masuk ke dalam mobil tersebut.
"Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan!" jerit Aletha.
__ADS_1