
"Coba rekam nanti. Kami ingin lihat apakah ibu bohong atau tidak. Ini rumah sakit, ibu jangan pernah main-main," tukas seorang perawat kepada Aletha di ruangan yang pernah menjadi saksi bisu tempat Eril berbaring lemah.
Saat ini, ruangan itu kembali menampung dua insan manusia ibu dan anak, dimana anaknya sedang berbaring lemah seperti saat kejadian beberapa waktu yang lalu. Ruangan yang masih tetap sama dari segi tatanannya pada setiap sudutnya.
Tapi kali ini, Aletha tidak sendiri, ia ditemani oleh Bilson, karena Bilsonlah yang membawa mereka ke rumah sakit ini. Rumah sakit yang menangani Eril saat Eril dilahirkan ke dunia ini hingga saat ia dirawat.
Tak pernah berhenti air mata Aletha mengalir melihat anaknya hanya bisa berbaring lemah dan.... akan kembali mengejang setelah beberapa jam kemudian. Bila dihitung, dalam sehari tubuhnya mengejang bisa mencapai 30 kali dengan durasi akurang lebih selama tiga puluh detik.
Pihak rumah sakit tidak mempercayai Aletha, karena saat mereka memeriksanya, Eril tidak mengejang dan ketika Aletha memanggil mereka dengan berlari, Eril sudah berhenti mengejang. Oleh karena itulah mereka meminta agar Aletha merekam saat kejadian Eril mengejang.
"Ayo, cepat rekam. Tolong bantu aku," pinta Aletha kepada Bilson. Buru-buru Bilson menyalakan kamera video diponselnya lalu mereka Eril yang sedang mengejang. Untung Bilson sedang menggenggam ponselnya, kalau tidak akan butuh waktu yang lama, bisa jadi mereka tidak akan bisa merekamnya.
"Sayang, ini mama, nak. Bangun, nak." Aletha histeris. Air matanya mengalir begitu saja lagi, setelah mengering beberapa saat yang lalu. "Nak, bangun. Mama mohon, sayang. Mama ada di sini untukmu," ucap Aletha dengan tubuh yang juga gemetaran.
Diguncang-guncangkannya tubuh mungil Eril yang kini tengah tidak sadar. "Tolong kabari ke suster kalau dia sedang kejang," pinta Aletha kepada Bilson lagi usai ia merekam.
Bilson langsung beranjak dan menemui perawat ke mejanya. "Suster, Eril k-kejang lagi," ucapnya terbata-bata.
"Ck," begitu reaksi salah seorang perawat lelaki itu. Ia menganggap kalau lelaki yang sedang menghampiri mereka hanya bergurau. Karena ini bukan keberapa kalinya ia melapor, bahkan berkali-kali.
Ini hari ketiga Eril terbaring di sini, namun tak sedikitpun perubahan yang terjadi. Masih tetap kejang meskipun dalam suasana yang tidak demam. Mereka juga tak bertemu dokter Ariel, karena dokter Ariel sedang diutus rumah sakit ke luar kota selama tiga bulan. Dena juga ikut bersamanya.
Akhirnya dengan langkah berat, Bilson meninggalkan perawat itu dan perawat itupun menyusul tapi masih berdecak. "Palingan juga nggak ada. Bikin repot saja," gerutunya pelan. Sehingga Bilson tidak mendengarnya.
__ADS_1
Biasanya saat Aletha memencet bel mereka akan ligat datang lalu memeriksa tubuh Eril, kemudian menjepitkan satu alat ke jari Eril. Pulse oxymetry, yaitu alat yang digunakan untuk memantau saturasi oksigen dalam darah. Itulah yang mereka jepitkan dijemari Eril.
Biasanya pengukuran dengan alat ini mudah dan tidak nyeri serta dapat mengetahui seberapa baik oksigen dikirimkan ke seluruh tubuh. Alat ini memiliki monitor yang memuat kadar oksigen (dalam persen, normalnya diatas 90%) dan frekuensi nadi (HR, normalnya 60-90x/menit). Alat ini terutama digunakan pada kasus sesak napas seperti penyakit jantung, penyakit paru dan lain sebagainya.
"Tapi kok dia tidak kejang. Dia malah tertidur pulas," celetuk perawat itu. Seperti biasa, ia mengecek segala sesuatu yang ia rasa perlu dicek.
"Ini rekamannya, pak," kata Bilson cepat. Ia sudah tidak tahan dengan sikap perawat yang tidak mempercayai mereka. "Coba bapak lihat, bapak akan tau kami bohong atau tidak." Wajahnya tampak kesal.
Penjaga pasien yang ada di ruangan itu tertegun dengan percakapan perawat dan Bilson tersebut. Sebagian dari mereka berdecak, ada juga yang menatap sinis perawat tersebut. Bahkan Bilson mengubah panggilannya yang tadinya suster jadi bapak.
Perawat yang lain datang dan turut serta menonton video rekaman dari ponsel Bilson.
"Tolong, pak kirimkan rekamannya ke saya," ujar seorang perawat cantik kepada Bilson usai mereka menonton video tersebut.
"Besok pagi beliau akan datang. Bapak dan ibu harus selalu standby menjaganya," ucapnya lagi sembari melirik Eril.
"Maaf pak, bu, karena kami sempat meragukan laporan yang ibu dan bapak berikan. Sekali lagi saya minta maaf," ucap perawat lelaki yang berdecak tadi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa bersalah banget karena sudah mengabaikan keluhan penjaga pasien. Ia menyesal.
"Sabar ya, bu. Semoga anak ibu lekas pulih," ucap seorang wanita kepada Aletha sambil memegang bahunya. Wanita itu kira-kira berumur 35 tahun. Dia juga sedang menjaga anak lelakinya yang sedang demam tinggi, batuk dan juga radang tenggorokan. Dokter bilang, ada infeksi di tenggorokannya.
"Terimakasih banyak, bu " sahut Aletha. Ia tak pernah menduga kalau ternyata mereka yang ada didalam ruangan ini punya beban dan tanggung jawab masing-masing terhadap pasien yang dijaganya. Dan rata-rata yang mereka jaga adalah anaknya sendiri.
Yang lainnya juga turut mendukung Aletha juga Bilson. Mereka menganggap bahwa Bilson dan Aletha adalah pasangan suami istri dan Eril adalah anak mereka. "Kalau ibu membutuhkan sesuatu, bilang saja ya. Kami akan membantu kalau kami bisa," celetuk seorang perempuan yang lebih muda dari ibu tadi.
__ADS_1
Aletha mengangguk sebagai jawaban. Matanya berkaca-kaca saat menemukan teman baru yang mau menemaninya disaat-saat seperti ini. "Mama sudah makan?" tanya seorang wanita lagi kepadanya. "Ini ada sedikit makanan, mama makan saja dulu. Biar ada tenaga untuk menjaga dedek bayi." Ia berujar sambil tersenyum ramah.
"T-terimakasih," ucap Aletha lalu meraih bungkusan kresek yang disodorkan padanya lalu tersenyum lagi kepada wanita itu. "Kalian semua sangatlah baik." Aletha sangat bersyukur menemukan keluarga baru disini.
"Sama-sama. Kita yang berada di ruangan ini harus saling membantu dan saling mendoakan supaya anak-anak kita cepat diangkat penyakitnya. Agar kita bisa Heppy lagi seperti sediakala." Senyum yang penuh harapan terpancar jelas dari wajah mereka.
Bilson meninggalkan ruangan itu karena ia baru tersadar kalau hanya dirinyalah lelaki yang ada disana. Biasanya para lelaki akan datang setelah malam, karena mereka akan bekerja dulu mencari nafkah untuk keluarganya.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah Aletha untuk mengambil pakaian bersih untuk Aletha dan juga Eril. Ia akan meminta bantuan kepada mama Vina untuk menyiapkannya.
"Suami ibu baik banget ya. Dia selalu disini untuk menjaga kalian. Sementara suami saya lebih memilih pekerjaannya." Ia mendesah.
"Nggak apa-apa, bu. Toh suami ibu kan bekerja, kalau tidak bekerja mau dari mana uang datang untuk biaya perobatan?" celetuk ibu yang lain.
"Betul sekali mama. Itulah tanggungjawab seorang suami, menafkahi istri dan anak-anaknya. Dan kita harus tulus merawat, menjaga dan membesarkan anak-anak kita. Karena itulah kewajiban kita sebagai seorang ibu." Wanita itu sambil tertawa kecil. Sementara yang lainnya mengangguk setuju dan Aletha membalasnya dengan senyuman.
"Kita harus sabar dan ikhlas, ibu-ibu. Maka kebaikan akan menghampiri hidup anak-anak kita, suami kita dan juga diri kita sendir."
"Amin," sahut mereka bersamaan.
.
"Kompak ya kita," celetuk seseorang. Lalu mereka akhirnya tertawa kembali.
__ADS_1