
"Apa? Ada seseorang yang wajahnya miripdengan Bilson?" tanya Dena heran.
"Iya, Den. Aku juga bingung. Kok bisa ya orangnya berbeda tapi wajahnya sangat mirip. Mirip banget." ucap Aletha.
"Atau jangan-jangan Bilson ada saudara kembar?" tanya Dena.
"Setauku sih nggak ada, Den. Dia hanya punya adik perempuan.. Dan adiknya nggak tau dimana sekarang." ucap Aletha datar.
Zaman sekarang sih nggak mungkin ada dua orang yang mirip kalau bukan saudara kembar. Apa mungkin ada yang operasi plastik? Tapi siapa? Siapa yang sudah menipu sebenarnya? Tanya Dena dalam hati.
"Ah sudahlah. Nggak usah bahas mereka. Biarkan saja mereka dengan masalahnya sendiri. Toh itu bukan urusanku. Yang penting sekarang perceraianku dengan mas Bilson harus segera ditindaklanjuti." ucap Aletha penuh semangat.
"Iya juga sih. Tapi bagaimana kalau ada hubungannya denganmu, Tha?" tanya Dena.
"Nggak mungkinlah, Den.
"I-iya kan bisa jadi, Tha. Zaman sekarang kan teknologi sudah semakin canggih." .
"Maksudnya?"
"Iya bisa jadi kan ada yang operasi wajah." ucap Dena datar.
"Oplas maksudmu? Ah masa sih, Den?"
Keningnya sampai berkerut.
"Iya kan bisa jadi, Tha. Kan kamu yang bilang kalau Bilson itu nggak ada saudara kembar. Ya nggak mungkinlah dia punya wajah yang mirip banget dengan orang lain. Sedangkan saudara kembar saja masih ada bedanya. Nah ini kamu bilang nyaris sama." celetuk Dena panjang lebar.
Iya juga sih. Batin Aletha.
"Sudahlah, Den. Biarkan saja! Toh itu bukan urusanku. Yang terpenting sekarang adalah aku akan menyelesaikan perceraianku mengenai mas Bilson dan juga mengenai warisan papa dan mama. Aku nggak mau dia menikmati semua itu. Dan kalau bisa, aku ingin dia juga dikeluarkan dari perusahaan." ucap Aletha yakin.
"Benarkah begitu? Apa kamu sudah pikirkan baik-baik?" tanya Dena.
"Sudahlah. Meskipun aku kurang paham di bagian perusahaan, tapi aku nggak mau perusahaan itu jatuh ke tangan orang seperti Bilson. Kan aku bisa merekrut seseorang nanti yang layak jadi direktur." ucap Aletha dengan pasti..
"Baguslah kalau kamu sudah mantap." tukas Dena.
Kring kring kring
Kring kring kring
Bunyi ringtone ponsel Dena membuat mereka jadi berhenti untuk berdiskusi.
"Hallo!" sapa Dena lewat ponselnya.
"....."
"Apa? Kok bisa?" tanya Dena sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Aletha tak kalah kaget dengan Dena.
"Baik. Aku akan segera ke sana." ucap Dena.
Panggilan telepon pun berakhir.
"Ada apa, Den? Kenapa kamu jadi panik begini?" tanya Aletha.
Sementara Dena sedang mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Kebiasaan Dena adalah apabila panik maka iya itu selalu menggigit kukunya. Maka pikirannya pun tak akan bisa berproses dengan normal.
"Kenapa, Den? Siapa yang nelpon barusan?" tanya Aletha.
Suaranya agak ditekannya berharap Dena mau menceritakannya. Namun yang ditunggu untuk bercerita maaih saja bengong.
"Denaaa!" panggil Aletha kuat.
"I-iya, Letha? Ada apa?" tanya Dena kaget.
"I-i-itu, Rimba, Tha. Rimba bilang kalau..."
"Kalau apa?" tanya Aletha penuh selidik.
Dena menarik napasnya kasar.
"Kata Rimba ada maling masuk apartemenku..." ucap Dena lirih.
"Oya? Siang-siang begini?" tanya Aletha.
"Ya udah. Kita ke sana sekarang!" ujar Aletha.
Aletha langsung menggendong baby Eril dan mengambil tas Dena lalu menyerahkannya pada Dena. Sementara tasnya sendiri sudah mendarat di pundaknya.
"Ayok!" tukas Aletha.
Dena menatap nanar ke depan sambil tangannya serius dengan setir. Pikirannya melayang-layang entah kemana.
Sementara di apartemen Santi, Bilson baru saja tiba di sana dengan nafas terengah-engahnya.
"Lho, mas? Apa yang terjadi? Kenapa mas keringat begitu? Ada apa, mas?" tanya Santi panik.
Bilson tak menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Ia sibuk menenangkan diri sambil menarik napasnya perlahan.
"Mas! Kamu kenapa? Ada apa dengan wajahmu? Kok kusut banget? Trus keringetan lagi, kayak habis lari pagi." ujar Santi.
Bilson mengusapkan kedua telapak tangannya.
"Nggak nggak apa-apa. Aku aku hanya kecapean aja." jawab Bilson.
"Memangnya mas dari mana? Bukannya ini masih jam kantor? Harusnya mas masih di kantor kan?" tanya Santi bingung.
__ADS_1
Sorot matanya menatap tubuh Bilson dari atas sampai ke bawah.
"Mas nggak lagi lari-lari kan?" tanya Santi memastikan.
"Nggak. Mas hanya kepanasan aja. Cuaca akhir-akhir ini panas banget ya." ucap Bilson mengelak.
"Ya udah, mas mandi dulu biar segar. Habii itu kita ngobrol." celetuk Santi.
Bilson menuruti ucapan Santi. Ia berjalan sempoyongan ke kamar mandi.
"Mas, ke kamar mandi nggak bawa handuk?" tanya Santi mengingatkan.
Bilson berhenti namun tak berniat sama sekali untuk mengambil handuk. Akhirnya Santi berinisiatif mengambil handuk dan melemparkannya ke Bilson.
Bilson meraih handuk tersebut dengan tangan kirinya dan masih saja tak bersemangat.
"Ya udah, mandi sana!" celetuk Santi.
Lalu Santi pergi ke dapur sepeninggal Bilson ke kamar mandi. Ia berencana membuat teh dingin untuk kekasihnya itu.
"Gimana kalau misalnya wanita gila itu tau tentanh diriku. Bisa-bisa aku nggak dapat apa-apa. Tidak tidak. Itu tidak boleh terjadi." gumam Bilson.
Ia menatap dirinya sendiri di cermin.
"Aaaargh!" pekiknya.
"Kenapa juga sih dia pake muncul segala. Bisa hancur nanti semua rencanaku yang sudah tersusun rapi. Arrrrrrgh sial!" umpat Bilson.
Pikirannya kacau balau. Selama ini ia merasa tidak ada halangan untuk semua rencananya. Namun setelah pria itu muncul dirinya merasa terancam. Bahkan ia meninju dinding kamar mandi karena merasa kesal dan emosi.
"Aku harus hati-hati dari sekarang. Termasuk dengan wanita gila itu. Aku harus membuat dia tetap yakin agar perceraian ini batal dan aku akan tetap di posisi ku sekarang." gumamnya geram.
Tangannya mengepal dengan sangat kuat. Giginya merapat sampai mengeluarkan bunyi.
Lalu ia menyalakan air.
"Hmmmm, semoga aja dengan teh es ini mas Bilson lebih segar, hatinya dingin dan dia bisa cerita sama aku." gumam Santi.
Tangannya mengocok teh manis yang baru saja ia seduh.
"Ceritanya gimana Rimba? Kenapa bisa ada maling masuk ke dalam apartemen? Memangnya kamu kemana?" tanya Dena setelah sampai di apartemennya sambil menatap tajam kepada Rimba.
"Maaf, nyonya. Saya pulang sebentar ke rumah. Dan saya tinggal bi Yani ada tadi di apartemen." jawab Rimba.
"Coba ceritakan, bi Yani!" ucap Aletha tenang.
Sementara Dena sudah uring-uringan. Baru kali ini ada maling yang masuk ke dalam apartemennya.
Bibi Yani pun menceritakan kejadian yang baru setengah jam yang lalu terjadi.
__ADS_1
"Bibi nggak luka kan?" tanya Aletha perduli.
Bibi Yani hanya diam. Namun ia merasa ketakutan melihat tatapan tajam dari sang majikan. Pasrah akan apa yang dilakukan sang majikan, mungkin inilah yang harus dia terima. Meskipun dia sudah berusaha melakukan tugasnya dengan baik.