Mama Superku

Mama Superku
Revan Kabur


__ADS_3

"Yok, jalan!" perintah Bilson kepada Radot yang sudah siap dengan setir di belakang kemudi.


"Siap, boss!" jawabnya singkat dan tegas. Lalu mengunjak pedal gas melalukan perintah sang boss. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di keramaian kota, disambut oleh hiruk pikuknya jalan raya. Seolah mobil-mobil, sepeda motor atau kendaraan lainnya menyambut mereka dengan riang.


"Gimana menurutmu?" tanya Bilson tiba-tiba. Pandangannya lurus ke depan.


"Nggak berat sih menurutku pekerjaan yang diberikan oleh nona Dena. Dan ternyata nona Dena baik, ya. Tak seperti yang kubayangkan." Radot memuji.


"Iya, aku bisa melihatnya tadi. Syukurlah kalau begitu. Aku bisa lega sekarang. Tapi aku masih tidak rela kalau Dira harus menjadi tulang punggung bagi anak dan kedua orang tuanya. Apalagi kau tau kan, orang tuanya sudah tua begitu."


"Ini semua gara-gara Revan sialan itu boss. Untunglah dia di penjara sekarang. Kalau tidak penderitaan nona Aletha tidak akan berakhir."


Tiba-tiba Bilson merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku celananya,yang hampir saja membuatnya melonjak. Untung kepalanya tidak terbentur ke atap mobil.


Ponselnya bergetar, tak ada nada dering yang terdengar. Sengaja ia mematikan dering ponselnya. Niatnya sih agar tak ketahuan saat mereka menguntit Aletha tadi. Bisa saja kan ponselnya berbunyi saat mereka mengintip di butik?


"Nomor yang tak dikenal. Siapa sih?" gumamnya.


"Hallo!" sapanya kepada orang yang meneleponnya.


"Apa? Baiklah, saya akan mengerahkan anak buah saya untuk mencarinya. Trimakasih, pak." Sambungan teleponpun terputus.


"Ada apa, boss?" tanya Radot penasaran. Bilson tak menjawab, dia masih mengotak-atik ponselnya dengan tampang serius. Radotpun diam dan tak berniat untuk bertanya lagi. Namun dalam hati ia yakin ada sesuatu yang genting terjadi. Kalau tidak, mana mungkin ekspresi bossnya bisa sampai seperti itu.


"Hallo! Kerahkan semua anggota untuk mencari keberadaannya! Revan kabur dari penjara." Begitu penuturan Bilson lewat ponselnya. Lalu ia mematikan ponselnya setelah selesai berbicara dengan seseorang.


"Apa, boss? Revan kabur?" tanya Radot terperanjat. Kok bisa? Gimana caranya dia kabur sementara polisi memperketat keadaan?"


"Sudah, nggak usah kita bahas gimana caranya. Sekarang kita fokus melacak keberadaannya. Aku takut nanti dia malah datang ke rumah Aletha. Kau tau kan tinggal om, tante sama Eril yang ada disana. Aku nggak mau mereka kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Baik, boss." Begitu sahutan Radot, lalu melajukan mobil dengan cepat.


"Kita ke rumahnya Aletha dulu!" ucap Bilson serius.


Sementara dia Dena Busana, Aletha sedang sibuk menyusuri butik. Karena ia sudah memutuskan untuk bekerja disini, ia mencoba berkenalan dengan beberapa pegawai yang ada di butik. Tentunya didampingi oleh Dena.


"Sudah, kamu duduk saja. Aku bisa sendiri kok berkeliling. Aku mau lihat-lihat. Takutnya kamu kecapekan nanti," celetuk Aletha menolak Dena untuk mendampinginya.


"Aku nggak apa-apa kali. Kamu ihh, memangnya aku orang sakit? Kayak kamu nggak pernah hamil saja," gerutu Dena.


Merekapun kembali berjalan sambil bertegur sapa dengan pegawai yang sedang sibuk melayani pelanggan, sambil sesekali mereka berhenti untuk memperkenalkan Aletha kepada mereka.


"Kamu lanjut dulu, ya! Aku sedikit lelah."


"Tuh kan, apa kubilang. Kamu duduk disini, ya. Aku sendiri juga bisa kok." Aletha memberikan sebuah kursi untuk diduduki Dena. Lalu, ia kembali keliling butik.


Tiba-tiba ponselny berdering. Membuatnya menghentikan langkahnya. Lalu merogoh handbag-nya. Dan tangannya keluar sambil menggenggam sebuah ponsel yang masih asyik bernyanyi.


Polisi berpesan kepada Aletha agar berhati-hati dan selalu siaga bila suatu saat Revan mendatangi kediamannya. Polisi juga berjanji akan segera menangkap Bilson dan membawanya kembali ke dalam penjara.


Dena melihat ekspresi Aletha yang sduah panik dari kejauhan. Lalu dengan hati-hati, Dena berjalan menghampirinya. "Ada apa, Tha?" tanyanya sambil memegang lengan Aletha.


"Revan kabur dari penjara, Den," jawab Aletha cepat. Ia menelan salivanya.


"Kok bisa?" tanya Dena nggak kalah terkejutnya.


"Aku juga nggak tau, Den. Aku takut dia datang ke rumah dan menyakiti mama, papa dan anakku," ucapnya mulai khawatir. Terpancar jelas di wajahnya kalau ia merasa ketakutan. Bukan takut bila Revan melukainya, tapi takut bila sampai Revan mengambil Eril darinya.


"Aku duluan, ya, Den!" serunya sambil berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Dena Busana, padahal Dena belum sempat menjawabnya.

__ADS_1


"Taksi!" serunya saat sebuah taksi melintas dari hadapannya. Kemudian masuk ke dalam taksi itu setelah supir taksi menghentikan mobilnya.


"Jalan, pak!" ujarnya pada pak supir.


"Kemana, bu?" tanya pak supir yang kelihatan sudah berumur 40 tahunan.


Aletha menyebutkan alamat lengkapnya dan diangguki oleh pak supir lalu tangannya sibuk mengarahkan kemudi.


"Pak, bisa lebih cepat nggak?"


"Baik, bu." Pak supir mengangguk dan kemudian mempercepat laju mobilnya melewati puluhan mobil atau sepeda motor yang tadinya masih berada didepan mereka.


Aletha berlari-lari masuk ke dalam rumahnya setelah taksi itu menurunkannya tepat di depan rumahnya.


"Mama, papa, Eril!" jeritnya dengan napas terengah-engah. Padahal dia masih di depan gerbang. Namun ia sudah tak sabar berjumpa dengan mereka, apalagi melihat gerbang rumah yang sudah terbuka lebar.


Tak ada sahutan dari dalam rumah. Membuat Aletha semakin panik lalu mempercepat langkahnya sampai ia masuk ke dalam rumah itu.


Masih memanggil-manggil mama, papa dan juga Eril. Namun tetap tak ada sahutan. Tiba-tiba matanya tertuju kepada papa Irwan dan mama Vina yang sudah tergeletak di lantai dengan tangan dan kaki terikat beserta mulut yang dibekap.


Cepat-cepat Aletha membuka ikatan tangan dan kaki mama dan papanya, begitu juga dengan kain yang membekap mulut mereka ia lepaskan.


Namun mama dan papanya tidak meresponnya. Ia memanggil-manggil tapi tetap saja tak ada sahutan. Bahkan ia guncang-guncangpun tetap saja tak ada reaksi.


Ia memegang pergelangan tangan mereka untuk memastikan nadinya. "Syukurlah, masih berdenyut," gumamnya. Ia masih tetap berusaha membangunkan kedua orang tuanya itu meski dalam kepanikannya. Dan bertanya-tanya dimana keberadaan Eril.


Sambil menggenggam ponselnya yang ia letakkan di telinganya, ia berjalan menyisiri seisi rumah mencari keberadaan Eril. Mulai dari kamar Eril, kamar mama dan papanya, kamarnya sendiri, kamar mandi, dan kamar bermain Eril. Tapi ia tak menemukan Eril di sana.


Wajahnya kini sangatlah pucat, keringat membuat bajunya basah kuyup.

__ADS_1


"Hallo, Tha. Ada apa? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya seseorang dari ujung ponselnya. Ya, ternyata Aletha menghubungi Dena. Namun ia sampai linglung hendak menjawab apa.


__ADS_2