
"Itu dia, pak."
Para petugas mengejar lelaki yang memakai hoodie itu dengan cepat, namun mereka kehilangan jejak karena lelaki itu telah menghilang entah kemana. Namun itu tak jadi persoalan bagi mereka, karena merek telah berpencar mencari buronan yang sudah beberapa hari ini mereka kejar.
Sorang polisi muda yang tidak mengenakan seragam kepolisian namun ikut andil dalam pencarian buronan tersebut, sedang berjalan santai di perempatan jalan yang tidak terlalu ramai, dan juga tidak terlalu sepi.
"Mau kemana, pak?"
"Saya mau pulang, pak."
"Pulang kemana? Memangnya bapak bukan orang sini?"
"Bukan, pak. Saya sedang ingin bersembunyi dari kejaran polisi. Bapak bisakah bantu saya? Nanti apabila ada polisi yang lewat dan menanyakan seseorang yang ciri-cirinya mirip seperti saya, tolong bilang nggak ada, ya pak! Aku mohon, pak. Aku nggak melakukan apa-apa, tapi aku mau ditangkap oleh mereka."
"Tapi, pak kalau bapak nggak salah kenapa bapak harus sembunyi?" Polisi itu berpura-pura tak tau apa-apa.
"Aku, aku nggak mau masuk buih lagu, pak. Aku capek disana. Malah nggak ada makanan lagi sebebas di luar. Bapak ada stok makanlah?"
"Saya juga lapar nih, pak. Malah jari sudah siang lagi. Sebaiknya bapak duduk di sini aja, istirahat sebentar!" pintanya.
"Nggak, pak. Nanti saya ditangkap polisi dong kalau harus istirahat di sini. Mending ke rumahku aja." Senyuman bahagianya keluar, seolah dia tak ada beban sama sekali.
"Ya, sudah. Yok kita ke rumahmu, tapi naik mobilku aja, ya pak. Sayang ongkosnya kalau harus naik taksi." Polisi itu menanggapi lelaki yang tak lain adalah Revan itu dengan maksud agar ia tak mealarikan diri. Sementara pak polisinya sangat senang karena ia tak perlu mengeluarkan biaya yang banyak untuk menemukan seorang narapidana yang sedang asyik mengobrol dengannya.
"Syukurlah aku nggak pakai seragam, coba kalau iya, pasti ini orang nggak akan tertangkap hari ini," batinnya. Tangannya mengelus dadanya dengan pelan.
__ADS_1
"Lho, ini bukannya mobil polisi, pak? Kenapa bapak naik mobil polisi? Apakah bapak juga sedang dikejar polisi sekarang?" Lelaki yang bernama Revan itu Mai panik dan mencoba untuk melarikan diri, namun ia kalah. Karena polisi itu sudah memborgol tangannya dengan cepat.
"Sial! Kenapa aku bisa bodoh begini, ya?" Ia merutuki kebodohannya sendiri.
Akhirnya, hanya pasrahlah yang dapat ia lakukan sekarang. Mau melarikan diri pun sudah tak bisa lagi. Tangan sudah diborgol.
"Bapak telah menipu saya?"
"Saya tak ada menipu Anda, saya hanya sedang melakukan apa yang mesti saya lakukan. Dan ingat satu hal, polisi bukannya hanya dia yang mengenakan seragam saja. Diluaran sana, banyak polisi yang tidak memakai seragam."
"Dan kau pun harusnya tau kalau kami nggak semudah yang bapak pikirkan untuk bapak bodohi. Selamat menikmati hidup anda di dalam penjara. Seandainya anda tidak melarikan diri, hukuman anda nggak aka diperpanjang."
Dibukanya pintu itu, lalu didorongnya tubuh Revan agar masuk ke dalam. Lalu ditutupnya lagi setelah Revan sudah duduk manis di dalam.
"Halo! Saya sudah menemukannya." Polisi itu menghubungi rekannya. Lalu mematikan talkie walkienya dan memasukkan ke dalam saku celananya.
"Pak, maafkan saya pak. Saya nggak ada niat untuk kabur. Saya hanya sedang mencari udara segar, pak. Saya bosan di penjara, pak. Makany saya berusaha untuk keluar agar saya bisa menikmati sinar sang surya, pak. Bapak tau kan kalau kita kekurangan sinar surya? Bisa-bisa sakit loh, pak. Memangnya kalau saya sakit, bapak mau mengurus saya?"
Polisi itu hanya bisa bergeming atas esmua ocehan-ocehan tak jelas dari mulut Revan.
Sementara di kediaman Aletha, semua orang sudah berkumpul. Ada Dena dan juga dokter Ariel di sana. Mereka masih belum bisa membujuk Aletha untuk menerima Bilson kembali dalam hidupnya.
"Kamu sudah lihat, Tha bagaimana gilanya Revan yang mencoba mengusik kehidupan kalian. Apa kamu nggak kasihan sama baby Eril? Kalau kamu bawa dia ikut kerja aku sih nggak keberatan. Tapi apakah itu nggak menyita waktunya untuk tidka bermain bersama teman seusianya?"
Aletha masih tak bereaksi. Ia masih menyimpan banyak kenangan pahit di dalam dadanya, kenangan yang telah ditancapkan oleh Revan yang tak mudah untuk dilupakan.
__ADS_1
"Lagian kau juga kan mengenal Bilson. Yah, pasti kau taulah bagaimana sikapnya. Dia masih mencintaimu sampai sekarang. Aku yakin itu dari tatapan matanya terhadapmu." Dena masih mencoba membuka pemikiran Aletha.
Mama Vina dan papa Irwan hanya bisa diam membisu mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Dena. Mereka tak ingin memaksakan kehendak. Jika memang Aletha nggak mau atau bahkan belum siap, maka mereka tak ingin terlalu menekan putri dengan anak satu itu.
Karena bagi mereka, kebahagiaan anaknya itu adalah yang paling utama. Meskipun mereka tau kalau dulu Aletha dan Bilson saling mencintai.
"Untuk sekarang aku belum bisa menerima siapapun dalam hatiku, Den. Rasanya hati ini sudah sulit untuk percaya terutama yang namanya lelaki. Aku ingin fokus membesarkan anakku walau harus jungkir balik sekalipun."
Ditatapnya baby Eril yang sudah tertidur di pangkuannya. Sepertinya bayi mungil itu sedang kelelahan.
"Aku akan selalu ada untuknya, dan menyerahkan seluruh cintaku hanya untuknya. Tak ada yang boleh mengambilnya dariku."
"Apakah kau bisa memberikan cinta sebagai seorang ayah untuknya? Apakah kau bisa menjadi ayah baginya juga?" Dena bertanya serius.
"Kenapa tidak? Jika aku masih bernapas, maka apapun bisa aku lakukan. Kenapa orang lain bisa aku tidak bisa? Ah, tidak. Aku yakin aku bisa. Aku kuat demi anakku. Karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaannya, bukan kebahagiaanku. Bila dia bahagia, akupun bahagia."
Kalimat terakhir yang dia ucapkan seolah memerintahkan mereka agar bungkam Dan benar saja, tak ada yang berani berucap lagi. Mau tak mau, suka tidak suka, keputusan memang ada di tangan Alteha. Mereka tidak bIsa memaksakan keinginan mereka untuk hidup Aletha, termasuk mama dan papanya.
Bukankah seharusnya memang begitu? Karena sesuatu yang dipaksakan itu akan berakhir dengan pahit, karena hati dari awal sudah tak menerima.
Aletha memperbaiki dudukny, lalu menyandarkan kepalanya di sofa hingga mendongak keatas.
"Apakah kau baik-baik saja, Tha?" Dena sedikit khawatir. Begitu sensitifnya dia terhadap sahabatnya itu.
"Aku nggak apa-apa." Aletha menegakkan kembali tubuhnya, untuk membuktikan kepada mereka semua bahwa dia baik-baik saja. "Aku baik-baik saja, kalian nggak usah cemas!" gumamnya. Sekilas ia menatap mama dan papanya terlihat banyak. Begitu juga dengan Dena dan dokter Ariel. Seperti empat ornag, padahal hanya dua orang saja.
__ADS_1
Namun bagi Dena itu terlihat tidak baik-baik saja. Karena yang ia tau, bila Aletha duduk seperti tadi berarti dia sedang merasakan sesuatu.