Mama Superku

Mama Superku
Tito Dan Santi


__ADS_3

"Cucu Oma sudah pulang?" Oma Vina dan opa Irwan langsung menyambut kedatangan mereka yang baru saja turun dari mobil. Lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil Eril dari gendongan sang mama.


Mereka memeluk dan mencium Eril dengan rasa sayang. Ada rindu yang amat dalam yang mereka rasakan setelah beberapa hari tidak bertemu sang cucu.


"Oma, abang mau turun!" pinta Eril. Oma Vina menurunkan baby Eril dari gendongannya. Dan baby Eril malah berlari ke pelukan sang opa. Opa Irwan menyambutnya dengan penuh semangat. Meskipun rambutnya sudah mulai memutih, namun tak pudar sinar ketampanan yang ia miliki.


"Kalau cucu opa besar nanti mau jadi apa?"


"Dokter. Kayak ayah dokter," jawabnya tersenyum.


"Memangnya cucu opa nggak takut disuntik?"


"Nggak," jawabnya singkat.


Mereka semua tertawa mendengar celotehan Eril. Berbanding terbalik saat di rumah sakit kemarin. Ia meronta-ronta, dan menangis histeris saat perawat hendak menyuntiknya.


Saking kuatnya perlawanannya, enam orang perawat yang memegangi dia agar berhasil memasukkan jarum suntik yang akan menymbungkan selang infus ke dalam tubuhnya.


Dengan hati-hati dan tentunya penuh perjuangan, akhirnya mereka berhasil juga.


"Yang nangis kemarin siapa ya?" Aletha menyindir.


"Nggak ada. Abang nggak nangis kok, opa," sahut Eril tersipu malu. Pipinya memerah seperti buah delima.


Senyuman kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Yang awalnya mereka mengira bahwa Eril tidak akan kembali ceria seperti sediakala. Namun hari ini, semua pemikiran itu sirna melihat tingkah Eril yang semakin menggemaskan.


"Yok, kita masuk dulu!" ajak Oma Vina kepada dokter Ariel dan Dena. Lalu mereka semua masuk ke dalam rumah itu, melanjutkan canda tawa yang masih tersisa.


Sementara di mansion, pasangan yang baru saja menikah sedang menikmati sarapan paginya di meja makan di dapur.

__ADS_1


"ini kamu semua yang masak, San?" tanya Tito kepada Santi sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"iya mas, kenapa? Nggak enak ya?


"Bukan nggak enak, enak kok tapi kurang banyak," sahutnya sambil terkekeh.


"Masih ada kok mas di dapur, mas masih mau?" tanya Santi penuh selidik.


"Nggak ah, aku udah kenyang," jawab Tito singkat.


"Loh, tadi katanya kurang. Sekarang bilang kenyang, gimana sih?"


"Iya tadi kurang, tapi setelah melihat senyumanmu yang begitu manis, aku jadi kenyang." Tito mencoba mengeluarkan jurus andalannya menggombali Santi yang baru saja sehari telah sah menjadi istrinya.


"Apaan sih kamu mas, nggak lucu tahu?"


Seketika pipi Santi berubah warna menjadi merah seperti buah apel.


Santi bukannya menjawab dia malah berpura-pura mengangkat piring kotor yang baru saja ia pakai, lalu memasukkannya ke dalam wastafel untuk dicuci. Tito bisa melihat pipinya yang masih memerah dari arah samping.


"Santi, Santi, kamu emang imut kalau lagi tersipu malu begini," ucap Tito di dalam batinnya. Lalu ia menghampiri istrinya itu sambil membawa piring kotornya. dan diletakkannya di dalam wastafel mengikuti tingkah istrinya.


"Biar aku saja yang cuci."


"Nggak usah, aku saja. inikan pekerjaan seorang istri," celetuk Santi.


"Memangnya nggak boleh sesekali suami mencuci piring? Salahnya dimana coba?"


"Bu-bukan begitu, tapi kamukan harus berangkat kerja, jadi biar aku yang membersihkan piringnya," sahut Santi dengan senyumnya.

__ADS_1


"Sudah nggak papa. Kamu duduk saja disitu." Tito merangkul pundak Santi lalu membawanya menuju ke meja makan.


Dengan ligat Tito mencuci semua piring kotor yang ada di dalam wastafel. Lalu menyusunnya ke dalam rak piring. Santi melihat jelas kelihatan tangan itu membersihkan semua piring yang ada di wastafel dengan cepat. ia merasa kagum karena sebagai seorang lelaki Tito bisa melakukan hal kecil seperti ini.


Meskipun ia belum bisa mencintai Tito sepenuhnya, tapi rasa kagumnya tak bisa ia sembunyikan. "Apa jangan-jangan dia cari perhatian supaya aku bisa mencintainya? Soalnya aku tahu dulu Tito itu nggak suka mengerjakan pekerjaan yang kayak gini," gumah Santi dalam batinnya.


"Kamu sedang memikirkan apa, San?" tanya Tito yang baru saja selesai menyiapkan tugasnya. Ia mengeringkan tangannya dengan lap.


"Nggak, nggak papa kok," jawab Santi. Kamu mau pergi kerja sekarang?" tanya Santi mencoba mencairkan suasana agar Tito tidak terlalu penasaran dengan apa yang baru saja ia lamunkan.


"Yah, aku mau berangkat kerja hari ini. Kamu baik-baik di rumah, ya! Ingat nggak usah terlalu capek-capek bekerja. Biarkan asisten rumah tangga yang akan mengerjakan semuanya. Jadi aku minta tolong kamu jangan terlalu capek."


Tito mendekati Santi lalu mencium keningnya. kemudian dia pergi ke kamar dan keluar lagi sembari menenteng tas kerjanya. Santi mengejarnya sampai ke teras, lalu mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut.


"Maaf ya, kalau aku belum bisa mencintaimu sepenuhnya. Tapi aku akan menjadi istri yang baik untukmu." Santi lalu merapikan dasi Tito. kemudian Tito masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya hingga keluar dari gerbang. Tak lupa Santi melambaikan tangan kepada Tito dan Titopun membalasnya.


"Hati-hati, mas!" ucap Santi sedikit berteriak yang diangguki oleh Tito dari dalam mobil.


Sepeninggalnya Tito, Santi kembali masuk ke dalam rumah.


"Astaga, aku lupa memasukkan kotak makan siang mas Tito ke dalam tasnya. Bagaimana ini?" pekik Santi. Lalu ia meraih ponselnya yang berada diatas meja makan kemudian mencoba untuk menghubungi Tito, tapi yang dihubungi tidak menjawab panggilannya.


"Lebih baik aku antar saja ke kantor," gumam Santi.


Ia baru tersadar kalau ternyata dirinya belum mandi.


"Aku mandi dulu deh, habis itu baru aku pergi ke kantor mas Tito," ucapnya pada dirinya sendiri. ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja di dekat kotak nasi yang sudah ia sediakan untuk Tito.


Dengan langkah cepat, Santi menuju kamar lalu ia meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Setengah jam kemudian Santi sudah selesai membersihkan diri. Ia sedang duduk di meja rias dengan pakaian lengkap sambil memoles sedikit make up ke pipinya. Tak lupa ia mengoles sedikit perona warna merah muda di bibirnya.

__ADS_1


"Selesai," gumamnya.


__ADS_2