
Pagi ini d Ngan semilir angin sepoi-sepoi, dengan tetesan embun yang terpatri diatas dedanuan, bersama kicauan-kicauan burung di angkasa sudah cukup menghiasi awal tatanan kehidupan dengan segala rutinitas dan keindahan alam yang dicipta yang Kuasa.
Aletha duduk memandang anak semata wayangnya itu dengan doa dan harapan yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Tak terasa mereka sudah seminggu berada di ruangan ini. Ruangan yang penuh dengan kabel-kabel dan bunyi tut tut dari layar monitor berdiri tegap disetiap samping ranjang para pasien.
Ada empat orang pasien di ruangan itu, hanya Eril yang masih bayi. Yang lainnya sudah lanjut usia. Yah meskipun sudah ganti dari pasien-pasien sebelumnya, hanya Eril dan seorang nenek yang disampingnyalah yang paling lama disini.
"Maaf, ibu. ibu tidak diperkenankan untuk lama-lama didalam. Karena ruangannya harus steril," ucap seorang perawat jaga yang ada di ruangan.
"Tapi, sus bagaimana kalau anak saya nanti jatuh lagi? Siapa yang akan menjaganya? Bisakah suster menjamin kalau anak saya tidak akan terjatuh lagi?" Aletha menjejali perawat itu dengan segudang pertanyaan dan.... ia tak bisa menjawab.
"Bagaimana, sus bolehkan?" tanya Aletha memastikan. Ia tak ingin meninggalkan sedetikpun Eril apalagi dengan kondisinya sekarang. Ia tak yakin k pada perawat itu untuk standby menjaga Eril, karena ada tiga pasien lagi yang akan mereka mereka perhatikan.
"Ya sudah, bu. Silakan. Tapi ibu harus menjaga kebersihan, ibu harus rajin mandi, dan mengenakan masker. Ingat, jangan pernah ibu mengambil gambar atau video di ruangan ini. Ini adalah peraturan yang harus dilaksanakan. Kalau ibu melanggarnya, maka pihak rumah sakit tidak akan toleransi."
"Baik, sus saya akan mematuhinya." Aletha menjawab cepat sembari menganggukkan kepalanya. Diijinkan disini saja sudah lebih dari cukup untuknya. Dia tak ingin yang lain lagi.
Kilas peristiwa beberapa hari lalu saat Eril baru saja masuk ruang ICU, kembali terkuak dalam benaknya. Dan tak satupun aturan itu ia langgar.
"Dokter Edi datang beraama dengan dokter Ariel. Seperti biasa, dokter Edi mengecek dada Eril dengan stetoskop nya. Sementara Eril sedang terlelap, masih lemah.
"Letha, kita harus melakukan beberapa tes untuk mengetahui diagnosa penyakitnya. Seperti CT Scan, atau scan kepala. Scanning Kepala, atau CT Scan Kepala, adalah suatu teknik pemeriksaan diagnostik imaging atau pencitraan yang menggunakan teknologi komputer, berbasis X-Ray. Secara klinis, CT Scan kepala dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan cedera kepala, nyeri kepala, pusing hebat, dan gejala lain dari aneurisma, perdarahan intrakranial, stroke, maupun tumor. Bila dilakukan secara benar sesuai ketentuan, pemeriksaan CT Scan bersifat cepat, tidak invasif, tidak nyeri, dan umumnya memberikan hasil yang akurat."
__ADS_1
"Nah, dari sana nanti akan jelas terlihat apakah gumpalan itu yang menyebabkan oksigen yang masuk tidak berjalan lancar menuju otak. Dan karena kurangnya oksigen itulah bisa menimbulkan kejang."
Dokter Ariel mencoba menyederhanakan bahasanya agar Aletha mengerti.
"Kapan kita akan CT scan, dok? Dan.... apakah itu ada efek sampingnya? Apakah itu tidak berbahaya untuk Eril?"
"Berbahaya sih, tidak. Asal jangan keseringan di-rontgen. Kamu nggak usah takut, sejauh ini di rumah sakit ini belum ada yang pernah gagal CT scan. Maksudku, belum ada yang pernah menyampaikan keluhan efek samping atau semacamnya setelah scan kepala di sini."
"Tadi aku sudah menjelaskan sedikit kalau CT scan itu tidak sakit dan tidak nyeri juga. Jadi tidak berbahaya selagi kita meggunakannya sesuai aturan."
Aletha manggut-manggut. Seperti orang-orang diluar sana yang tidak mengerti mengenai CT Scan, begitu juga dengan dirinya. Ia selalu bertanya bila tak dimengerti apa yang dijelaskan dokter. Termasuk penjelasan yang sangat sulit dipahami, karena taulah bahasa kedokteran seperti apa.
"Apa lagi itu, dok? Aku, aku baru kali ini mendengarnya. Dan... apakah itu berbahaya?"
"Elektromiografi atau EEG adalah suatu teknik untuk mengevaluasi dan merekam sinyal aktivitas otot. Pemeriksaan Elektromiografi dilakukan menggunakan alat yang disebut electromyograph, lalu rekaman yang dihasilkan disebut dengan Elektromiogram. Teknik ini mendeteksi potensial aksi dari sel-sel otot saat sel-sel berkontraksi dan relaksasi dengan menggunakan elektroda yang ditempel di atas jaringan otot. EMG dilakukan ketika pasien mengalami kelemahan otot. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk membedakan antara masalah-masalah yang berasal dari otot itu sendiri atau dari gangguan syaraf."
"Pemeriksaan ini pada dasarnya bukan prosedur yang berisiko tinggi. Jarang ditemukan komplikasi setelah elektromiografi dilakukan. Namun terdapat kemungkinan terjadi perdarahan kecil, infeksi, atau cedera saraf ketika jarum elektroda ditusukkan ke tubuh."
"Sangat dianjurkan apabila hendak melakukan EEG atau rekam otak, untuk mandi yang bersih dan jangan menggunakan cream atau handbody atau alat kosmetik lainnya. Dari hasil EEG nanti akan terlihat jelas apakah aada masalah dengan otak."
"Kamu nggak usah khawatir. Kita akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya. Dan jangan lupa tetap bawa dalam doa. Secepatnya kita akan melakukan pemeriksaan itu, pertama CT scan."
__ADS_1
Aletha mengangguk menjawab penuturan dokter Ariel, tapi sejujurnya ia merinding mendengar bahasa-bahasa yang dijelaskan oleh dokter Ariel. Sempat juga ia bimbang akan melakukan tes atau tidak. Namun karena penjelasan yang diberikan dokter Ariel, akhirnya ia pun kembali semangat.
Ia juga tak mau berlama-lama disini. Karena semakin lama disini bila tanpa adanya pemeriksaan itu akan percuma Eril ada disini.
"Nanti akan aku sampaikan kepada suster, ya. Supaya kamu dan Eril bisa siap-siap nantinya. "
"Baik, dok. Terimakasih atas semua penjelasannya."
Cukup lama juga kedua dokter itu ada disini, menjawab semua pertanyaan yang diajukan Aletha, tapi mereka menjawabnya dengan ramah dan senyum yang tak pernah lupa disinggung kan.
Kedua dokter itupun pergi meninggalkan mereka berdua. Kini kembali lagi seperti biasanya. Tapi Eril bangun, ia menatap mamanya berbinar. Suaranya bungkam, tak seperti sediakala.
"Kenapa, sayang? Mau ngomong apa sama mama? Hmmm?"
Eril tak menjawab, tapi pandangannya terus terpatri kepada mamanya itu. Sekian lama dia disini tapi belum pernah ia duduk. Masih terbaring lemah. Dan bila didudukkan maka tubuhnya akan loyo dan tertidur kembali.
Benar apa kata orang, otot-ototnya sudah layu bahkan lemah. Tubuhnya tak mampu menopang organ-organ lainnya.
Ingin rasanya air mata itu jatuh dari pelupuk mata Aletha, namun ia tahan. Tak ingin rasanya Eril melihat air mata itu sampai terjatuh. Ia harus kuat demi Eril.
"Kuat Aletha, kuat. Apapun yang terjadi kau nggak boleh menangis dihadapannya. Sabar, ikhlas," batin Aletha.
__ADS_1