Mama Superku

Mama Superku
Sandra VS Aletha


__ADS_3

"Permisi! Hallo!" sapa orang itu lagi.


Aletha mendengar sayup-sayup suara perempuan lewat kamarnya yang tertutup.


"Seperti suara perempuan. Untung saja. Kirain tadi mas Bilson...." gumamnya lirih.


"Ada apa, mbak?" ujarnya kepada seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu rumah besar itu.


Eh, ini kan perempuan waktu itu. Yang bersama mas Bilson menuju hotel. Batin Aletha.


"Nggak apa-apa. Saya hanya mau ketemu dengan pak Bilson. Saya Sandra, rekan kerja pak Bilson." ucap Sandra menjelaskan.


Sorot matanya memandang Aletha dari atas sampai ke bawah. Seolah-olah Aletha adalah sesuatu yang aneh baginya.


Pantas saja pak Bilson mencari wanita lain lagi, dia sebagai istri kok nggak bisa merawat diri sih? Lihat saja penampilannya butek begitu! Batin Sandra.


"Pak Bilsonnya ada?" tanya Sandra.


"Nggak ada, mbak. Dia belum pulang sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin dia sibuk kali dengan pekerjaan kantor." jawab Aletha datar.


"Oh gitu. Ya sudah, saya pergi dulu." ujar Sandra hendak melangkahkan kakinya.


"Apakah mbak ingin menyampaikan pesan atau bagaimana? Sampaikan saja padaku, mbak. Nanti biar kusampaikan kepada mas Bilson." tukas Aletha.


Oh no. Nggak mungkinkan kusampaikan ke dia. Bisa-bisa dia curiga nanti akan rencana kami. Sudahlah mendingan aku pulang saja lagi. Gumam Sandra dalam hati.


Eh, tunggu tunggu. Atau gimana kalau aku memanas-manasi dia. Jadi dia dan pak Bilson pun secepatnya cerai. Dia akan berkelahi dengan Santi dan aku akan mengambil keuntungan akan hal itu. Yes, aku harus bisa mendapatkan pak Bilson. Batin Sandra.


Ia senyum-senyum sendiri memikirkan idenya. Aletha sampai terheran-heran melihatnya.


"Nggak, nggak usah. Biar aku saja nanti yang mencari pak. Bilson di kantornya. Oya, mbak istri atau siapanya mas Bilson?" tanya Sandra pura-pura.


"Aku istrinya. Emang kenapa?" tanya Santi.


"Oh gitu. Kirain kakaknya." ucapnya dengan nada polos dibuat-buat.


"Mbak yakin kalau pak Bilson di kantornya? Soalnya mbak bilang tadi sudah berhari-hari nggak pulang ke rumah. Apa mbak yakin dia tidur di sana?" tanya Sandra.


Yess kepancing dia. Mudah-mudahan berhasil nih rencanaku. Batin Sandra.


"Maksud, mbak?" ucap Aletha tak mengerti.


"Ma-maksud saya bisa saja pak Bilson ada wanita lain. Apa kamu tidak pernah menyelidikinya?" tanya Sandra lagi.


"Dua hari lalu sayamelihatnya bersama seorang gadis di kafe. Tapi saya nggak tau gadis itu siapa. Mereka terlihat sangat mesra. Seperti sepasang kekasih." ucap Sandra lagi.


Aku sih udah tau mas Bilson seperti apa. Tapi nggak mungkinlah kuceritakan pada wanita ini. Aku kan juga pernah melihat dia sama mas Bilson. Ah sidahlah. Nggak penting meladeninya. Tapi aku bisa mengorek informasi tentang wanita itu padanya. Batin Aletha.


'Oya? Masa sih mbak? Siapa nama wanita itu? Mbak kenal?" tanya Aletha pura-pura semangat.


"Namanya Santi. Dia itu sahabat dekatku. Nama lengkapnya Santi Zoya Larasati. Ayahnya seorang pengusaha kaya." ucapnya menjelaskan.

__ADS_1


Kali ini perasaan Sandra menggebu-gebu. Ia merasakan bahwa Aletha sudah terpancing atas apa yang diucapkannya.


"Bisakah mbak berikan alamat perempuan itu padaku?" tanya Aletha.


"Bisa. Bisa. Saya kirim saja lewat WA. Bisakah saya tau nomor WA, mbak?" tanya Sandra penasaran.


Aletha menyebutkan nomor WA nya.


"Ponsel saya di kamar. Kirim pesan saja. Nanti saya save nomor mbak." tukas Aletha.


"Sudah, mbak." ucap Sandra singkat.


Matanya fokus menatap layar ponselnya mencari-cari sesuatu yang akan dikirimkannya ke nomor Aletha.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, mbak. Nanti kalau ada info aku akan memeberitahu mbak." celetuk Sandra.


"Baiklah, mbak." sahut Aletha.


Maaf ya, San. Aku harus pakai cara ini. Supaya hubunganmu dan pak Bilson berakhir dan kamu bisa memilih Tito Kardalis, sementara aku bisa deh leluasa mendekati pak Bilson. Batin Sandra dalam hati.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Perasaannya sangat senang setelah pembicaraannya tadi di rumah Aletha. Serasa mendapat angin segar karena Aletha dengan midahnya mau memberikan nomor ponselnya padanya.


Ada benarnya juga aku membantumu, San supaya kamu nggak pusing memikirkan hendak memilih siapa. Tenang saja. Aku akan menyesaikan semuanya. Batin Sandra lagi.


"Selamat Siang, bu!" sapa seorang petugas kepada Aletha yang hendak menutup pintu rumahnya setelah Sandra pulang.


"Selamat siang! Ada urusan apa bapak kemari?" tanya Aletha.


Aletha membaca surat itu dengan teliti.


"Baik, pak. Saya akan menyampaikannya nanti kepada mas Bilson." ucap Aletha langaung.


"Baik, bu. Sampai jumpa nanti di kantor pengadilan." ucap petugas itu. Lalu pamit pergi.


Aletha menutup kembali rumah itu, lalu meletakkan kertas itu di atas meja ruang tamu.


Lalu ia beranjak ke kamar hendak membuka ponselnya. Karena ia teringat akan Sandra.


"Apa? Kok bisa berkas-berkas ini ada di tangannya? Apakah dia yang mengambilnya?" ujar Aletha terperanjat.


Ia memperhatikan dengan teliti berkali-kali. Tapi tetap saja tak ada kejanggalan dalam berkas itu.


"Benar. Ini berkasku. Ini asli. Darimana dia mendapatkannya? Apakah dari mas Bilson atau jangan-jangan......"


Tuuuuuut tuuuuuuuuut tuuuuuuuut


Tuuuuuut tuuuuuuuuut tuuuuuuuut


Nomor yang anda tuju sedang sibuk.


"Arrgggh, sial! Pakai sibuk lagi nomornya!" umpat Aletha saat ponsel Sandra tak tak tersambung.

__ADS_1


Sementara di perusahaan.


"Gimana? Berhasil?"


"Berhasil, pak. Ini ada di tanganku sekarang."


"Bagus. Aku meunggumu di kantorku."


"Jangan, pak. Di kafe Dilla aja. Kita ketemu di sana."


"Baiklah."


Bilson memutuskan panggilannya setelah mendapat kesepakatan dari orang yang meneleponnya.


"Siapa, mas?" tanya Santi.


Rupa-rupanya ia ikut Bilson ke kantor.


"Rekan kerja. Kami sedang merencanakan sebuah proyek." jawab Bilson.


"Oooh." gumam Santi.


"Laki-laki atau perempuan, mas?" tanya Santi penih selidik.


"Kamu tenang aja, sayang. Laki-laki kok." ucapnya.


"Ooohh, kirain perempuan." tukasnya.


"Memang kenapa kalau perempuan? Kamu cembur" tanya Bilson menggoda Santi.


"Cemburulah. Bisa saja kan mas tergoda dengannya. Lagian hati seseorang mana ada yang tau. Bisa saja kan mas kepincut karena kecantikannya." tukas Santi.


"Nggaklah, sayang. Hanya kamu yang paling cantik." goda Bilson.


Sekelebat wajah Santi memerah bak buah delima. Ia merasa senang dipuji sekaligus malu-malu kucing. Untung saja nggak malu-maluin. Hahahaha.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Bilson.


"Nggak apa-apa kok mas. Memangnya aku kenapa?" tanya Santi pura-pura.


"Pipi kamu memerah, sayang." ujar Bilson.


Santi menutupi wajahnya denga kedua telapak tangannya.


"Aku aku ke t-toilet sebentar ya, mas." ucap Santi grogi.


Dia langsung beranjak tanpa persetujuan dari Bilson.


Dia kenapa sih? Apa dia beneran cemburu? Batin Bilson.


Tiba -tiba ponsel Bilson berdering lagi. Dilihatnya nama Aletha yang terpampang di sana. Namun Bilson tak berniat sedikitpun menghiraukannya. Ia membalikkan ponselnya dan meletakkannya diatas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2