Mama Superku

Mama Superku
Mulai ke Butik


__ADS_3

"Bagaimana rencana selanjutnya, boss? Apakah boss diam saja tanpa menemui nona Aletha lagi?" tanya Radit kepada Bilson yang sedang duduk di sofa. Ia sedang menyeruput kopi yang dibuatkan oleh Radot atas permintaannya.


"Belum tau saya. Saya belum ada rencana apapun," jawabnya datar. Sedikitpun ia tak menoleh kepada Radot. Pandangannya lurus ke depan sembari tangannya memegang gelas kopi dan menyeruputnya lagi.


"Tapi nona kasihan, boss. Belum lagi kemarin tuan kecil dirawat di rumah sakit. Padahal, nona belum bekerja. Bagaimana dia akan membiayai hidup tuan kecil?"


"Berisik! Bisa diam nggak?" Bilson membentak. Radot terkejut mendengar suara menggelegar tuannya itu hingga membuat tubuhnya bergetar.


"Sandy!" Bilson berteriak. "Bereskan dulu si kircaci ini!" ucapnya lantang.


"Siap, boss!" sahut Sandy dari luar. Lalu datang tergopoh-gopoh dan menarik telinga Radot. Mau tak mau Radot mengikuti langkah Sandy agar telinganya tidak terlalu sakit ditarik.


"Makanya kalau punya mulut itu dijaga! Jangan ngomong seenaknya. Kena marah kan kamu!" ucap Sandy sedikit berteriak. Suaranya masih terdengar jelas di telinga Bilson. Bahkan sangat kuat menurutnya.


"Bisa diam nggak sih? Kau dan dia sama saja, nggak bisa diam apa?" Bilson membentak lagi.


Sandy dan Radot menundukkan kepala dan mengunci mulut masing-masing.


Bilson kembali sibuk dengan pikirannya sambil menghabiskan kopinya.


Di rumah Aletha.


"Ma, pa, aku mau pergi kerja hari ini. Bisakah aku menitipkan Eril? Aku mau melihat kondisi disana, ma. Kalau memungkinkan, aku akan membawa Eril ikut serta." Aletha menjelaskan dengan hati-hati. Ia takut mama dan papanya tersinggung.


"Tentu, sayang. Mama dan papa akan menjaga Eril. Dia kan cucu mama. Mana mungkin mama keberatan menjaganya. Kamu ini ada-ada saja. Pake segan-segan segala," tukas Mama Vina kepada putrinya itu.


"Betul itu ynag dibilang mama kamu. Pastilah kami menjaganya. Seharusnya papa yang bekerja, bukan kamu, nak," ucap sang papa dengan suara yang terdengar pelan dan lemas.


"Nggak, pa. Papa nggak boleh ngomong gitu. Biar Aletha saja yang bekerja untuk kita semua. Lagian Aletha kan masih muda, pa. Jadi masih kuat untuk bekerja apapun. Lebih baik papa dan mama istirahat di rumah." Aletha mengusap lengan papa Irwan.


"Tapi kan....."


"Sudahlah, pa. Tidak ada tapi-tapian. Aku nggak ingin papa sakit karena kecapekan. Aku nggak ingin kehilangan papa lagi. Cukup, pa!" ucapnya memohon. Air matanya tak terasa sudah jatuh dan membasahi pipinya.


Mama Vina meraih tubuh putrinya itu lalu memeluknya. "Sudah, sayang. Mama dan papa tidak akan meninggalkanmu lagi. Kami juga tidak mau kehilangan kamu. Kamu jaga diri ya saat bekerja!" Dielusnya rambut sebahu Aletha dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, ma. Doakan supaya aku dapat pekerjaan yang layak agar kita bisa tetap bertahan."


"Iya, sayang. Kami akan selalu mendoakanmu. Kau yang kuat dan sabar, dan jangan lupa untuk tetap berusaha pasti semuanya akan berjalan lancar."


"Iya, ma." Aletha menghapus air matanya dengan jemarinya.


"Mama nangis?" Eril tiba-tiba memeluk kaki Aletha. Mama kenapa menangis?" tanyanya sedih. Matanya berkaca-kaca.


"Nggak. Mama nggak ada nangis. Siapa bilang mama nangis?" kilah Aletha.


"Terus?"


"Mama hanya merasa kalau mata mama kemasukan aku gitu. Jadi mama usap karena terasa perih."


"Coba Abang lihat!" gumamnya. Eril menarik tangan mamanya agar menunduk.


"Mata mama merah," katanya. Ia menatap lekat-lekat kedua mata Aletha. "Mau Abang tiup?" tanyanya dengan konsonan ynag belum terdengar jelas sekali.


Aletha mengangguk mengiyakan. Lalu dengan tingkah lucunya, Eril meniup bola mata sang mama hingga. Air liurnya malah ikut tertiup membasahi mata sang mama. "Sudah," ucapnya tersenyum bangga.


"Kok mata mama basah?" tanya Aletha tersenyum. "Abang taruh apa di mata mama? Jangan-jangan.....hmmmmm..."


"Kejar Abang!" tukasnya.


"Ma, pa, Aletha pamit dulu, ya. Titip Eril. Mama dan papa jangan lupa makan, ya!" Aletha mengacuhkan permintaan Eril.


"Mama mau kemana? Mama nggak main sama Abang?" tanya Eril dengan wajah sendunya. Padahal sebelumnya ceria banget.


"Mama mau kerja sayang, mau cari duit untuk beli mainan abang. Abang mau mainan baru?"


"Mau! Mau!" serunya dengan mata berbinar sambil melompat-lompat kecil.


"Kalau abang mau, abang harus janji sama mama kalau abang nggak akan bandal sama oma dan opa. Abang harus nurut meskipun mama nggak ada. Oke!"


"Mama mau tinggalin Abang?"

__ADS_1


"Nggak, sayang. Mama pulang kok nanti setelah semua pekerjaan selesai. Nanti kalau mama udah pulang, kita bisa main bareng. Mau ya sayang?"


Aletha langsung membawa Eril ke dalam dekapannya. Jauh di lubuk hatinya ia tak ingin jauh dari Eril. Tapi dia belum tau bagaimana kondisi di butik Dena. Dia juga belum tau pekerjaan apa yang akan dia lakukan di sana. Mau tak mau, dia meninggalkan Eril di rumah bersama kedua orang tuanya.


"Janji?" Eril mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." Aletha membalasnya. Dan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Eril setelah dia melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lalu mencium kening Eril.


"Daaaah, sayang. Baik-baik sama opa dan Oma, ya!" serunya. Tak lupa ia menyimpulkan senyum agar Eril merasa lebih santai. "Doakan mama biar dapat duit yang banyak biar kita bisa beli mainan kamu, jalan-jalan sama oma dan opa. Ya?"


"Iya, ma," sahut Eril terpaksa. Wajahnya memelas seolah mengatakan kalau ia ingin ikut bersama sang mama.


"Ayok main sama opa!" Opa Irwan mencoba mengalihkan agar Eril lupa. Lalu membawa Eril ke belakang sambil berceloteh.


Setelah Eril dan opanya tak kelihatan lagi, Aletha pamit kepada mama Vina dan mencium punggung tangannya lalu beranjak keluar meninggalkan rumah itu.


"Semoga saja aku bisa membawa Eril nanti ke butik. Semoga saja," batinnya.


Ia menunggu taksi online yang sudah dia order sebelumnya di depan rumahnya. Tak berapa lama, taksi itupun datang.


"Ibu Aletha?"


"Iya, pak."


"Silakan masuk!" tutur pak supir itu sembari menyunggingkan senyum lebarnya sehingga tampaklah giginya yang rapi dan putih mengkilap. Ia membukakan pintu untuk Aletha.


"Trimakasih!" ucap Aletha sambil melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam taksi.


"Ini, pak," tukas Aletha sambil menyodorkan lembaran uang kepada supir taksi setelah dia keluar dari taksi. Ia sudah sampai di butik, Dena Busana nama butiknya.


"Kembaliannya, bu," ucap si supir. Ia menurunkan punggungnya tanda hormat.


"Ambil aja, pak!" ucap Aletha.


Taksi itupun pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada Aletha.

__ADS_1


Aletha yang sudah berdiri di depan butik itu, mamandang dengan kagum. Lalu menyusuri bagian luar butik itu dengan seksama.


"Wah, besar sekali!" serunya. Ia tak pernah menyangka kalau butik Dena sudah sebesar ini.


__ADS_2