
Empat hari sudah Eril dirawat di rumah sakit ini, tapi ia masih saja kejang seperti sebelumnya di rumah. Bahkan lebih sering. Pihak medis sudah memberikan obat saat Eril mengejang, yaitu dengan cara memasukkannya ke dalam lubang a*us.
Obatnya berbentuk gel, namun efeknya akan membuat si anak diare. Tapi dengan begitu menurut mereka itu bisa menghentikan kejangnya. Tapi, tidak juga. Kejang yang bisa sembuh olehnya adalah kejang karena demam. Sementara Eril dalam keadaan suhu normal pun tetap kejang.
"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak saya? Sudah hampir seminggu dia disini tapi belum ada tanda-tanda dia akan sembuh. Bahkan kejangnya semakin sering terjadi." Aletha menyampaikan keluh kesahnya kepada dokter tersebut.
"Apakah anak ibu jatuh? Atau apakah ada keturunan dari keluarga ibu yang pernah mengalami kejang sepertu ini?" Dokter Edi mencoba mencaritahu. Ia masih belum bisa memastikan Eril sakit apa.
"Iya, dok. Dia pernah jatuh. Memangnya ada hubungannya ya, dok?" tanya Aletha dengan wajah yang ingin tahunya itu. Ia menunggu jawaban dari sang dokter dengan serius.
"Kapan? Jatuh dari tempat yang tidak nggi atau bagaimana? Lalu apakah dia mengalami muntah atau diare?"
"Waktu dia umur lima bulan, dok. Saat dia belajar tengkurap dan berguling, dia terjatuh dari atas tempat tidur. Lumayan tinggi, dok. Kira-kira setara tingginya dengan ranjang ini," jelas Aletha. Ia menunjuk ranjang tempat Eril terlelap.
"Menurut diagnosa saya adalah epilepsi. Mungkin ada gumpalan darah di dalam kepalanya, oksigen yang masuk ke dalam otak tidak berjalan sempurna, sehingga kekurangan oksigen yang mengakibatkan dia kejang. Tapi saya belum bisa memastikan. Ada beberapa tes yang akan dilaksanakan."
Aletha bingung dengan semua penjelasan dokter. Baginya ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia dengar. Jadi, dia hanya bisa mengangguk dan menyerahkan sepenuhnya kepada dokter.
"Coba lanjutkan obat yang sudah saya anjurkan," pinta dokter Edi kepada perawat yang turut serta mendampingi dirinya. Lima Mill, ya," imbuhnya lagi.
"Siap, dok." Seorang perawat wanita yang masih muda menjawab cepat. Sementara perawat yang lainnya ada yang mencatat dan juga mengangguk tanda mengerti.
"Saya tinggal ya, bu. Saya mau ke pasien lainnya. Kalau ibu ada keluhan, silakan sampaikan kepada mereka. Aku akan selalu memantau dari jauh." Dokter Edi pun meninggalkan Aletha dan Eril, memeriksa pasien lainnya yang berada di kamar itu juga.
Setelah semua pasien diperiksa, dokter Edi meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan, tak lupa ia tersenyum memberi semangat kepada ibu-ibu yang sedang setia menjaga buah hati mereka.
__ADS_1
"Oh ya, ibu-ibu. Nanti akan ada pak Ustadz yang datang ke sini untuk mendoakan anak-anak ibu semuanya. Silakan ibu-ibu semua sampaikan unek-unek kalian padanya. Dia akan mendoakan anak-anak yang ada di ruangan ini agar segera pulih." Perawat muda tadi memberitahu mereka lalu pergi lagi menyusul yang lainnya.
Para ibu itu mengucap syukur, karena pelayanan rumah sakit ini sangat ramah dan peduli. Tak hanya sekedar mengobati orang sakit, tapi juga menyembuhkan lewat pelayanan spiritual. Baru-baru ini layanan itu dicanangkan, sekitar dua tahunan begitu.
"Wah, rumah sakitnya bagus ya. Ada layanan yang begituan. Jadi tambah semangat deh, merasa dipedulikan begitu," celetuk seorang ibu muda.
"Tambah lagi dokter anaknya tampan, jadi nggak terasa banget bosannya, hahaha," sergah seorangnya lagi.
Mereka tertawa bersamaan. Ruangan itu riuh oleh gurauan mereka. Memang sepatutnya begitu, bila menjaga pasien yang sedang sakit, tidak perlu serius-serius amat. Supaya ngga stress.
Malam harinya setelah Aletha berjuang memberikan Eril makan, ia dikejutkan oleh seorang perawat yang menyodorkan obat untuk diberikan padanya.
"Eh, suster. Sejak kapan suster ada disini?" tanyanya bingung.
"Baru saja, bu. Maaf bila kehadiran saya mengagetkan ibu," tukas perawat itu. "Silakan ibu beri obatnya ya, jangan sampai lewat waktunya. Lima Mili ya, bu," imbuhnya.
"Iya, bu. Sekarang. Kan obatnya dua kali sehari, ibu tau kan aturannya bagaimana?"
"Dua kali sehari setahu saya sus yah setelah makan pagi dan makan malam. Jadi saya mengira obatnya nanti malam saja diberikan, menjelang dia tidur." Aletha menjawab jujur. Karena begitu dia biasanya.
"Bukan, bu. Maksudnya itu setiap dua belas jam sekali. Kalau malam ini kita memberinya jam setengah delapan, maka besok pagi kita juga memberikan obatnya di jam yang sama."
"Oh, begitu. Berarti saya salah dong selama ini," gumam Aletha.
Perawat itu hanya tersenyum kepada Aletha tapi tak mengucap apapun.
__ADS_1
"Sama, sus. Saya juga selama ini begitu. Seperti mamanya Eril," celetuk seorang ibu yang tiba-tiba nyosor.
Lalu perawat itu dengan sabar dan lembut menjelaskan aturan minum obat kepada mereka, mulai dari satu kali satu hari, dua kali satu hari hingga tiga kali satu hari. "Oh begitu ternyata. Saya salah dong. Wah, terimakasih ya sus sudah memberitahu kami. Kalau tidak kami akan terus bertahan dengan apa yang kami tau. Soalnya tidak ada yang pernah memberitahu kami." Seorang ibu berujar lagi.
"Iya, ibu-ibu. Saya kira sudah banyak yang tau. Ternyata saya salah," sahutnya. "Silakan diubah ya bu, metodenya. Jangan dipertahankan yang lama, karena itu kurang tepat." Perawat itu menambahkan.
"Baik, suster. Terimakasih atas penjelasannya. Kau menjelaskannya dengan sangat sederhana, sehingga kami dengan mudah bisa mengerti." Aletha mewakili mereka semua.
"Sama-sama, bu. Saya permisi, ya. Jangan lupa, ibu-ibu semua makan ya, karena kalau tidak makan bisa-bisa tumbang dan sakit. Siapa yang akan menjaga mereka nanti," celetuk sang perawat.
"Terimakasih, suster. Apakah suster tidak mau bergabung makan bersama kami?" tanya Aletha ramah.
"Maaf, Bu. Saya masih ada pekerjaan, karena akan pergantian petugas. Jadi saya harus membuat laporan untuk petugas selanjutnya," jawab perawat tersebut.
"Oh begitu, ya sudah sus. Jangan sampai terlambat makan ya, nanti suster sakit," ujar seorang ibu lagi.
Di ruangan itu hanya tiga pasien dan tiga ibu yang menjaga anaknya tapi terdengar seperti sedang ada pesta. Ramai sekali. Baru kali ini susana di ruangan ini ramai, biasanya ramai dengan kekhawatiran dan keluh kesah.
"Oh ya, suster sudah menikah?" tanya seorang ibu muda tadi.
"Uhuk-uhuk." Perawat itu tiba-tiba batuk. "Ma-maaf ya, bu. Saya, saya pamit." Ia berlari cepat dan menghilang begitu saja.
Ketiga ibu tersebut saling memandang. "Ada apa dengannya?" tanya mereka serentak. Lalu mereka kembali tertawa.
Disela-sela gurauan mereka, Aletha sambil memberikan obat yang diberikan perawat tadi kepada Eril. Lalu seperti biasa ikut berbaring di sampingnya sampai ia terlelap. Karena Eril akan selalu menarik-narik rambut mamanya itu sebelum terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
"Hei, mama Eril. Ayok makan dulu," ajak mereka kepadanya. Aletha menyelimuti tubuh Eril lalu menyusul mereka yang sudah siap untuk makan. Ia sudah memesan makanannya tadi kepada mereka karena ia tak mau meninggalkan Eril sendirian di sini. Takut jatuh seperti saat itu.
Rasa trauma dalam dirinya tak bisa ia hilangkan lagi. Ia tak ingin kejadian itu terulang kembali. Sangat sakit rasanya melihat anaknya itu berbaring lemah di rumah sakit. Tidak, tidak kuat rasanya melihat anak yang masih kecil harus terbaring di ranjang ini lagi.