
"Le-tha!" Rintihan Dena bahkan memecah keheningan di rumah itu. Sementara dokter Ariel dengan sigapnya menelepon pihak rumah sakit agar segera datang.
Untung saja baby Eril sudah terlelap. Jika tidak, dia akan menangis sejadi-jadinya apabila ia melihat semua ini.
Hawa panas yang menyembul dari mulut sang Surya tak menyulutkan tekadnya untuk datang ke rumah pasien yang sedang membutuhkan pertolongannya saat ini. Meskipun usianya sudah mulai senja, namun semangat pengabdiannya kepada masyarakat tak luntur dimakan masa.
Tubuhnya yang kurus memperlihatkan dengan jelas keriput-keriput yang sudah menghiasi kulitnya. "Silakan, dok!" ujar dokter Ariel kepada dokter Denia yang baru saja tiba di rumah Aletha.
Kelihaiannya sudah mulai berkurang dari saat dia muda dulu. Hanya itu saja yang ia lakukan namun napasnya sudah terengah-engah. "Hhhhhuuuhh." Ia mendesah kuat hingga terdengar oleh dokter Ariel.
"Ada yang bisa aku bantu, dok?" tanyanya seraya menatap dokter senior itu lekat-lekat. Sebagai sesama dokter harus saling menjaga dan tak boleh mengambil tugas yang bukan hak ataupun kewajibannya. Karena semuanya sudah punya porsi masing-masing.
"Tidak, saya tak ingin dibantu. Berikan saja saya kursi dan juga air minum segelas," ketusnya tanpa basa-basi.
Dena dengan sigap beranjak ke dapur untuk mengambil air minum, dan diikuti oleh dokter Ariel.
"Kenapa ikutin aku sih?" Dena melihat suaminya itu dengan ekor matanya dari samping.
"Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Kalimat itu yang terlontar dari mulut dokter Ariel.
Mungkin ada benarnya juga apa kata-kata orang, bahwa dokter juga manusia. Selama di rumah sakit, ia selalu menasihati orang tua yang sedang mengandung, untuk tidak berleha-leha atau bersantai selama masa kehamilan. Kini giliran istrinya yang mengandung, dia malah terlalu membatasi gerakan sang istri. Terkadang hal-hal seperti itu membuat Dena jengkel.
"Hei, aku bukan orang sakit. Aku sehat dan aku masih mampu melakukannya. Uda ah, aku nggak suka dikekang begini." Dena menolak perlakuan berlebihan suaminya itu. "Ambilkan tuh kursi untuk dokter Denia!" imbuhnya lagi.
"Tapi sayang, aku...."
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau nggak, aku bakal ngambek nih." Kalimat inilah yang selalu berhasil membuat dokter Ariel akhirnya bungkam. Mau tak mau ia harus menuruti kemauan sang istri. Daripada ngambek, payah nanti. Jadi dia cari aman saja.
__ADS_1
"Ini, dok," tukas Dena seraya menyodorkan segelas air mineral hangat kepada dokter Denia.
"Trimakasih, cantik." Tangannya langsung meraih gelas itu dan diletakkannya diatas meja di samping ranjang.
"Kukira air minum tadi untuk buk dokter, eh ternyata malah diletakkan diatas meja." Dena bergumam dalam hatinya.
Dokter Ariel memberikan kursi tepat di belakang dokter Denia. "Ini kursinya, dok. Silakan duduk!"
Tanpa menunggu waktu lama, sang dokter langsung mendaratkan bokongnya dikursi tersebut. Lalu mengeluarkan seluruh peralatan dokternya dari dalam tasnya kemudian memeriksa Aletha.
Mama Vina dan papa Irwan harap-harap cemas menunggu penjelasan sang dokter. Keduanya terlihat sedang berdoa memohon kebaikan untuk putri mereka.
"Gimana, dok?" Dena yang langsung melontarkan pertanyaan itu sebelum papa Irwan dan juga mama Vina.
"Dia nggak apa-apa, kok. Semuanya normal. Tidak ada gejala apapun." Dokter menjelaskan.
"Lalu kenapa dia sampai pingsan begitu?" Mama Vina semakin penasaran.
"Setahu saya dia nggak suka minum begituan dok, tapi kalau soal makan saya kurang tau." Dena ikut menjawab.
"Dua hari ini kan dia sibuk, termasuk insiden kemarin. Mana ada waktunya untuk makan," batin mama Vina.
"Tolong ya, bu. Pola makannya harus dijaga, jangan sampai meminum sesuatu jika perut belum terisi. Termasuk minuman yang ada serbuk-serbuknya gitu. Memang sih murah, tapi nggak bagus untuk kesehatan."
"Baik, dokter. Trimakasih atas penjelasannya," sahut mama Vina.
Sepeninggalnya dokter Denia, mereka sibuk mempersiapkan segalanya untuk Aletha, termasuk makan dan minum yang sempat terbengkalai akhir-akhir ini. Dokter Ariel dan Dena bagiannya memasak sup untuk Aletha, sementara mama Vina dan papa Irwan menjaga Aletha dan juga baby Eril yang sedang terlelap di ranjang yang sama.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu menatap putrinya dengan rasa iba. Baru saja mereka dipertemukan kembali, tapi ada saja hal-hal yang selalu mengusik kebahagian mereka. Terutama kegilaan yang diciptakan oleh Revan yang bahkan hampir merebut kebahagiaan Aletha secara keseluruhan.
"Lihat, pa. Putri kita menangis." Diusapnya butiran bening yang jatuh nyaris ke telinga Aletha.
"Sakit banget yang ia rasakan, sampai dalam keadaan terlelap pun air matanya jatuh. Sabar, ya sayang. Pasti kamu akan kuat melalui semua ini," ujar papa Irwan.
"Aku ingin membantu anakku, tapi bagaimana caranya? Aku sudah tua, bahkan sering sakit-sakitan. Tenaga semakin lama terkuras habis. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?" Mama Vina terisak.
.
"Hanya doalah yang bisa kita panjatkan untuk anak dan cucu kita. Aku tau mereka adalah orang yang kuat, pasti bisa melaluinya sampai mereka tuntas dan kembali bangkit tersenyum seperti sediakala."
"Aku juga, kalau boleh meminta kesehatan dan umur panjang, aku bisa melihat putriku dan cucuku bahagia baru deh aku pergi dengan tenang," tukas mama Vina dengan air mata yang masih menetes, namun tanpa isak tangis seperti sebelumnya.
Papa Irwan membawa mama Vina kedalam dekapannya bahkan sangat dalam. Membiat mama Vina semakin menangis tersedu-sedu. Padahal tadi sudah mulai mereda. Apa memang sebagian orang begitu ya? Maksud hati ingin mendiamkan malah makin menangis.
Ahh, entahlah hanya mereka yang tau. Yang jelas mereka merasa tenang saat berada dalam pelukan. Karena pelukan bisa menenangkan dan menghangatkan.
"Tante, om, kenapa? Ada apa ini? Kok menangis?"
Pasangan suami istri itu masih saling mendekap, mencoba saling mengaliri kekuatan terhadap pasangannya masing-masing.
"Ng-nggak apa-apa nak, Dena. Kami hanya sedang memikirkan Aletha dan juga Eril. Kami harap mereka akan hidup bahagia kelak. Itu doa kami sebagai orang tua." Papa Irwan melepaskan pelukannya.
"Amin. Saya juga sebagai sahabat, ingin yang terbaik untuknya. Sudah cukuplah penderitaan yang ia alami selama ini. Saya yakin sebentar lagi mereka berdua akan mendapatkan kebahagiaa." Diletakkannya air minum yang ia bawa dari dapur diatas meja.
"Saya sudah nggak kuat melihatnya harus diterpa luka, luka dan luka. Beruntung orang yang melukainya telah masuk penjara. Dan semoga dihukum sesuai dengan perbuatannya," imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Trimakasih nak Dena, karena kaulah selama ini yang sudah menjaga putri dan cucu kami. Aletha sudah menceritakan segalanya. Mulai dari dia lahiran, sampai keluar dari rumah sakit bahkan sampai saat ini. Kau selalu ada untuknya."
"Tante, tante nggak usah berterimakasih kepadaku. Aku sudah menganggap tante, om, Aletha dan semuanya sebagai keluarga aku. Jadi, aku senang melihat semuanya bahagia."