Mama Superku

Mama Superku
Bye Luna


__ADS_3

"Sayang, kamu di sini? Kamu baik-baik saja, nak?"


Aletha menciumi pucuk kepala baby Eril lalu membawanya dalam pelukannya. Iabahkan sampai terduduk karena begitu semangatnya melihat putranya baik-baik saja.


Setelah puas dengan dekapannya, Aletha mengajak baby Eril berdiri lalu mengecek seluruh tubuhnya apakah ada sesuatu yang luka atau tidak.


"Nyonya tidak perlu khawatir. Tak seorang pun yang berani melukainya di sini. Saya sangat menjaganya dengan baik, nyonya." ucap Luna menjelaskan.


"Trimakasih, nona." ucap Aletha.


"Mama mama!" seru baby Eril.


Spontan Aletha memeluknya kembali.


"Saya akan membawa Eril pulang." ucapnya pada Luna. Masih memeluk Eril.


"Tapi nyonya, tuan nggak ijinkan nyonya pergi." sahutnya.


"Kenapa tidak ijinkan. Ini bukan rumah saya. Kami akan pulang sekarang."


"Tapi nyonya...." ucap Luna lirih.


Aletha sudah berjalan sambil membawa baby Eril dalam gendongannya.


"Dimana sih Aletha ini? Dari tadi dihubungi malah nggak diangkat-angkat. Aku juga sudah ke rumahnya, tapi nggak ada orang. Hmmmm, dimana sih dia?" gerutu Dena.


Ia sedang berjalan menuju parkiran. Ia baru saja keluar dari butiknya.


"Mas Bilson kemana sih? Ditelepon tapi nomornya nggak aktif. Gimana aku mau nyelidiki? Aihhh gimana sih aku?" gerutu Santi.


Ia berjalan sambil memandang ponselnya.


Bugg


"Hei mbak kalau jalan lihat-lihat! Jangan main ponsel mulu. Sakit nih." ujar Dena.


Ia memegang pelipisnya yang sakit karena berbenturan dengan kepala Santi.


"Ma-maaf, mbak. Saya saya nggak sengaja." ucap Santi.


Kepalanya masih tertunduk.


"Makanya mbak, kalau jalan itu pakai mata. Jangan pakai dengkul!" maki Dena.


Ia memandang kesal Santi yang masih tertunduk.


"Saya minta maaf, mbak." ucapnya lagi.


"Minta maaf yang benar dong, jangan....."


"Kamu? Kamu Santi kan?" ujar Dena.


"Dena? Dena? Kemana aja kamu selama ini?" tanya Santi.


Keduanya sama-sama bingung dengan pertemuan tak disengaja ini.


"Iya aku Dena. Gimana kabarmu San?" tanya Dena.


"Aku baik. Kamu?"

__ADS_1


"Sama." jawab Dena singkat.


"Kemana aja selama ini, Den?" tanya Santi penuh selidik.


"Aku di LN, San. Tapi sekarang aku uda fokus di sini. Kemungkinan aku nggak akan balik lagi ke sana." ucap Dena.


"Kangen loh Den masa-masa kita di butik dulu." ujar Santi.


Santi dan Dena pernah bekerja di butik yang sama. Mereka berdua punya bakat yang dalam dibidang desain. Meskipun dulunya mereka dari kampus yang berbeda, tapi saat di butik mereka bisa jadi dekat.


Bahkan sering bertukaslr ide mengenai model-model baju yang akan mereka desain. Tak jarang mereka dulu ngopi-ngolpi di kafe.


Kepergian Dena ke LN membuat keduanya tidak pernah ketemu. Santi juga kala itu sedang sibuk dengan bisnisnya bersama sang papa. Ia tak menggeluti desainnya lagi.


"Sibuk apa kamu sekarang?" tanya Dena.


"Nggak. Aku nggak ada kegiatan sama sekali. Aku sudah berhenti dari kantor papa." ucap Santi.


"Kenapa?" tanya Dena.


"Aku nggak sanggup, Den. Kamu taulah itu bukan bidangku. Aku nggak ngerti apa-apa soal perusahaan." jawab Santi.


"Lalu?"


"Papa kecewa sama aku, lalu mengusirku dari rumah..." ucap Santi lirih.


Akan merasa berat memang bila kita tetap maksa untuk melakukan hal yang tidak dimengerti sama sekali. Karena setiap manusia itu punya proporsi masing-masing.


"Sabar ya, San. Hmmmm, kamu mau kerja di butikku?" tanya Dena mencoba menghibur Santi.


"Apa? Jadi kamu ada butik di sini?" tanya Santi penuh semangat.


"Waaaaah, keren kamu Den. Di LN dulu kamu gimana? "


"Aku ada juga butik di sana, San. Tapi udah kutitipin ke teman aku yang tinggal di sana." jawab Dena.


"Teman kamu orang luar atau orang Indo, Den.


"Dua-duanya, San." jawab Dena cepat.


Dena melirik ponselnya.


"Sayang banget, Den kamu tinggalin bisnis kamu yang di LN...." gumam Santi lirih.


"Aku nggak nyesal sama sekali kok. Lagian impianku dari dulu adalah membuka butik di tanah kelahiranku ini. Kali aja ada yang mau belajar desain. Sekalian aku mau ajarin mereka." jelas Dena.


"Ooooh, gitu!" ujar Santi.


Ia juga sibuk dengan ponselnya.


Kemana sih mas Bilson ini? Masih nggak diangkat juga. Hmmmm. Batin Santi.


"Kalau kamu mau gabung kabari aku ya. Ini nomor teleponku." ucap Dena.


Ia menyodorkan ponselnya kepada Santi. Santi pun mencatat nomor Dena di kontak ponselnya.


"Oke. Nanti kukabarin." tukas Santi.


"Aku duluan ya, San." ucap Dena sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Masih di rumah megah Revan.


"Jika nyonya pergi, saya akan dapat masalah dari tuan." ucap Luna dengan tatapan sendunya.


"Nona tenang saja. Saya sudah bicara dengan tuan Revan dan beliau sudah mengijinkan kami pulang." ucap Aletha.


Alasan yang satu ini mungkin akan berhasil agar mereka bisa keluar dari rumah mewah itu tanpa kecurigaan dari semua orang yang ada di sana kecuali Revan dan anak buahnya yang sedang sibuk mengejar Bilson.


"Benarkah, nyonya?" tanya Luna.


"Anda meragukan saya? Apakah diwajah saya ada ketidakseriusan?" tanya Aletha.


Luna menatap wajah Aletha lekat-lekat.


"Baiklah, nyonya. Saya antar sampai ke lantai bawah ya!" ujar Luna mencoba menawarkan bantuannya.


"Nggak. Nggak perlu, nona. Saya bisa sendiri." sahut Aletha menolak.


"Baiklah, nyonya. Saya antar sampai depan lift saja kalau begitu." ujar Luna tak menyerah.


Bagaimana pun ia tak boleh lepas tangan dari tamu istimewa tuannya itu. Karena kalau terjadi sesuatu yang buruk maka tuannya akan memecat Luna.


Lift? Rumah ini ada liftnya? Hadehhh! Capek aku dari tadi berlari-lari menaiki tangga. Gerutu Aletha dalam hati.


"Baiklah. Karena nona masih ngotot. Saya nggak bisa nolak lagi." ucap Aletha..


Ia melepas pelukannya dari baby Eril lalu menggenggam erat jarinya.


"Ayo, sayang ikut mama! Kita pulang ke rumah kita." ujar Aletha.


Baby Eril menuruti mamanya.


"Putra nyonya sangat menggemaskan ya!" ujar Luna.


"Trimakasih, nona." tukas Aletha.


"Nyonya panggil saya Luna saja!" ujar Luna.


"Baiklah, Luna.' tukas Aletha.


Kini mereka sudah berada di depan lift sambil menunggu pintu lift terbuka.


"Trimakasih, Lun karena telah menjaga anak saya." ucap Aletha sambil tersenyum tipis.


"Sama-sama, nyonya. Itu sudah menjadi tugas saya." sahut Luna.


"Ucapkan salam sama nona Luna, sayang!" ujar Aletha pada baby Eril.


Baby Eril berlari dan meraih tangan Luna lalu mencium punggung tangannya.


"Dadah, no-na!" ujar baby Eril.


"Dadah sayang!" ujar Luna setelah dia memeluk tubuh baby Eril.


Baby Eril melambaikan tangannya saat pintu lift hendak tertutup kembali.


Luna dan pelayan lainnya melambaikan tangannya kepada Aletha dan juga baby Eril.


Semoga nyonya dan baby Eril bahagia selalu. Lirih Luna dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2