Mama Superku

Mama Superku
Menguntit


__ADS_3

"Selamat pagi, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang menyambutnya di depan pintu.


"Selamat pagi. Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini."


"Bisakah saya tau siapa nama nyonya?" tanya wanita itu dengan sopan dan lembut. Membuat Aletha semakin kagum. Selain gedungnya yang sudah megah dan besar, pegawainya juga ramah-ramah. Itulah kesan pertama yang ia dapatkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Dena Busana.


"Saya Aletha," jawabnya singkat.


"Ibu Aletha? Wah, ternyata boss Dena nggak salah mendeskripsikan tentang ibu. Ibu memang cantik, bahkan lebih cantik dari yang dipoto," puji wanita itu kepadanya. Dila nama wanita itu, usianya beda setahun dengan Aletha. "Silakan masuk, nyonya!" pintanya sopan.


Aletha mengikuti arahan Dila ke ruangan Dena.


"Ini ruangan boss Dena nyonya," ucapnya tersenyum.


"Panggil Aletha saja, saya kurang nyaman dipanggil nyonya," ucap Aletha cepat sebelum Dila melanjutkan ucapannya.


"Tapi, nyonya saya nggak terbiasa, saya merasa nyonya lebih tua dari saya, dan nyonya adalah sahabat boss saya, mana mungkin saya menamainya."


"Panggil mbak saja kalau begitu!" ucap Aletha cepat.


"I-iya, mbak," sahut Dila gugup.


"Sudah, sudah, santai aja. Saya nggak makan orang kok." Aletha mencoba bercanda agar suasananya sedikit tidak tegang.


"Mbak Aletha suka melwak juga ternyata," ucap Dila sambil terkekeh. Seketika ia merasa dekat dengan Aletha. Rasa seganny hilang begitu saja.


"Saya masuk dulu." Aletha masuk ke ruangan yang bertuliskan nama Dena diatasnya. Dila terpaku setelah Aletha mengucapkan kata tersebut. Ia merasa kalau dirinya sudah salah karena Aletha tak menanggapi ucapannya tadi.


Dila akhirnya kembali ke pintu masuk menyambut pembeli yang sudah datang berbondong-bondong.


"Huhh, sepertinya butuh karyawan baru ini. Makin hari makin rame aja ini butik," gumamnya.


"Selamat datang di Dena Busana, ada yang bisa saya bantu?" Begitulah kata-kata yang ia lontarkan ketika menyambut pembeli yang ia rasa sedang kebingungan hendak masuk ke butik tersebut. Kebetulan memang butik Dena diapit oleh dua butik di samping kiri dan kanan. Namun tak seramai butik Dena.

__ADS_1


Setelah melihat beberapa potongan pakaian yang tergantung rapi pelanggan itu langsung masuk tanpa memperdulikan Dila. Dila mengelus dada, "sabar, Dila. Pembeli adalah raja. Kamu harus mengikuti apa yang dia mau " ucapnya pada dirinya sendiri. Lalu ia melanjutkan lagi aktivitasnya, menyambut pembeli yang berdatangan tiada henti.


"Aletha!" seru Dena saat melihat Aletha masuk ke dalam ruangannya. "Akhirnya kamu datang juga," gumamnya. Ia langsung memeluk Aletha lalu mencium pipi kiri dan kanan Aletha. "Aku yakin kau pasti datang," ucapnya lagi.


"Duduk dulu!" pintanya mempersilakan Aletha duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Alethapun menuruti perintah Dena sembari memamerkan senyumnya.


"Eril apa kabar?" tanyanya lagi. Dari tadi dia saja yang berceloteh tanpa memberi kesempatan Aletha untuk berbicara. "Dia sehatkan?" tanyanya lagi.


Aletha langsung terkekeh spontan. "Kamu ini, aku bin jawab kamu udah melontarkan pertanyaan yang begitu banyak," ucapnya.


"Hehehe, maklumlah. Aku terlalu bahagia melihatmu ada disini. Aku kira kamu nggak mau kerja di butikku," gumamnya.


"Kan kamu uda tau, Den. Bukannya aku nggak mau, tapi kan aku nggak ngerti mengenai perbutikan. Nanti kamu suruh aku menggambar, bagaimana coba?"


"Ya enggaklah, Tha. Aku kan tau bidangmu. Mana mungkin aku menyuruhnya menggambar," tuturnya lagi.


"Lalu, pekerjaan apa yang bisa aku lakukan disini?"


"Apa? Model?"


"Iya, kenapa memangnya? Bukannya itu bidangmu?"


"Tapi kan, Den aku udah lama meninggalkan permodelan. Ya nggak mungkinlah aku model, lagian model apa coba?"


"Yah modelin baju-baju hasil rancangan akulah," ucap Dena lagi-lagi dengan yakin.


"Janganlah, Den. Kau tau kan aku sudah lama pensiun. Yang ada nanti butik kamu malah sepi. liaht saja, tanpa modelpun butik ini sudah ramai. Yang lain saja, ya!" pintanya memelas.


"Jadi OB pun jadi. Nggak apa-apa. Yang penting jangan jadi tukang gambar." Aletha mencoba menawar.


"Sayangnya OB kami sudah penuh, tak ada kuota lagu untukmu. Dan mereka pasti tidak mau kamu yang gantiin mereka. Karena mereka sudah terlanjur nyaman dengan bisa sepertiku," tukas Dena bercanda.

__ADS_1


"Idih, kepedean!" ujar Aletha.


Proses tawar-menawar pun akhirnya terjadi. Tapi belum ada keputusan yang pasti yang Aletha ucapkan. Ia masih bingung dengan pilihan yang diberikan Dena.


Sementara di tempat lain, Radot dengan Bilson sedang membuntuti Aletha. Mereka mengikutinya sampai ke Dena Busana, tapi mereka melihatnya dari jauh. Tak ingin Dena maupun Aletha mengetahuinya.


"Kasihan kamu, Dira. Hanya karena perbuatan Revan yang kejam itu, kamu harus berjuang sendiri untuk kuargamu. Tidak, aku tidak rela. Aku akan membuatnya bahagia. Aku nggak ingin kamu banting tulang, Dira," gumamnya dalam hati.


Radot yang ada di belakang kemudi , menatap lekat bossnya itu tanpa berucap. "Boss, boss. Aku tau boss terluka melihat nona Aletha. Makanya bisa, buat rencana yang wow supaya nona Aletha mau menerimamu. Supaya kalian hidup bahagia, boss. Sudah terlalu lama kalian terpisah. Tak inginkan boss bersatu dengan wanita yang bisa cintai?" batin Radot.


"Kamu turun dan masuk ke dalam! Sekarang!"


"Ma-mau ngapain boss?" tanya Radot bingung.


"Kalau masuk ke toko busana mau ngapain? Mau main game? Ya beli bajulah!" ujar Bilson datar.


"Tapi bisa, yang ada disana kan baju perempuan semua. Mana mungkin aku beli baju perempuan. Yang ada nanti dikira saya mau mesum," ujar Radot.


"Bodo! Pake akal sehatmu sedikit. Kapan sih kau pintar? Kan kau bisa bilang mau beli baju untuk ibumu atau saudaramu perempuan. Itu aja mesti diajari. Dasar!" umpatnya.


"Tapi kan boss tau aku hidup sebatang kara. Hanya bosslah yang kupunya sekarang."


"Hadehh, punya anak buah kok gini polosnya. Kan nggka mungkin mereka nanya kalau kau itu hidup sebatang kara atau tidak. Udah sana, nggak usah banyak alasan. Kamu selidiki apa pekerjaan yang akan dilakukan nona Aletha."


"Gimana caranya boss?"


"Masih mau kerja atau tidak? Kalau tidak kuusir nih dari rumah. Mau?" Bilson coba mengancam.


"Ya, ya, ya, boss." Radot turun dari mobil setelah menerima credit card dari Bilson lalu masuk ke dalam butik itu. Sementara Bilson, mencoba bertanya pada dirinya sendiri apakah akan berdiam diri di mobil atau ikut serta ke dalam busana.


Namun, ia tak ingin Aletha mengenalinya. Bahkan Radotpun sudah mengajarinya agar bisa menyamar supaya Aletha tidak mengenalnya. Sehingga mereka bisa menguntit Aletha dengan bebas.


"Menguntit untuk kebaikan, nggak apa-apa kali yah," gumamnya.

__ADS_1


Bilson pun turun dari mobil, mencoba mengikuti langkah Radot yang sudah masuk ke dalam butik tersebut.


__ADS_2