Mama Superku

Mama Superku
Aku Mau Kita Cerai


__ADS_3

Dua jam sebelumnya.


"Kenapa map ini ada di sini? Ini kan map surat cerai yang kemarin." gumam Aletha.


Ia langsung meraih map itu dari tong sampah.


Dirogohnya isi map itu dan ternyata masih ada surat di dalamnya.


"Lha? Kenapa suratnya sobek begini?" gumamnya lagi.


Surat cerai yang sudah diberikannya kepada Bilson kemarin sudah robek menjadi empat bagian.


Dengan tergesa-gesa ia menghampiri Bilson yang sedang sibuk dengan ponselnya di dalam kamarnya.


"Mas! Mas!" panggilnya.


"Hmmm." Bilson hanya berdehem.


"Mas, kenapa mas merobek surat cerai ini? Bukankah ini yang kamu mau?" ucap Aletha.


"Suka-suka aku dong mau diapain itu surat. Ngapain juga aku harus tanda tanganinya. Hufft." ucap Bilson ketus.


Tak perduli dia dengan Aletha yang memandangnya penuh amarah.


"Tapi aku mau kita cerai, mas. Aku nggak mau lagi hidup serumah dengan manusia seperti kamu." ucap Aletha.


"Aku nggak perduli. Yang jelas aku tak mau menandatangani surat itu. Mau bagaimana pun caramu aku tidak akan menggugatmu! Titik!" ujar Bilson.


Maksudnya apa sih? Nggak mau menceraikan aku tapi aku diperlakukan seperti bukan manusia. Bahkan aku nggak dianggap sebagai istrinya. Batin Aletha.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Mas bukannya senang kita bercerai lalu kamu bisa leluasa tidur dengan wanita itu?" ucap Aletha mencoba memancing.


Ia ingin mendengar alasan yang keluar dari mulut Bilson.


"Kalau kamu berani bicara tentang perceraian aku nggak akan segan-segan berbuat kasar kepadamu maupun anakmu!" ancam Bilson.


"Mas!" pekik Aletha.


"Kamu sudah gila! Darah dagingmu sendiri mau kamu celakai. Tidak. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Langkahi dulu mayatku!" ucap Aletha berani.


Dari mana dia dapat kekuatan begitu? Biasanya juga dia diam aja. Batin Bilson.


"Oya? Apakah kamu bisa melindunginya? Aku nggak yakin. Dirimu sendiri aja nggak bisa kamu lindungi apalagi orang lain!" ucap Bilson sepele.


"Orang lain kamu bilang, mas? Dia anak kamu juga mas!" jerit Aletha.


Bilson sampai menutup kedua telinganya karena suara keras yang keluar dari mulut Aletha.


"Bisa nggak sih kamu kecilin suara kamu? Berisik tau!" ujar Bilson ketus.


Ia meninggalkan Aletha begitu saja tanpa rasa perduli sedikit pun. Dihempaskannya pintu kamarnya dengan sangat kuat hingga membuat orang yang mendengarnya nyaris copot jantung. Karena hentakan itu sangatlah kuat. Bahkan menggetarkan seisi rumah.


"Hallo, bisa kamu bantu saya?" tanya Bilson tanpa basa basi kepada orang di seberang.


"Bisa, pak. Ada apa?" Suara wanita menyahut.

__ADS_1


Bilson menceritakan apa yang akan dilakukan wanita itu. Lalu mengakhiri panggilannya.


Dua jam sesudahnya.


Krrrrrrrk krrrrrrrrrk


Krrrrrrrk krrrrrrrrrrk


Bunyi suara dari dalam perut Santi. Para cacing sudah konser dari tadi minta diisi.


"Hmmmm, semoga saja mas Bilson sudah pulang." lirih Santi.


Ia berjalan perlahan menghampiri pintu dan membukanya.


"Mas Bilson!" pekiknya.


"Akhirnya kamu keluar juga sayang. Aku capek tau nungguin kamu. Sampai lalatan aku di sini." gerutu Bilson.


"Siapa suruh mas nggak pulang. Uda aku usir juga tadi. Masnya aja yang nggak mau." ucap Santi ketus.


"Nggak mau dong sayang. Habisnya kamu belum mau mendengarkan penjelasanku." tukas Bilson.


Ternyata Bilson masih belum menyerah. Ia masih tetap ngotot untuk menjelaskan semuanya kepada Santi. Sampai-sampai ia rela menunggu berjam-jam di luar tanpa Santi memperbolehkannya masuk.


"Kita makan di luar yok! Kasian dia dan ibunya uda kelaparan." tukas Bilson.


Ia membelai perut Santi yang masih rata.


Santi pun menurut mengikuti langkah Bilson menuju garasi mobil.


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanyanya pada Santi saat mereka sedang mencari-cari tempat yang cocok.


"Kenapa harus nasi padang, sayang?"


"Nggak apa-apa, mas. Rindu aja dengan masakan padang." ucap Santi santai.


Bilson masih sibuk dengan setirnya dan pandangannya lurus ke depan.


"Tapi rumah makan padang kan di sini di pinggir jalan. Takutnya nanti bayi kita nggak sehat." tukas Bilson datar.


"Kita ke resto aja ya, sayang!" ujar Bilson membujuk Santi.


"Siapa bilang rumah makan padang nggak sehat? Kamu salah, mas. Biarpun rumah makan padang di pinggir jalan, tapi tetap bersih dan higienis. Rasanya juga hmmm sangat menggoda." ucap Santi.


Hidungnya mendengus membayangkan masakan padang seolah-olah sudah ada di depannya.


"Lagian kalau di resto, belum tentu juga higienis. Apalagi rasanya. Hmmm sejauh ini lidahku menikmati masakan padang, mas." gumam Santi lagi.


Bilson masih diam seribu bahasa.


"Itu, mas. Di situ aja!" ujarnya semangat.


Tangannya menunjuk salah satu rumah makan yang sedang ramai dikerumuni para pelanggan.


Bilson menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Lihat saja, mas! Kalau nggak higienis dan nggak enak, kenapa orang-orang banyak yang makan di sini. Mas boleh nyobain kok!" tukas Santi.


"Sayang, kamu kan orang kaya. Buat apa kamu makan di tempat beginian. Masih ada restoran yang lebih mewah dari sini, sayang!" bujuk Bilson.


Bilson masih tak mau menyerah. Ia akan tetap mencari akal agar jangan sampai dirinya dan Santi menginjakkan kaki di rumah makan itu.


"Soal rasa nggak pernah memandang seseorang itu tinggi atau rendah, kaya atau miskin. Yang penting nikmat di lidah." jawabnya semangat.


"Tapi sayang...."


"Udah yok! Nggak usah banyak pertimbangan. Nanti nyesal kalau nggak makan!" ujar Santi.


Santi langsung keluar dari mobil dan bergegas memesan menu yang dia inginkan. Rasa laparnya semakin menyeruak saat mencium aroma masakan khas minangkabau itu.


"Hmmmmm! Harumnya!" gumamnya.


Bilson yang masih ada di dalam mobil hanya bisa menatap kekasihnya itu. Namun dia masih enggan untuk masuk ke dalam rumah makan itu.


Sementara Santi sudah duduk tidak sabaran menunggu pesanan datang.


"Kenapa mas Bilsonnya belum masuk? Ahh, sudahlah. Mungkin ke toilet kali." gumam Santi.


______


"Kamu mau kemana? Masih aja keluyuran!" tukas Sanjaya.


"Aku mau keluar. Bosan aku di rumah!" jawabnya ketus.


"Nggak bisa apa kamu betah di rumah sebentar saja? Kasian Naina!" ujarnya.


"Bodo amat!" ucap Dewi santai.


"Dasar ibu yang nggak punya hati. Enyahlah kau dari sini!


Sanjaya meninggalkan Dewi dengan perasaan kesal dan marahnya.


Aduh, lupa aku nanya soal credit card. Batin Dewi.


"Mas! Mas Jaya!" serunya.


Sanjaya tak menghiraukannya. Ia menggendong Naina dan mebawanya keluar untuk jalan-jalan.


"Mas!" seru Dewi.


Dewi menarik lengan Sanjaya.


"Mas! Kenapa kamu blokir credit card aku? Kamu tega mas!" ucapnya.


"Apa bedanya sama kamu? Kamu juga tega menelantarkan Naina. Kamu lebih sibuk dengan duniamu!" ucap Sanjaya ketus.


Ekspresinya datar tanpa memperdulikan Dewi, istri sahnya itu.


"Lepaskan tanganku! Kamu nggak lihat aku lagi gendong Naina?" bentak Sanjaya.


Dewi spontan melepaskan tangannya dari lengan Sanjaya.

__ADS_1


"Dasar suami pelit! Kikir!" celetuk Dewi.


"Lebih baik aku pakai uangku untuk menyenangkan putriku dari pada untuk foya-foya terhadap wanita gila seperti kamu!" ucap Sanjaya mengeraskan suaranya sambil menaikkan alis matanya.


__ADS_2