
"Bagaimana kasus perceraian wanita itu, pak?" tanya Deo kepada salah seorang rekannya.
"Minggu depan sidang selanjutnya, pak. Tapi, tak tau apakah suaminya akan hadir. Karena sidang sebelumnya ia tak hadir," ucap rekan Deo yang dipanggil sebagai Razak itu. "Kenapa? Tumben kamu kepo, lagian itu kan bukan tugas kamu?" tanya Razak mengernyitkan dahinya.
"Nggak, nggak kepo. Biasa aja sih," jawabnya. Tangannya bergelut dengan pena entah apa yang dia tuliskan dibuku catatannya.
"Kirain, hmmmm atau, kalau kau ingin kamu yang menangani kasus ini aku nggak keberatan, kok. Lagian aku ada deadline, kau taulah kalau aku. Mana bisa pikiranku bercabang-cabang. Takutnya aku nggak bisa membantu wanita itu," ucap Razak merasa kesal. "Hhhhhh, entah kenapa kemarin aku menerimanya sementara tugas yang lain belum kelar," rutuknya.
"Makanya, jadi orang itu jangan rakus. Ujungnya letih sendiri kan," Deo menasehati temannya itu. Matanya tak sedikitpun melirik Razak yang masih terbengong.
"Hei! Kau kenapa melamun?" tanya Deo mengagetkan Razak. Bahkan ia sampai melompat.
"Aihh kau ini. Mengagetkanku saja," gerutu Razak.
"Makanya jangan melamun, kalau mau melamun itu di kamar, bukan di kantor," goda Deo kepada temannya itu.
"Eh, tapi kau mau kan menangani kasus ini? please, Deo! Tolongin aku, yah," ucap Razak memelas. Tangan kanannya ia letakkan di atas meja untuk menopang wajahnya.
"Idih, gaya apaan tuh? Mirip seperti gaya seorang wanita meminta sesuatu kepada kekasihnya. Manja banget sih, kau," celetuk Deo. Ia memukulkan penanya tepat di kepala Razak.
"Aww, sakit tau," gerutunya. Tangannya mendarat menangkap pena itu dari tangan Deo, namun gagal. "Sial!" rutuknya. Kembali lagi ia melakukan gayanya seperti sebelumnya.
"Dasar cowok cantik!" ejek Deo. Ia terkekeh melihat tingkah Razak yang menurutnya seperti gaya seorang wanita.
"Mau ya, Deo. Ya, ya, ya," bujuk Razak berulang-ulang. Kini tangannya merangkul erat lengan Deo. Membuat Deo risih.
__ADS_1
"Iya, iya. Isssh, bawel banget sih jadi cowok. Aku curiga, jangan-jangan kau ini....cewek. Hahahahaha!" tawa Deo sampai terdengar ke telinga penghuni kantor.
Seorang rekan yang disebut sebagai ketua tim, mengisyaratkan kepada Deo dan Razak agar memelankan suaranya dan tidak bermain-main disaat kerja. Karena, bila mereka ribut, konsentrasi yang lain akan terganggu padahal mereka sedang menghapal undang-undang sesuai kasus yang mereka tangani.
Kedua pria itu langsung sibuk dengan aktivitasnya yang sempat tertunda karena mendapat tatapan tajam dari sang ketua.
"Kan, apa kubilang, semua ini gara-gara kau. Coba kalau tadi suaramu nggak kuat, pasti kita bisa mengobrol sepuasnya, yah supaya kita nggak suntuk-suntuk amatlah," ujar Razak.
"Kok aku? Bukannya kamu yang memancing duluan?" ucap Deo nggak terima. "Dasar cowok feminim!" ledeknya lagi.
****
"Tanda tangani berkas ini sekarang juga!" ucap Bilson membentak Aletha. Ia menarik kasar tangan Aletha, sementara Aletha sedang sibuk menyuapi baby Eril makan.
"Kamu nggak lihat mas, aku lagi menyuapi anak kita makan. Bisakan itu nanti, setelah tugasku selesai?" tanya Aletha heran. "Kenapa sih kamu seenaknya aja, mas? Lagian Erilkan anak kamu juga, darah daging kamu," jelas Aletha.
"Oh, jadi kau mau main-main denganku, hah?" bentak Bilson. Tangannya kini berada di udara dan hendak mendaratkan tamparannya di wajah Aletha. Namun gagal, karena tiba-tiba ponselnya berdering.
"Arrggh, siapa sih? Mengganggu saja." Ia meraih ponselnya lalu berjalan meninggalkan Aletha tanpa sadar. Dan kesempatan itu digunakan Aletha untuk mengambil ponselnya, lalu membuka satu aplikasi, kemudian meletakkannya lagu di atas meja, dekat dengan surat tersebut.
"Ayo, tanda tangan! Kenapa diam saja?" Bilson menjerit, sampai Aletha terperanjat. Baginya, ini bukan yang pertama kali, tapi entah mengapa ia selalu saja kaget apabila Bilson selalu mengeluarkan kata kasarnya kepadanya.
"Ini surat apa, mas?" tanya Aletha pura-pura.
"Banyak tanya kamu. Tinggal tanda tangan saja apa susahnya, sih. Dasar wanita nggak punya akal. Ya jelaslah ini adalah surat warisan kepemilikan keluarga kamu. Hahahahaha!" tawanya lepas.
__ADS_1
"Ma-maksud kamu, kamu mau mengalihkan semua atas nama kamu?"
"Tepat sekali, dan bersiaplah kau akan angkat kaki dari rumah ini setelah kau tanda tangani ini. Celaflah, jangan banyak tanya!" ucap Bilson memaksa.
"Tidak, mas. Aku nggak akan rela. Semua ini adalah peninggalan orang tua aku, dan aku nggak pernah sudi menyerahkan semuanya kepada lelaki ******** seperti kamu. Camkan itu baik-baik," ucap Aletha. Suasana hatinya memanas.
Selama ini ia berusaha lebih sabar menahan segala perbuatan kasar Bilson kepadanya dan juga anaknya. Tapi kali ini, ia tak ingin berdiam diri lagi. "Pria ******** seperti kamu, hanya pantas tinggal di jalanan, yang ada kau yang akan angkat kaki dari rumah ini." imbuhnya lagi.
"Berani kau melawan perintahku ya!" Tangannya kembali lagi melayang di udara hendak menampar Aletha.
"Apa? Mau tampar? Tamparlah, bila perlu bunuh supaya kau puas. Dan kau bisa menguasai segalanya. Dan kau bisa bebas gonta-ganti wanita. Tapi ingat satu hal, jika aku mati kau yang akan kuteror terlebih dahulu. Tak akan kubuat hidupmu aman. Ingat itu," ucap Aletha. Jari telunjuknya diacungkannya tepat didepan Bilson.
"Tidak, aku nggak boleh membunuhnya, bisa-bisa aku nggak akan dapat hak ahli waris, karena kalau dia mati sementara ini belum ditandatangani, maka ini masih haknya," gumamnya dalam hati. Sorot matanya menatap tajam baby Eril yang sedang sibuk mengunyah makanannya sambil memainkan legonya.
"Lebih baik, aku baik-baikin dulu wanita sinting ini biar dia mau tanda tangan ini surat dan selesai deh," batinnya lagi.
Belum mendapat kemenangan, tapi senyumnya menunjukkan seolah-olah dirinya sudah menang.
"Maafkan aku, ya. Aku nggak akan berbuat kasar padamu. Makanya tolong tanda tangani ini, please!" ucapnya memohon.
"Aku nggak akan tergiur dengan tipu mislihatmu," sahut Aletha cepat. Sorot matanya memandang jijik kepada lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Baiklah, aku sudah mencoba baik-baik bicara denganmi, tapi kau tak mengindahkannya. Maka jalan satu-satunya adalah ini," ucapnya. Ia memeluk baby Eril. Aku akan mengambil anak ini sebagai jaminannya. Yah, seperti yang kau bilang, ini anakku dan aku berhak atasnya," ucap Bilson enteng.
Baby Eril meronta-ronta minta dilepaskan, namun lelaki yang tiba-tiba saja mengakui itu sebagai anaknya tak menggubrisnya sama sekali. Alhasil, bany Eril menangis meraung-raung sambil meminta tolong.
__ADS_1
Air mata menetes di pipi Aletha.
"Lepaskan anak itu!" seru seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dalam rumah mereka.