
"Mama, papa, bagaimana kabar mama sama papa?" tanya Aletha kepada mama dan papanya. Tak henti-hentinya dia memeluk mamanya.
"Kami di sini baik-baik saja nak, ada Bilson yang selalu menjaga kami. Tak pernah ia biarkan kami terluka bahkan sedikitpun," ucap papa Irwan penuh haru.
"Kamu apa kabar sayang? Mama sangat merindukanmu? Apakah kau baik-baik saja?" Mama Vina memeriksa tubuh putrinya itu dari atas sampai ke bawah, untuk memastikan bahwa putrinya itu baik-baik saja.
"Aletha nggak papa ma, pa. Aletha baik-baik saja, nggak ada yang kurang kok ma, tenang saja," gumamnya. "Oh ya ma, pa, ini cucu kalian. Namanya Eril." Aletha melirik Eril yang masih saja menggenggam jemari tangannya dengan erat.
"Sayang salim dulu sama oma, sama opa juga!" ucap Aletha kepada Eril. Ia mengarahkan tubuh Eril kepada mama Vina dan juga papa Irwan dan disambut oleh mereka.
Eril menyalim punggung tangan mama Vina lalu kemudian papa Irwan. Mereka memeluk Erill secara bergantian, yang dimulai dari mama Vina lalu papa Irwan.
Suasana di ruangan itu penuh haru. Bahagia yang tak bisa diungkapkan oleh apapun, saking bahagianya karena telah bertahun-tahun tidak bertemu, air mata pun tak terasa jatuh.
"Mama kenapa menangis?" Aletha mengusap pipi mama Vina dengan jari jempolnyanya yang sudah basah karena air mata.
"Mama nggak apa-apa sayang. Mama hanya bahagia akhirnya bertemu denganmu dan ternyata mama juga sudah punya cucu. Jadi mama sampai mengeluarkan air mata karena bahagianya." Aletha dan nama Vina pun berpelukan lagi.
Setelah suasana yang mengharukan itu Bilson menyarankan agar Aletha dan Eril untuk sementara tinggal di rumahnya, namun Aletha menolaknya. Dia ingin membawa mama dan papanya kembali ke rumahnya, rumah yang penuh kenangan bagi mereka.
Akhirnya dengan berat hati Bilson mengizinkan mereka untuk pergi.
"Oma, ayo main sama Abang!" pinta Eril kepada omanya yang sedang duduk di sofa. Entah apa yang dilamunkannya sehingga ia tak mendengar apa yang dipintakan oleh sang cucu.
__ADS_1
"Oma, ayo main sama Abang!" pinta Eril lagi. Ia mengayun-ayunkan tangan omanya agar mendengarkan permintaannya.
"Eh cucu Oma, kenapa sayang?"
"Oma lagi apa? Abang mau main sama oma."
"Ya sudah, yuk kita main!" Oma Vina menggandeng tangan cucunya itu, dan mereka pun pergi ke halaman depan. Mereka melewati opa Irwan saat menuju halaman depan.
"Opa, ayo main! Main sama Abang!" Opa Irwan melirik sekilas. Oma Vina mengisyaratkan agar menuruti kemauan cucunya itu. Dan mereka pun bersama-sama pergi ke halaman depan.
"Ayo oma tendang bolanya ke sini!" pinta Eril.
Opa Irwan terkekeh karena ternyata Eril mengajak mereka ke halaman untuk bermain bola. Sementara oma Vina, pura-pura cemberut.
"Sakit Oma, aduh!" rintihnya. Eril dan oma Vina akhirnya tertawa bersamaan. Sementara oma Vina masih dengan kekehannya, sambil berjalan menuju teras, lalu duduk di kursi yang ada di sana. ia memanfaatkan waktu agar ia terbebas dari sana. Agar ia tak ikut serta bermain bola. Ia berniat hanya untuk menonton saja, dan memperhatikan Eril siapa tahu nanti dia akan jatuh dan terluka.
" Oma nunggu di sini aja, oma mau menonton aja, mendukung kalian berdua." Oma Vina sedikit berteriak, agar terdengar oleh Eril dan juga opa Irwan.
Meski cemberut mendengarkan penuturan dari sang oma, Eril tetap melanjutkan mainannya bersama dengan opanya. Tentu saja karena opanya yang berhasil membujuk makanya dia mau melanjutkan mainnya.
"Sayang kita makan cemilan dulu, yuk!" ajak Aletha kepada Eril. Ia membawa sebuah nampan dari dalam lalu meletakkannya di atas meja di depan mama Vina. "Ayo pa, ma, kita nikmati dulu pudingnya!" ajak Aletha lagi kepada mama Vina dan juga papa Irwan.
Eril berlari-lari menghampiri sang mama. Apalagi saat mendengar kata puding. "Pelan-pelan sayang nanti kamu jatuh!" ujar opa Irwan. Eril tak menghiraukannya. Ia masih saja berlari-lari hingga sampai di teras handak mengambil sepotong puding.
__ADS_1
"Cuci tangan dulu!" ujar Aletha. Kemudian ia menggenggam jemari tangan Eril, dan membawanya ke wastafel yang ada di samping teras untuk cuci tangan.
Setelah mencuci tangannya sampai bersih, Eril langsung menyambar potongan puding itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu tersedak!" pinta oma Vina. Eril menelan puding yang ada di mulutnya sampai habis. "Siap oma!" jawabnya. Opa Irwan, oma Vina dan juga mama Aletha tersenyum melihat tingkah bocah kecil yang ada didepan mereka. Bocah yang sangat menggemaskan tentunya.
Sore-sore begini mereka menikmati puding hasil buatan dari Aletha. Kenangan masa lalu yang dulu pernah mereka ukir di rumah ini, tiba-tiba terkuak kembali. Karena dulu ketika Aletha kecil, mama Vina selalu membuat puding untuk mereka. Puding dari berbagai rasa.
Perasaan bahagia yang kini menghampiri mereka, karena akhirnya mereka bisa berkumpul lagi sesuai dengan harapan Aletha. Meskipun saat ini Aletha masih kepikiran dengan rumah ini, namun ia sembunyikan dari kedua orang tuanya. Ia tak mau suasana seperti ini terganggu hanya karena keriwetan yang ada dalam benaknya.
Sambil menikmati puding, sesekali mereka bercanda ria sambil tertawa. Apalagi melihat tingkah cucu mereka, yang sangat lahap. Entah karena pudingya yang enak atau karena perut yang sudah lapar, tak tahulah. Tapi memang Eril doyan dengan yang namanya puding. Mirip dengan mamanya waktu kecil.
"Eh udah habis?" tanya opa Irwan saat melihat mangkok puding yang sudah kosong. Mereka semua terkekeh kecuali Eril. Karena mulutnya masih penuh dengan puding sehingga membengkak, seperti seseorang yang sedang sakit gigi.
Eril tak mempedulikan tingkah oma, opa dan juga mamanya itu. Dia masih sibuk mengunyah puding itu sampai habis dan akhirnya pipinya kembali ke seperti semula, tidak membengkak lagi.
"Minum dulu sayang!" ujar Aletha. Ia menyodorkan segelas air minum kepada Eril. Lalu Eril meneguknya perlahan-lahan, hingga habis satu gelas.
"Wah, cucu opa memang hebat! Makan kuat, minum kuat, begitu dong biar sehat," ujar opa Irwan. Ia mengacungkan jempolnya. Oma Vina dan juga mama Aletha pun melakukan hal yang sama.
"Kalau makan, dan minum kuat, maka cucu oma pasti akan selalu sehat." Oma Vina menyambung ucapan opa Irwan. Kemudian oma Vina membawa Eril ke dalam pangkuannya lalu memeluknya dengan erat. Ia hendak mencium pipi Eril namun Eril langsung mengelak.
"Abang nggak mau. Abang udah besar jangan di cium cium!" ucapnya sambil memonyongkan bibirnya. Sungguh menggemaskan sekali tingkah bocah kecil ini.
__ADS_1