
"Ada apa?" tanya Sandra santai.
Ia menyenderkan punggungnya di kursi Kafe sambil meneguk jus jeruk yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Mas Bilson tadi ketemu kamu mau bahas apa?" tanya Santi langsung.
"Yah biasa lah. Kamu tau kan kalau kita itu rekan bisnis. Memangnya kenapa?" tanya Sandra penasaran.
"Nggak. Nggak apa-apa." jawab Santi.
Santi tiba-tiba terdiam. Ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan kepada Sandra.
"Lho, katanya mau cerita? Kok kamu malah ngelamun?" tanya Sandra mengagetkan Santi.
"I-iya, sorry." jawab Santu gagap.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Sandra penasran.
Santi menceritakan mengenai pertemuannya dengan Tito Kardalis dan juga mengenai pertanyaan yang diberikan.
"Berapa lama kamu diberi waktu untuk menjawab?" tanya Sandra masih penasaran.
"Seminggu."
"Hah? Seminggu? Secepat itukah?" tanya Sandra.
Matanya terbelalak dengan mulut menganga.
"Iya, San. Makanya aku bingung. Gimana aku harus menjawab. Kamu ada usul nggak?" tanya Santi dengan wajah kusutnya.
"Mendingan kamu terima aja tuh lamaran si Tito." tukas Sandra langsung.
"Maksud kamu, San? Lalu gimana dengan mas Bilson? Aku kan cintanya sama mas Bilson. Ya nggak mungkinlah aku meninggalkannya!" celetuk Santi.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus gimana? Kamu tega melihat mamanya Tito meninggal gitu aja? Siapa tau setelah dilihat anaknya menikah, dia bisa lebih semangat lagi untuk sembuh." sahut Sandra.
Ayo, San kamu pilih aja tuh si Tito. Biar mas Bilson samaku. Hitung-hitung aku bisa dapat uang yang banyak. Hihihi. Tawa menyeringai Sandra dalam hatinya.
"Nggak tega juga sih, tapi kan aku nggak mungkinlah menikahi orang yang tidak mencintaiku. Dan akupun tidak mencintai dia." sahut Santi.
"Kamu yakin Tito nggak cinta sama kamu?" ujar Sandra.
Ia berusaha memprovokasi Santi agar Santi lebih memilih Tito dari pada Bilson.
"Yakinlah! Kita cuma teman dekat kok." sahut Santi cepat.
"Itu menurut kamu, San. Coba kamu pikir! Kenapa mamanya bisa memilih kamu bahkan memohon sama kami?"
__ADS_1
"Ya mungkin karena mamanya udah kenal aku. Dan aku juga sudah mengenal keluarganya." ucap Santi polos.
Santi Santi. Kamu terlalu polos. Aku yakin banget Tito itu ada perasaan sama kamu. Syukurlah bila memang Tito ada hati sama kamu. Senggaknya aku nggak akan kesulitan membuat mas Bilson meninggalkanmu. Batin Sandra.
"Benar juga sih. Tapi aku nggak merasa begitu. Sepertinya memang Tito ada perasaan sama kamu." ucap Santi.
"Aihh kamu lah. Itu namanya kamu menyuruhku untuk menerima Tito secara langsung." celetuk Santi.
"Harusnya kamu bersyukur, San. Ada orang yang mencintai kamu. Sedangkan aku?" tukas Sandra berpura-pura sedih.
"Semoga nanti kamu bertemu orang yang baik dan ganteng ya, San. Kamu jangan pernah patah semangat. Pasti akan ada nanti yang melamar kamu. Jauh lebih baik dari pada yang kamu harapkan." ucap Santi.
"Semoga saja. Makanya kamu terima itu lamaran si Tito supaya kamu tidak akan menyesal kemudian." celetuk Sandra.
"Nanti deh aku pikirkan. Tapi aku pertimbangkan juga kata-katamu. Makasih, ya." ucapnya polos.
Dasar Santi lugu banget. Tampang kaya tapi lugunya kayak orang desa. Hmmmmm. Semoga saja omonganku berhasil menyuntikmu. Batin Sandra.
"Gimana anak saya, dok?" tanya Aletha kepada dokter Ariel.
"Nggak apa-apa kok, bu. Ibu nggak usah terlalu panik begitu!" ujar dokter Ariel.
Aletha menenangkan dirinya sendiri.
"Kita lihat saja sampai beberapa hari ke depan. Bila si bayi tidak muntah-muntah ataupun diare, berarti besar kemungkinan tidak ada masalah. Semua baik-baik saja." jelas dokter Ariel.
"Benarkah, dok?" tanya Aletha masih belum yakin.
"Begini saja! ibu observasi dulu bayinya. Bila dia muntah-muntah atau diare sebaiknya langsung ibu bawa ke sini. Bila tidak terjadi hal tersebut, tidak perlu bawa ke sini lagi. Mulai hari ini ibu observasinya, ya!" tukas dokter Ariel.
"Baik dokter." jawab Aletha.
Dokter Ariel hendak meninggalkan ruangan karena sudah diberi kode oleh perawat bahwa pasien yang lain sedang menunggunya di ruang rawat.
"Lalu, kemungkinan apa yang akan terjadi kepada anak saya, dok. Tolong jelaskan, dok!" ujar Aletha.
Dokter Ariel menghentikan langkahnya. Kemudian menghampiri Aletha yang sedang menggendong baby Eril.
"Kemungkinan terburuknya adalah mengalami geger otak." ucap dokter Ariel lugas.
Aletha merinding mendengar penuturan dokter Ariel.
"Ada lagi yang ingin ibu tanya?"
Dokter Ariel melirik Dena yang sedang sibuk dengan peralatan baby Eril.
"Nggak, dok. Nggak ada. Trimakasih, dokter." ucap Aletha sembari menundukkan kepalanya.
"Sama-sama, bu." sahutnya lalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Kamu nggak usah cemas begitu. Yang penting kamu observasi dulu si ganteng ini. Kalau ada apa-apa baru kita ke sini lagi." tukas Dena.
Aletha mengangguk.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit itu.
"Oya, gimana rencana kamu selanjutnya?" tanya Dena saat mereka sudah di mobil.
Aletha menceritakan rencananya kepada Dena.
"Kamu hati-hati, ya! Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku!" tukas Dena.
"Semoga saja berhasil. Nanti kalau aku berhasil, aku akan mengirimkannya kepadamu lewat ojek online."
"Oke, siap! Aku akan share alamat lengkapku ke ponsel kamu nanti." ujar Dena.
"Oke." sahut Aletha singkat.
"Sebaiknya kuantar kalian pulang sekarang." tukas Dena.
"Nggak usah, Den. Kami sendiri aja." ujar Aletha.
"Lho, kenapa?" tanya Dena penasaran.
"Nanti mas Bilson lihat. Aku nggak mau dia juga mengincar kamu. Nanti rencana kita gagal." tukas Aletha.
"Memangnya Bilson sudah apain kamu sih kok sampai aku ngantar kalian juga kamu takutkan? Lagian aku bisa jaga diriku sendiri" tanya Dena.
Dena menaikkan Alis tebalnya yang rapi.
"Bukan itu maksudku, Den."
"Lalu?"
"Aku takut dia nggak akan membiarkanku bebas keluyuran apalagi dia tau bersamamu. Karena selama ini dia curiganya kamu yang sudah menghasutku. Aku takut kita jadi nggak bisa ketemu, Den." ucap Aletha.
"Ya sudah kalau memang begitu. Ada baiknya juga sih supaya dia mengira kamu nggak melakukan apa-apa. Kalau gitu aku antar kalian sampai dapat taksi."
Dena mendahului taksi yang ada di depannya. Lalu menghentikan taksi itu.
"Dadah ganteng bunda. Cup cup cup"
Dena mendaratkan ciumannya di ubun-ubun baby Eril. Ia sudah belajar mengingat bahwa bagian pipi tidak boleh dicium.
"Dah ndaaa!" sahut Eril.
Taksi yang mereka tumpangi pun melaju dengan kecepatan sedang. Aletha yang meminta.
Sementara Dena melajukan mobilnya untuk kembali ke kantornya. Lebih tepatnya sih ke butik yang baru dia rintis selama beberapa bulan ini. Tapi pelanggannya sudah banyak. Bahkan sampai kewalahan melayani permintaan mereka.
__ADS_1
Dena mempekerjakan beberapa karyawan, kasir dan juga OB. Masing-masing punya tugas yang harus dipertanggungjawabkan.