Mama Superku

Mama Superku
Anak Bunda Pasti Kuat


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Tha?" tanya Dena saat dia baru tiba di ruangan Eril. Ia meletakkan handbag-nya diatas meja lalu mendekati ranjang Eril.


"Seperti yang kau lihat, Den. 1 hari ini dia sudah kejang sebanyak tiga kali." Aletha menatap tubuh Eril yang lemah, begitu juga dengan Dena.


"Anak bunda yang kuat, ya! Ada mama dan bunda di sini yang menemani kamu. Bunda yakin kamu sanggup melewati masa ini. Bunda berdoa agar anak bunda segera pulih." Dena memeluk tubuh Eril, lalu melepaskannya lagi. Ia menarik kursi ke dekat ranjang Eril lalu duduk di samping Aletha.


"Kenapa kamu baru kabari aku, Tha?"


"Aku nggak kepikiran sama sekali, Den. Aku uda keburu panik. Aku nggak tau harus ngapain."


"Untung aja aku ke rumah kamu, lalu Tante dan om menjelaskan semuanya. Lain kali kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama aku. Wajib!"


"Tapi, Den. Kaukan sudah mulai sibuk semenjak menikah dengan dokter Ariel. Aku nggak yakin kau ada waktu. Dan aku juga nggak kepikiran menghubungimu."


"Tapi kamu dan Eril sudah aku anggap sebagai keluarga aku. Mas Ariel juga sama, Tha. Kalian berdua kerjasama ya nggak memberitahuku?" tanya Dena penuh selidik. Alisnya naik dan keningnya berkerut. Matanya melotot.


"Aku nggak ada kerjasama dengan dokter Ariel. Aku hanya memang agak panik, Den."


"Coba ceritakan bagaimana awalnya dia kejang!" pinta Dena.


"Awalnya Eril demam, lalu kubawa ke klinik dekat rumah. Demamnya turun setelah dia minum obatnya, tapi tiba-tiba dia kejang. Kami semua panik. Mama dan nyaranin untuk membawanya ke rumah sakit. Dan sampailah di sini. Untung saja mereka sudah mengenal kami, jadi tidak susah payah mengurus administrasinya. Dan dokter pun sigap menanganinya."


"Trus kata dokter apa?"


"Masih menunggu hasil lab, Den. Kemungkinan besok akan ketahuan hasilnya. Aku takut, Den. Aku...."


"Kamu harus kuat. Kamu harus sabar. Aku yakin kau bisa, Tha. Kalau kau lemah begini, yang ada Eril juga nggak semangat. pasti terasa lho sama dia kalau kau sedih begini," ucap Dena menguatkan Aletha.

__ADS_1


"Kasihan dia, Den. Untuk kesekian kalinya dia harus diinfus. Jarum suntik sudah menusuk kaki dan tangannya dimana-mana. Bahkan tadi sempat beberapa kali gagal. Hatiku teriris melihatnya, Den." Aletha mulai terisak. Tapi ia tahan agar tak sampai mengeluarkan suara.


Dena melihat kaki Eril sebelah kanan yang terpasang oleh infus. "Semangat ya, nak. Bunda mendukungmu."


Mata sayu Eril masih terpejam Semenjak dia mengalami kejang, hanya tidurlah yang selalu ia lakukan. Bermain? Tidak sedetikpun Bahkan yang biasanya suka tertawa, kini tidak sama sekali. Tak sedikitpun suara yang keluar dari bibir mungil Eril.


Hati Aeltha sungguh terluka saat mengingat keceriaan Eril dalam kesehariannya. Bahkan untuk duduk saja, Eril harus dibantu. Dan harus ada penopangnya di belakang punggungnya.


Tiada pernah berhenti air mata Aletha berderai. Sampai ia lupa untuk makan bahkan minum. Hatinya selalu fokus dan fokus kepada sang anak. Sedikit sedikit melirik botol infus. Sedikit sedikit melirik kakinya yang diinfus, takut bila sampai selang infus tak mengalir semestinya karena terjepit atau karena tertimpa.


"Aku bawakan makanan untukmu. Kamu makan dulu, ya! Supaya kamu tidak sakit, tenagamu pun kuat saat merawat Eril. Ingat, kalau kau lemah siapa yang akan menjaganya? Apa mungkin kau mengharapkan Tante dan om yang sudah tua untuk menginap di sini menjaganya?"


Aletha menggeleng. "Maka dari itu, kau yang harus berjuang. Kalau kau tak makan dan tak minum yang ada kalian berdua akan dirawat. Dan kalian akan beda ruangan. Terpisah dong sama Eril. Itu yang kamu mau?"


Lalgi-lagi Aletha menggeleng. Apa yang diucapkan Dena itu benar adanya. Ia merenungkan setiap ucapan Dena.


"Masih baru sebulan, Tha," jawab Dena sambil tersenyum. Ia mengusap perutnya yang masih datar.


"Jaga kandungan kamu ya, Den. Ingat jangan sembarang makan, jangan sembarang minum. Dan jangan begadang, jangan terlalu capek. Kasian baby-nya nanti," ucap Aletha. Kini jadi dia yang menasihati Dena.


"Tenang, Tha. Itu semua sudah pasti aku lakukan. Apa kau lupa kalau suamiku adalah dokter? Hahaha!" Dena dan Aletha terkekeh.


"Iya memang dokter, tapi bukan dokter kandungan. Dia dokter spesialis anak. Hahaha!"


"Nah gitu dong. Itu baru namanya Aletha sahabat aku. Tersenyum seperti ini membuat dirimu akan lebih tegar. Nggak ada gunanya kamu terlalu memikirkan, yang penting kamu doakan dan segala obat yang diberi dokter berguna untuk kesembuhannya."


"Iya, Den istrinya pak dokter," celetuk Aletha.

__ADS_1


Kedua sahabat itu memamerkan senyumnya masing-masing hingga menampilkan gigi putih glowing mereka.


"Selamat sore, bu. Ini makan malam baby Erilnya," ucap salah seorang petugas pengantar makanan yang masuk ke ruangan tersebut. Kedua sahabat itupun berhenti berceloteh.


"Saya letakkan diatas meja ya, bu," ucap perempuan itu. Sepertinya dia masih gadis. Tubuhnya langsing dan kulitnya putih. Ia mengenakan hijab yang membuta dirinya tampak anggun dan bersahaja. Wulan tertulis dalam Id card -nya.


"Trimakasih mbak Wulan," ucap Dena menjawab wanita yang sedang meletakkan kotak makan malam Eril di atas meja.


Seutas senyum memekar dari bibirnya. "Sama-sama ibu. Saya permisi," ucapnya tersenyum lalu meninggalkan ruangan itu.


"Cantik ya dia." Dena memuji petugas pengantar makanan tersebut. "Pantasan mas Ariel senang bekerja di sini," celetuk Dena cemberut. Bibirnya mengerucut.


"Iya. Terus kenapa kalau dia cantik? Jangan bilang kamu cemburu. Hahahaha! Dena, Dena. Ada+ada saja kamu. Belum tentu mereka bertemu. Ariel sibuk di ruangannya, sibuk dengan pasien-pasiennya, atau mungkin sibuk di ruang operasi." Aletha menghentikan ucapannya.


"Sedangkan Wulan, dia bekerja di bagian gizi, peluang mereka bertemu sedikit, Den. Kamu, itu aja pake acara cemburu segala." Aletha menggoda Dena.


"Lagian kalau memang dia mau pasti dia uda pilih tuh salah satu petugas disini. Tapi buktinya dia milih kamu. Iya kan? Dari awal aku uda merasa, tapi aku diam-diam saja. Dan ternyata betulan. Kalian berdua memang jodoh," ucap Aletha memamerkan senyumnya yang mengembang bebas. Seolah beban di pundaknya hailang entah kemana.


"Kau merasa dari awal dan kau diam-diam aja?" Dena sedikit memekik.


"Assist, nanti dia bangun," ucap Aletha mengisyaratkan Dena untuk memelankan suaranya.


"Ma-maaf, aku terbawa suasana." Dena tersipu malu.


"Kalau kamu cemburu sih nggak apa-apa. Itu tandanya kamu benar-benar mencintai dokter Ariel." Aletha menyambung obrolannya yang sempat terpurtus.


"Iya, iya, iya. Kamu yang lebih berpengalaman. Aku ini apalah." Dena merendah.

__ADS_1


__ADS_2