
Bahkan bibi Yani sudah berusaha melawan tapi si maling tidak perduli. Dia malah mengancam bibi Yani sambil menyodorkan pisau ke leher bibi Yani. Ia mencoba mengancam bi Yani waktu itu.
Mau tak mau bi Yani pun pasrah. Ia mengikuti gerak gerik si maling itu sambil kepalanya tegak ke atas karena ancaman dari rekan si maling masih mengancam keselamatan dirinya.
"Kurang ajar! Siapa yang sudah berani masuk ke apartemen aku? Aku akan buat perhitungan dengannya!" ujar Dena lantam.
Dena berjalan cepat menuju kamarnya dengan perasaan emosinya yang meluap.
Dibukanya lemari bajunya dengan kasar.
Aneh, semua perhiasanku lengkap dan tidak ada yang hilang. Batin Dena.
Ie memeriksa yang lainnya. Tapi tak ada juga barang milik berharga yang dia miliki hilang. Semuanya masih utuh.
Kemudian Dena memeriksa semua berkas yang masih tersusun rapi di atas mejanya. Kemudian laci mejanya. Namun tak ada juga yang hilang.
"Nggak ada juga yang hilang. Apa aku meriksanya kurang teliti ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Dena pun memeriksa ulang berkas-berkas di atas mejanya secara perlahan. Diperiksanya lembar perlembar berkas itu. Entah kenapa dia sampai segitu telitinya.
"Kayaknya ada yang hilang deh...." gumamnya lirih.
"Apa yang hilang, Den?" tanya Aletha tiba-tiba. Ia baru saja masuk sambil menggendong baby Aletha.
"Itu, anu, itu, Tha." ucap Dena gelagapan.
"Anu itu apa?" tanya Aletha penasaran.
"Berkas yang kamu....." gumam Dena lirih.
Ia sampai menghentikan ucapannya sejenak.
"Berkas yang kamu kirim kemarin hilang, Tha." ucap Dena lesu.
"Masa sih? Kok bisa?" tanya Aletha bingung.
Pertanyaan yang tidak seharusnya dipertanyakan karena jawabannya jelas-jelas nggak kan pernah diketahui. Namun pertanyaan ini sering terlontar saat seseorang merasa kehilangan sesuatu.
Iyalah, bagaimana cara menjawabnya sementara kita sudah berusaha menyimpannya dengan baik, namun bisa hilang tak tau apa sebabnya karena si penyimpan tak ada ditempat kejadian.
__ADS_1
Namun sepertinya pertanyaan ini sering nyangkut akibat kepanikan dan kebingungan seseorang. Jadi wajar saja.
"Aku juga nggak tau, Letha. Seingatku, aku menyimpannya di sini." sahutnya.
Dena menunjukkan album poto yang berukuran besar bahkan lebih besar dari map.
"Aku sengaja menyimpannya di sini supaya orang nggak curiga sama sekali. Namun ternyata aku salah." ucap Dena.
"Mungkin yang mengambilnya itu orang yang berpengalaman, nyonya. Kalau tidak kenapa hal yang tersembunyi begitu bisa diketahuinya." ucap Rimba tiba-tiba dari depan pintu.
"Kamu selidiki siapa yang mengambil berkas itu!" ujar Dena ke Rimba.
"Siap!" jawab Rimba lantam.
Sementara di tempat lain, Revan sedang mengumpat di dalam mobilnya.
"Kemana tuh anak? Sial! Aku kehilangan jejaknya. Aaaaarrggh!" pekiknya.
"Nggak, aku nggak akan menyerah. Akan kucari kau sampai dapat, sampai aku berhasil membuat perhitungan denganmu! Lihat saja! Kali ini aku memang gagal, tapi besok aku akan mencongkel mulutmu agar kau membuka semua keburukanmu di depan wanita itu. Camkan itu!" gerutu Revan sambil membanting setir.
Kemudian, Revan memutar balik mobilnya dan kembali ke kediamannya.
"Ma-maaf, boss. Kami tidak bisa mengejarnya. Sepertinya dia bersembunyi, boss." jawab Radot takut-takut
"Kalian berdua harus mencari dia sampai dapat! Kalau tidak, aku akan memecat kalian berdua!" ancam Revan kepada mereka berdua.
Tak seperti biasanya Revan seperti itu. Ia sangat jarang menggertak kedua anak buahnya itu. Emosinya pun sangat berkobar bak api yang susah untuk dipadamkan.
"Silakan diminum dulu, tuan!" ujar seorang pelayan wanita yang menyambutnya dengan membawa nampan berisi segelas air minum.
Revan menatap wanita paruh baya itu tajam. Lalu mengambil minuman itu dan meneguknya dengan kasar.
Wanita paruh baya itu pun hanya menunduk dan mengintip sedikit ke arah Revan saat Revan aedang sibuk menyeruput minuman yang baru saja dia sajikan.
Revan meletakkan kasar gelas itu di atas nampan sampai mengeluarkan bunyi. Sontak saja hal itu membuat pelayan perempuan itu kaget.
"Ngapain kau masih di sini? Pergi ke dapur!" bentar Revan.
Pelayan itu pun pergi dengan langkah tergopoh-gopoh, sebelumnya dia sudah meminta ijin kepada si tuan rumah sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Kalian berdua ngapain masih di sini?" tanya Revan kepada Radot dan Sandy.
"I-iya, boss." sahut Sandy gugup.
Radot dan Sandy pun meninggalkan Revan yang masih tersulut emosi. Meskipun tidak separah sebelumnya.
Revan duduk di sofa lalu kembali meneguk minumannya sampai habis.
Sementara di apartemen Dena, Aletha sibuk menenangkan Dena.
"Coba deh kamu tenangin diri dulu. Terus ingat-ingat lagi apa benar kamu meletakkannya di sana?" tanya Aletha hati-hati.
Dena yang mendengarkan penuturan Aletha, mencoba memikirkannya, matanya mengerling ke atas, ke bawah, ke samping kiri dan kanan.
"Iya, Letha. Aku nggak lupa. Aku belum pikun. Benar, aku meletakkannya di sini, Tha." ucap Dena menjelaskan.
Aletha tak bergeming atas penjelasan Dena. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat berharap berkas itu aman di tangan Dena.
Tapi apa hendak dikata. Naas memang tidak memandang harapan atau keinginan seseorang. Harapan satu-satunya yang ia perjuangkan untuk menggulingkan Bilson, kini seakan sirna sudah.
Padahal sebelumnya, ia sudah semangat penuh setelah berhasil mencuri berkas itu dari kamar Bilson.
"Maaf, ya Tha. Aku nggak bisa menjaga titipanmu. Semua ini salahku, Tha." ucap Dena merasa bersalah.
"Kamu nggak salah, Den." gumam Aletha.
"Tapi, Tha berkas itu sudah hilang. Dan mengenai...."
"Mau bagaimana lagi, Den. Berkasnya sudah hilang. Jalan saatu-satunya adalah aku harus menuruti semua ucapan mas Bilson, kalau tidak aku dan baby Eril akan ditendang dari rumah itu. Setelah dia mendapatkan tanda tanganku." ucap Aletha pilu.
Hatinya kini seperti tersayat pisau silet, ngilu. Bagaimana jika hal itu benar-benar menimpa dia dan baby Eril. Sungguh ia belum sanggup kehilangan semuanya dalam sekejap.
Sementara selama ini ia hanya mengharapkan Bilson untuk memberi uang belanja kepadanya. Dia tidak bekerja. Bagaimana ia bisa bertahan nanti membesarkan Eril seorang diri.
"Maaf ya, Tha." ucap Dena sekali lagi.
Ia memegang kelima jemari tangan Aletha, lalu mengeratkannya dengan jemarinya.
"Aku akan membantumu. Aku akan berusaha mendapatkan berkas itu kembali." ucap Dena tegas dan penuh semangat.
__ADS_1
Rasa bersalahnya membuat dirinya untuk memiliki tekad kuat untuk mengambil kembali berkas itu dari tangan orang yang tidak jelas itu.