Mama Superku

Mama Superku
Mak Comblang


__ADS_3

"Kau? S-sedang apa kau di sini? Siapa yang sudah menginginkanmu masuk ke rumahku?" Aletha terperanjat ketika terbangun dari lelapnya melihat sesosok pria berada didekatnya dan menatap wajahnya lekat-lekat.


"Aku sedang mengkhawatirkanmu, Dira. Apakah salah bila aku datang menjengukku?" Lelaki itu mencoba berbicara lembut dengan Aletha. Tadinya dia duduk, sekarang sudah berdiri di tepi ranjang sembari menatap Aletha dengan penuh harap diberikan ijin.


"Jelas salah." Aletha menjawab ketus.


"Dimana salahnya? Boleh kah aku tau? Atau mau kah kau menceritakan padaku dimana salahnya?" Bilson mencoba mencari tau. Padahal dia jelas tau apa masalahnya, namun ia masih tetap ingin mendengar jawaban jujur langsung dari mulut Aletha.


"Karena aku dan kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," jawabnya tegas. "Dan aku tak ingin melihat mukamu disini. Aku mohon, pergilah!" Aletha memohon bahkan mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.


"Tapi, Dira. Aku, aku perduli padamu. Aku masih tetap mencintaimu dan aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Aku mohon, jangan usir aku," mohon Bilson dengan sangat. Matanya sampai berkaca-kaca.


"Tapi aku tidak. Karena menatap wajahmu saja mengingatkanku tentang masa lalu yang begitu rumit dan sangat sulit untukku. Aku nggak mau melunturkan rasa move on-ku yang sudah mencapai puncak melupakan kesialan di masa lampau. Aku mohon pergilah, karena menata hati itu sulit, bahkan lebih sulit dari menata baju." Aletha mengelak terus. Ia masih diliputi rasa trauma yang sangat dalam.


"Tapi itu bukan aku, Dira. Kau tau itu semua bukan kau." Bilson mencoba mengingatkan kembali.


"Apapun alasannya, wajahmu tetaplah seperti wajah yang pernah membuat robekan di dalam hatiku. Dan aku nggak mau mengenang itu. Karena bagi aku yang pahit-pahit tidak perlu dikenang. Yang perlu itu semua harus dibuang."


"Tapi, Dira....."


"Aku mohon, keluarlah!" Sorot matanya tajam manatap sinis ke lelaki yang sedang berdiri ditepi ranjangnya. "Aku nggak mau semakin aku melihatmu di sini, semakin menambah luka di hatiku." Aletha malah terisak walau pelan. Karena setelah menoleh ia tersadar karena Eril sedang berada di kamar mandi.


Baik papa Irwan, mama Vina, dokter Ariel dan juga Dena yang menguping daru luar kamar, kecewa dengan apa yang diucapkan Aletha. Mereka nggak menyangka kalau Bilson yang dulu sangat dicintainya, hari ini bahkan ia maki dan ia usir dari rumahnya. Ada rasa kecewa yang terpancar di wajah mereka.


"Kenapa sih Aletha jawabnya begitu?" celetuk dokter Ariel. Ia seolah tak terima kalau Aletha memperlakukan Bilson seperti itu. Ya, dokter Ariel memihak Bilson kelihatannya.


"Yah, kalau bagi aku sih wajar saja dia takut karena ia sendiri sudah pernah mengalaminya." Dena seolah memihak Aletha. Pasangan suami istri itu kini berada dikubu yang berlawanan.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan berantam hanya karena masalah ini. Semoga saja Aletha bisa menghadapinya. Aku yakin apapun yang dia putuskan, itulah yang terbaik." Mama Vina melerai mereka yang sudah mulai beradu pendapat.


Papa Irwan mengangguk setuju dengan perkataan istrinya itu sembari menganggukkan kepalanya.


"Tapi om, tante, Bilson bukanlah orang yang sama dengan Revan. Hanya wajah mereka saja yang mirip." Dokter Ariel masih tak mau kalah.


"Iya, mirip. Tapi nggak semudah itu untuk mempercayai lelaki lagi. Kalau aku diposisi Aletha, mungkin aku juga bakal melakukan hal yang sama. Karena sejujurnya, sudah terlalu dalam menancap rasa sakit yang pernah singgah. Ah, sudahlah. Tak terkatakan lagi," ucap Dena. Raut kekecewaan terlihat jelas di dalam dirinya.


"Sudah, sudah. Berhenti kalian berdua untuk beradu mulut. Ini kan bukan adu pendapat, kita disini ada untuk menjaga dan merawat Aletha. Dan juga baby Eril," tukas papa Irwan.


"Iya, om. Maaf." Kedua pasangan suami istri itu menjawab bersamaan.


Tiba-tiba pintu terbuka perlahan.


"Maafkan putri saya, ya. Mungkin dia belum bisa move on dari masa kelamnya." Papa Irwan langsung menghampiri Bilson dan mengusap lengannya.


"Nanti deh aku coba bicara pada Aletha," celetuk dokter Ariel yang dilirik sinis oleh Dena. Benar-benar ia merasa suaminya tak memihaknya sekarang. Malah memihak orang lain. Dokter Ariel langsung tertunduk setelah lirikan yang mengerikan itu.


"Apa mungkin untuk masalah ini aku harus pakai jurus ngambekku lagi?" batin Dena.


Sementara mama Vina dan papa Irwan sudah masuk ke dalam kamar Aletha dan meninggalkan pasangan suami istri itu masih dengan tingkahnya masing-masing di depan kamar Aletha dalam keadaan pintu yang sudah tertutup kembali. Sementara Bilson pamit kepada mereka untuk pulang dan tanpa dihiraukan oleh Dena maupun dokter Ariel.


"Sayang, kau sudah bangun?" Mama Vina langsung menghampiri putrinya itu dengan sekuat tenaga ia langkahkan kakinya yang sudah mulai lemah dan tak secepat kala itu.


"Iya, ma. Aku sudah merasa lebih baikan sedikit."


"Syukurlah, nak." Papa Irwan bergumam.

__ADS_1


"Aku, aku baik-baik saja kan, ma? Nggak ada yang salah kan dengan diriku?"


"Nggak ada kok, sayang. Dokter bilang kamu baik-baik saja. Kemungkinan perut kamu lapar dan kamu meminum minuman yang tidak seharusnya karena perut kamu masih kosong." Aletha mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir.


"Dokter? Jadi aku sakit beneran? Sakit apa?"


"Iya, nak. Tadi dokter Denia datang memeriksa, dan sekarang obatmu sedang ditebus itu."


"Siapa yang menebus, ma? Bukan Bilson kan?"


"Bukan, dokter Ariel. Tapi mereka masih berdebat ala gadis remaja tuh di depan rumahmu. Kukira mereka sudah mengenal cinta yang sesungguhnya, eh malah cinta monyet yang dibahas.


"Dena dan dokter Ariel?"


"Iya," jawab mama Vina singkat. Aletha pun ikut tersenyum. "Kok kamu tersenyum sayang?" Tanya mama Vina penasaran.


"Mereka akhir-akhir ini sering berdebat, ma. Tapi nggak sampai kabur-kaburan kok. Entah apa yang membuat mereka begitu," sergah Aletha.


"Benarkah?"


"Iya, ma. Aku juga nggak tau entah hal-hal apa saja yang mereka perdebatkan. Aku juga sering bingung kok, cuma yah nggak tau mau bilang apa."


"Dasar, pasangan muda jaman now." gurau mama Vina yang disambut gelak tawa dari Aletha dan juga papa Irwan.


"Udah ah, ggak usah dulu kita bahas mereka. Sekarang, kamu makan dulu dan minum air hangat. Jangan karena ramai orang kamu nggak mau makan sepiring, pisau pun bisa mengenalmu nanti.


"Tapi, ma aku, aku nggak lapar. Aku malah tak berselera bertemu dengan siapa saja hari ini. Begitu juga dengan makan nasi, ma. Aku sedang tak ingin. Aku kekenyangan

__ADS_1


__ADS_2