
Lelaki yang mengenakan hoodie itu masih saja berlari mencari-cari keberadaan Aletha, sambil sesekali melirik sekeliling berharap tak ada yang mencurigainya. Ia mendapatkan Hoodie itu dari lelaki tua yang duduk di lampu merah yang mengharapkan uluran tangan dari orang-orang ataupun kendaraan yang berlalu-lalang.
Sengaja ia memakai hoodie itu agar orang-orang tak ada yang mengenalinya. Jelas saja memang tak ada yang mengenalinya, karena ia jarang sekali berjalan seorang diri melewati jalan ini tanpa mengenakan kendaraan yang dulu ia pernah banggakan.
Matahari siang itu begitu panasnya. Telapak kaki yang berpijak seolah meronta ingin meminta kesejukan saat menginjak tanah yang tersentuh oleh sengatnya. Untung saja lelaki itu memakai alas kaki, kalau tidak dia akan merasakan hawa yang begitu bergelora.
"Kurang ajar! Kemana wanita gila itu? Berani-beraninya dia kabur dariku." Ia merutuki Aletha yang berhasil kabur darinya. Rintihan karena merasakan sakit dibagian lututnya, membuatnya berjalan tertatih-tatih sehingga dengan cepat ia kehilangan Aletha.
Tetapi hal itu tak menyulutkan semangatnya untuk mengejar Aletha, hingga sampailah ke keramaian. Namun tak jua ia menemukan wanita anak satu itu. "Lihat saja nanti. Bila kau kutangkap, maka takkan aku lepaskan. Berani-beraninya kau mencebloskan aku ke dalam penjara. Lihat saja, aku akan membalasmu." Masih saja ia merutuki Aletha. Seolah-olah hatinya sudah tertutup untuk menyadari bahwa dirinyalah yang bersalah.
Sementara di sebuah warung kopi yang sedang ramai pengunjung, Aletha duduk sembari menyeruput air mineral yang ia minta dari pemilik warung. Rasa takutnya masih saja ikut mengiringi langkahnya sampai ke warung tersebut. Namun, ia berusaha untuk menyembunyikannya, agar orang-orang tak mencurigainya dan dia pun bebas bersembunyi di sini.
Aletha mencoba mengutak-atik ponselnya, berharap masih bisa digunakan. Namun harapan tetaplah harapan. Benturan kuat yang dihasilkan oleh Revan berhasil membuat ponsel itu tak bernyawa lagi. Padahal menurutnya, itulah satu-satunya hal yang bisa membantunya.
"Oh, mungkin saja baterainya habis. Sebaiknya aku pinjam saja charger ibu pemilik warung ini," lirihnya.
Setelah ia mendapatkan charger, ia kembali berkutat dengan ponselnya memasukkan charger ke soket dan berbunyi 'klung' tanda charger-nya masuk.
"Syukurlah masih nyala," bisiknya. Ia menunggu beberapa saat sebelum kembali mengutak-atik ponsel tersebut.
Sementara di tempat lain, dokter Ariel dan juga Dena beserta Eril tak jadi makan. Mereka fokus untuk mencari keberadaan Aletha. Dokter Ariel sudah membelikan beberapa makanan yang bisa mereka makan di dalam mobil sembari mencari keberadaan Aletha.
Dilihatnya Dena istrinya itu sedang menyuapi baby Eril dengan lihainya, sambil sesekali ia memasukkan nasi ke dalam mulutnya, sepiring berdua dengan baby Eril. Eh, bukan piring tapi kotak. Dari mana dapat piring coba. Haha.
"Dasar, tadi katanya nggak mau makan, eh malah habis dua kotak." Dokter Ariel berucap dalam batinnya, tak sadar kalau ia sudah tersenyum.
"Kenapa tersenyum, mas? Ada yang lucu gitu?" Dena mengejutkannya.
"Eh, oh, itu, nggak, nggak ada kok." Menjawab dengan gugup. Tangannya sibuk di belakang kemudi.
"Trus kenapa ketawa sendiri?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok. Hanya teringat yang lucu saja."
Dena melanjutkan menyaupi baby Eril, suapan terakhir. Karena dua kotak nasi ludes habis oleh mereka berdua. Lalu ia memberikan minum kepada baby Eril. Kemudian, dibersihkannya pipi chubby baby Eril yang megering karena nasi yang menempel.
"Selesai!" ujarnya sambil tersenyum lebar lalu mencium pipi chubby Eril dengan hidung mancungnya.
"Bunda!"
"Iya, sayang. Kenapa?" Didekatkannya wajahnya kembali kepada bayi dibawah tiga tahun itu.
"Mama mana? Abang rindu."
"Iya, sayang. Nih kita mau ketemu mama."
"Sungguh?" Ia sangat bersemangat saat bundanya bilang mau ketemu sang mama.
"Iya. Kita mau ketemu sama mama. Iya kan, yah?" Dena melirik dokter Ariel.
"Asyiiiik!" Eril bersorak riang sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Seperti aku mengenal wanita itu," batin dokter Ariel. Ia memperlambat laju mobil hingga sampailah di depan sebuah warung kopi.
"Sayang, itu Aletha bukan?" tanyanya kepada Dena yang sibuk bermain dengan Eril.
"Mana, sayang?" tanyanya penasaran.
Dokter Ariel menunjuk ke arah warung kopi tersebut. Nampaklah dengan jelas oleh Dena kalau itu adalah Aletha, sahabatnya setelah dokter Ariel menghentikan mobil.
Terlihat jelas wajah yang begitu bersinar karena senangnya menemukan sahabatnya yang baik-baiks saja sedang duduk sambil berkutat dengan ponselnya.
"Mama!" Eril langsung berseru dan kemudian berlari ke pelukan sang mama.
__ADS_1
Aletha sangat terperanjat karena mendengar seseorang memanggil mama, lalu ia menoleh dan Eril langsung memeluk tubuh yang masih jongkok.
Adegan mengharukan pun terjadi di warung itu. Penghuni warung baru sadar akan kehadiran Aletha. Dari tadi mereka sibuk dengan obrolan mereka.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Ditatapnya wajah Eril dengan lekat, lalu diperiksanya seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah.
"Abang baik-baik aja, ma."
Kembali lagi Aletha membawa baby Eril ke dalam pelukannya. Air mata bahagianya tak terasa jatuh membasahi pipinya.
"Mama, jangan nangis!" Diusapnya pipi mama Aletha dengan jemari mungilnya.
Air mata itu bukannya berhenti mengalir, malah semakin deras.
"Mama senang melihatmu baik-baik saja, sayang. Mama nggak mau kehilangan kamu." Ia terisak-isak.
Dena mengajak Aletha agar masuk ke dalam mobil agar mereka leluasa untuk berbicara di sana.
Setelah Aletha mengembalikan charger yang ia pinjam dan mengucapkan terimakasih, serta membayar air minum yang dipesannya tadi, mereka pun masuk ke dalam mobil
Sesekali Aletha celingukan mencari-cari sosok yang mengejar dirinya dari tadi.
"Kamu darimana, Tha? Kenapa kamu bisa terdampar di sini? Malah ponsel kamu nggak bisa dihubungi lagi." Dena langsung menjejali Aletha beberapa pertanyaan.
Aletha menjelaskan secara rinci bagaimana ia sampai di sini.
"Kami sudah menghubungi polisi, sebentar lagi dia akan tertangkap." Dokter Ariel ikut nimbrung. "Entah kenapa dia bisa kabur," lanjutnya.
"Ini semua gara-gara aku. Entah kenapa tadi aku meninggalkannya di rumah. Pasti dia nggak akan membawa baby Eril," ucapnya menyesal.
"Berhenti menyalahi diri kamu sendiri, Tha. Kamu nggak salah. Dasar si Revan itu aja yang gila. Berani dia kabur dari penjara. Lihat saja, hukumannya akan berlipat ganda karena sudah mencoba melarikan diri."
__ADS_1