
"Kamu Revan atau Bilson?" tanya Aletha setelah membuka pintu rumahnya. Lelaki itu terpaku atas pertanyaan Aletha.
"Maaf, aku hanya, hanya agak ragu. Karena aku tau mas Bilson, mantan suamiku itu. Pasti dia akan melakukan berbagai cara agar bisa bebas dari penjara." Kakinya perlahan mundur, takut bila itu adalah Bilson yang ia anggap sebagai suaminya selama ini.
"Aku Bilson yang sebenarnya, Dira. Apakah kamu sudah melupakanku?" Ia mencoba meyakinkan Aletha. Ditatapnya mata itu dengan lekat, dan ada ketakutan ia temukan disana.
"Maaf, ada urusan apa kamu kesini, mas? Saya sedang sibuk," ucapnya sedikit ragu. Menerima Bilson bertamu, sedikit membuatnya bergidik. Baginya, tak mudah ia melupakan masa lalunya bersama Bilson, tapi ia merasa canggung untuk berbicara seperti sedia kala.
"Apa aku salah kalau aku ingin bertemu denganmu? aku Bilson yang sebenarnya aku bukan Revan."
"Iya, aku tahu. Makanya aku tanya ada urusan apa mas datang ke sini?"
"Aku ingin menanyakan keadaanmu pasca perceraian mu dengan mantan suamimu."
"Aku dan anakku baik-baik saja jadi mas enggak usah khawatir."
"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" tanyanya sedikit ragu.
"Mas mau bicara apa? Kalau tidak penting lebih baik mas pulang saja. Aku sibuk, pekerjaanku sudah menumpuk semua di dalam," jawabnya ketus.
"Kamu nggak usah pura-pura ketus samaku, aku tahu kau ini masih mencintai aku kan? Masih ada kan cintamu didalam hatiku untukku? Bolehkah aku untuk memintanya lagi supaya hubungan kita kembali seperti dulu?" batin Bilson.
__ADS_1
"Dira, aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku masih mencintai kamu bahkan masih sangat mencintai kamu. Bertahun-tahun aku berjuang supaya aku bisa mendapatkan momen seperti ini. Bertahun-tahun aku hidup dalam kesendirian ku tanpa mama, tanpa papa apa dan tanpa dirimu."
Aletha terkejut mendengar kalau Bilson tanpa mama dan tanpa papa. Direnunginya sejenak kemudian dia putuskan untuk berkata.
"Tante dan om memangnya kemana? Aku udah lama juga nggak mendengar kabar dari mereka," batin Aletha. Sekelebat bayangan kedua orang tuanya muncul dalam benaknya.
"Dan kau sudah tau Dira, kalau dia yang bernama Revan itu sudah merenggut semua yang kupunya, merenggut semua kebahagiaan yang aku miliki. Seharusnya aku yang ada di sampingmu waktu itu mengucapkan janji suci di hadapan para saksi. Tapi apa yang terjadi? Semua tak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Dan kau bahkan tidak menyadari kalau orang yang berada disampingmu itu adalah bukan aku.
"Jadi maksudnya, mas menyalahkan aku gitu?"
"Mas nggak ada maksud menyalahkan kamu Dira, tapi masalahnya mas merasa terpukul saja kehilangan segalanya dalam waktu sekejap. Disaat masbsudah menyiapkan hati untuk berumah tangga denganmu, tiba-tiba si Revan jahat itu datang dan merenggut segalanya." Bilson mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
"Aku hampir menyerah waktu itu Dira, aku nggak tahu harus bagaimana, dan kamu tahu apa yang kurasakan ketika aku terjatuh ke jurang?" Pertanyaan Bilson membuat Aletha sedikit menajamkan telinganya agar dapat mendengar dengan jelas karena suara Bilson sedikit bergetar dan makin lama makin pelan.
"Lalu ke mana saja mas selama ini? Apakah mas tidak bersama dengan orang tua mas?" tanya Aletha penuh selidik. Ia mulai penasaran dengan kisah hidup Bilson pada masa itu.
"Orang tua mas sudah pergi untuk selamanya. Dan kamu tahu siapa dibalik semua ini? Siapa lagi kalau bukan Revan," ucapnya geram.
"Mas Revan? Kok bisa mas? Gimana ceritanya?"
"Selama ini aku merintis sebuah karir sembari aku juga mencari tahu tentang bagaimana hidupmu dan juga tentang orang tuaku. Dan aku menerima kabar bahwa ternyata papa dan mama sudah pergi untuk selamanya. Itu semua karena ulah Revan. Dia menjual semua apa yang mama dan papa punya. Hal itu membuat papa masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal."
__ADS_1
Bilson menelan salivanya dengan perlahan-lahan, lalu melanjutkan lagi ucapannya.
"Sementara mama juga meninggal karena penyakitnya yang kambuh dan sudah tidak bisa tertolong lagi. Pada waktu Mama dan papa sakit Revan tidak peduli sama sekali. Bahkan dia meninggalkan mereka di rumah sakit tanpa membayar biaya pengobatan." Air matanya mengucur deras bak air sungai yang mengalir tanpa henti. Terbayang di benaknya bagaimana rasanya perasaan kedua orang tuanya saat di abaikan oleh seseorang yang bernama Revan dan mereka menganggap itu adalah anaknya.
"Sabar ya mas. Dan.... mas Revan sudah mendapatkan ganjarannya. Seumur hidupnya dia akan mendekam di penjara."
"Tapi itu nggak sebanding dengan apa yang sudah dia perbuat. Dia telah memisahkan aku dengan orang-orang yang kusayangi. Dan kau tahu mengenai kedua orang tuamu?"
"Maksud mas Bilson gimana? Apakah Mama dan papa masih ada?" tanyanya penasaran. Pelipisnya berkerut dan alisnya naik ke atas.
"Ia, om dan tante masih ada. Tapi kamu nggak permah tahu kan ke mana mereka selama ini? Mereka disembunyikan oleh Revan, bahkan nyaris dibunuh. Tapi orang suruhan aku berhasil menyelamatkan tante dan om."
"D-di mana sekarang mama dan papa?" tanya Aletha penasaran. Rindu yang menggebu gebu sudah sangat membuncah ingin sekali bertemu dengan mama dan papanya yang setelah sekian lama berpisah.
"Mereka ada bersama aku. Bahkan tinggal serumah dengan aku. Waktu itu memang kalian tidak berjumpa, karena mereka sedang istirahat di dalam kamar."
"Benarkah? Tolong bawa kami ke sana mas! Aku ingin ketemu mama dan papa, aku ingin menunjukkan kalau mereka sudah memiliki cucu. Aku ingin menceritakan bagaimana selama ini kisah hidupku bersama dengan mereka. Dan aku ingin kami berkumpul kembali di rumah ini. Rumah yang menjadi satu-satunya kenangan dalam hidup kami dari aku kecil sampai sekarang."
"Kamu tenang saja. Aku pasti akan mempertemukan mu dan juga kedua orang tuamu. Bersiaplah!"
"Terima kasih mas. Kau sudah menjaga mama dan papa aku, bahkan kau juga sudah menjaga mereka selama aku tidak ada. Kau juga sudah menyelamatkan hidup mereka dari maut." Aletha terisak. Rasanya tangisnya tak bisa dihentikan. meskipun ia sudah berusaha untuk menghentikannya namun terlihat jelas bahwa aiK mata tidak bisa diajak kerjasama.
__ADS_1
"Aku menolong mereka karena aku menganggap bahwa merekalah yang kupunya sekarang. Aku menganggap mereka sebagai orang tuaku. Kamu kan tahu dari dulu aku sudah dekat dengan kedua orang tuamu."
"Sekali lagi terima kasih mas. Aku akan siap-siap dulu, aku juga mau siapkan Eril untuk bertemu dengan Oma dan opanya." Ia melangkah ke kamar. Dibiarkannya Bilson duduk di sofa sambil menunggu mereka selesai.