Mama Superku

Mama Superku
Titip Anak Saya


__ADS_3

"Kalau kamu masih saja tak mau diajak kerja sama, maka aku akan berbuat lebih kasar lagi. Apakah kau mau kehilangan putra kesayanganmu ini? Hah?" bentak lelaki berambut gimbal itu. .


Aletha hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan kedua pria bringas itu dengan terpaksa.


Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan baby Eril. Matanya tak pernah sedikit pun terlewat dari sosok baby Eril.


"Siapa kalian sebenarnya? Dan untuk apa kalian membawa saya dan bayi saya?" tanya Aletha lagi.


Ia menelan salivanya.


Aletha mencoba bicara baik-baik agar lelaki itu mau memberitahukan identitas mereka.


"Siapa kami?? Hahahha! Apakah anda perlu tau tentang kami? Hahahha! Itu tidaklah penting!" tukas lelaki itu.


"Tapi itu penting bagi saya."


"Aku bilang tidak!" teriak lelaki itu tepat di telinga Aletha.


Kemudian lelaki itu duduk di samping Aletha, lalu meminta baby Eril dari si rambut gimbal itu.


"Ayo, Radot! Lebih cepat lagi bawa mobilnya! Kita akan segera membuat mulut wanita ini berhenti!" tukas lelaki pendek itu kepada temannya.


Aletha bisa menyimpulkan bahwa lelaki yang berambut gimbal itu bernama Radot. Dan dia jugalah yang menjadi supir mereka.


Mereka membawa Aletha dan baby Eril entah kemana.


"Halo, boss! Target sudah saya amankan." ucap lelaki itu lewat ponselnya.


"Okeh. Jangan diapa-apakan dia. Kita cukup jadikn dia sebagai umpan saja. Supaya si Bilson ity datang." ucap seorang lelaki dari seberang.


"Siap, boss. Kami akan membawa dia ke tempat yang sudah disediakan." ucap lelaki itu lagi kepada bossnya itu.


Panggilan pun terputus.


Aletha menatap ngeri kepada kepada kedua pria itu sambil memperhatikan baby Eril yang sedang terlelap di pangkuan lelaki itu.


Kemana mereka akan membawa kami? Dan kenapa juga dia menyebut nama mas Bilson. Ada apa sebenarnya? Tanya Aletha dalam hati.


"Halo, Lun! Kamu segera ke markas sekarang!" ucao lelaki itu lagi lewat ponselnya.

__ADS_1


Entah siapa lagi yang dia hubungi. Aletha tak tau sama sekali. Pertanyaan-pertanyaan di kepalanya menumpuk sudah. Tak tau kapan akan terpecahkan. Hanya satu yang dia inginkan dan selalu doakan dalam hati. Keselamatan putranya.


Aletha melihat sebuah gedung yang mewah dan sangat megah. Bahkan dia sempat mengagumi gedung tersebut. Mobil yang sedang dia tumpangi pun ternyata menuju ke gedung tersebut.


Anehnya, gedung itu terletak di tengah-tengah hutan. Sungguh sangat jauh dari keramaian kota. Bulu kuduknya pun berdiri. Pikiran-pikirannya jauh menerawang entah kemana.


"Selamat datang nyonya!" sapa beberapa pelayan yang sudah menyambut merek di depan pintu. Berbaris sambil membungkuk sebagai penghormatan kepada Aletha , baby Eril dan kedua pria itu.


Aletha hanya tersenyum menyambut sapaan para pelayan yang mengenakan seragam itu.


Para pelayan itu pun menatapnya dengan tatapan heran. Selama ini, tidak satu pun yang boleh berani memandang para pelayan sambil tersenyum.


Itulah aturan yang dibuat oleh majikan yang ada di rumah megah tersebut. Jika mereka melanggar, maka si pelayan harus menjelaskan secara rinci agar tamu tidak mengulangi keaalahan yang sama.


Peraturan macam apa ini? Ada-ada saja ide gila si majikan ini. gerutu Aletha setelah seorang pelayan wanita menjelaskan kepadanya.


"Sebenarnya kenapa saya dibawa ke sini, pak? Apa kesalahan saya?"


Aletha mencoba untuk bertanya lagi kepada pria yang menculik mereka.


"Ini adalah perintah boss, nyonya. Dan kami hanya menuruti perintah boss. Tak ada yang lain yang berhak memerintah kami selain tuan." jawab lelaki yng bernama Radot itu.


"Luna, tolong jaga dan rawat anak ini!" tukas Radot kepada Luna yang ditelepon tadi saat di mobil.


"Mau dibawa kemana anak saya? Saya tidak ijinkan!" ucap Aletha cepat sebelum Luna melangkah.


"Tidak, nyonya Kami hanya mendengarkan perintah dan ijin dari tuan boss kami." ucap Radot lagi mencoba mengulangi lagi.


"Ta-tapi mau dibawa kemana? Saya nggak mau jauh darinya. Tolong berikan dia padaku. Aku harus selalu ada di dekatnya." ucap Aletha.


"Tidak, nyonya. Ini perintah tuan.


"Mana tuanmu? Aku mau ketemu. Siapa dia? Tak punya hati nurani kah sampai tega memisahkan anak dari ibunya?" ucap Aletha dengan lantam.


Ketakutannya seolah sirna saat dia tau mereka akan membawa baby Eril jauh dari dirinya.


"Kami tau nyonya sedih, tapi ini juga perintah. Dan tidak ada yang boleh melanggarnya." tukas lelaki yang berkulit hitam tersebut dan diangguki oleh Radot.


"Kasihan babynya, Sandy." celetuk Radot.

__ADS_1


Ternyata lelaki yang ikut bersama Radot itu bernama Sandy. Aletha merekam semua itu di dalam memorinya.


"Tapi ini perintah, Radot. Dan tidak ada yang boleh melanggarnya." sahut Sandy mengingatkan kepada Radot.


"Iya, aku tau. Maaf kalau aku sudah lupa." ucap Radot sambil tertunduk.


Luna yang sudah menggendong baby Eril pun melangkah meninggalkan mereka bertiga. Dan kini giliran Aletha yang dibawa oleh kedua pria itu.


"Saya mau dibawa kemana?" tanya Aletha penasaran.


"Nyonya akan bertemu dengan boss." jawab Sandy.


"Siapa boss kamu? Apa maunya?" tanya Aletha lagi.


Baik Sandy maupun Radot tak ada yang menjawab satu pun. Mereka serius menggiring Aletha menuju kamar bossnya itu.


"Titip anak saya, pak. Saya mohon anak saya jangan dilukai, pak.Saya mohon!" ucap Aletha.


Bibirmya gemetaran dan butiran bening jatuh di pipinya.


"Tenang saja, nyonya. Putra nyonya akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi hal yang buruk kepadanya. Karena orang yang menjaganya adalah perempuan yang sangat handal dalam menangani anak kecil." sahut Sandy.


Radot mengangguk mengiyakan penuturan Sandy.


"Silakan masuk, nyonya! Tuan sudah menunggu nyonya di dalam ruangannya!" ujar Radot kepada Aletha.


Mereka sudah sampai di depan sebuah ruangan yang tertutup setelah menyusuri lorong yang begitu panjang dan dihiasi oleh barang-barang antik serta para pelayan yang berdiri menunduk di sepanjang lorong yang mereka lalui.


Aletha terasa gamang dan ragu. Ini adalah tempat asing baginya. Karen baru pertama sekali dia melihat rumah yang nuansanya seperti ini. Berat rasanya kakinya melangkah untuk masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan tangannya pun susah digerakkan untuk membuka pintu itu.


"Cepatlah, nyonya! Nanti tuan bisa marah." ucap Sandy kepada Santi yang sedang sibuk dengan pikiran-pikirannya.


"Atau nyonya mau putra anda tidak selamat?" tanya Radot mencoba menggertak.


"Jaga ucapanmu! Nanti boss bisa marah." tutur Sandy.


Radot tertunduk dan merasa menyesal karena kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.


Mendengar mereka menyebut putranya, keberanian Aletha pun kembali muncul.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Lindungilah anakku. Jangan biarkan siapa pun melukainya. batin Aletha dalam doanya.


__ADS_2