
"Lepaskan saya!" Seseorang telah menarik paksa tangan seorang pria yang sedang menggendong seorang anak kecil yang tak lain adalah Eril.
"Eril!" jerit Dena saat melihat dengan jela.dari jarak dekat kalau anak kecil itu adalah Eril. "Sayang, sini sama bunda!"
"Lepaskan anak itu, Revan!" Dokter Ariel juga ikut berteriak. "Mau kau bawa kemana anak itu? Lepaskan!"
"A-anda siapa? Kenapa anda menghalangi saya?" tanya lelaki itu sedikit berteriak. Ia belum pernah melihat pria itu.
"Berani-beraninya kau menculik Eril. Berikan dia padaku! Kami sudah melaporkanmu ke kantor polisi atas tindakan pencurian. Jangan coba-coba kabur." Dokter Ariel mengancam.
"Kenapa kau kabur dari penjara? Hah? Tak bisakah kau jadikan itu sebagai acuanmu agar kau bertobat dan bertahan hidup?" Dena mengomel tak karuan.
"Tapi, Bu, pak, saya..."
"Sebaiknya anda serahkan Eril kepada kami. Atau saya akan berteriak sehingga massa mengeroyokmu karena mencoba mencuri anak kecil." Tak sedikitpun mereka memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menjawab.
"Tapi saya bukan...."
Suara sirene mobil polisi terdengar jelas di telinga, bahkan hampir membuat teling yang mendengar serasa mau pecah.
"Ini dia orangnya, pak. Tangkap dia!" Dokter Ariel berteriak.
Dua orang polisi bergegas memborgol kedua tangan lelaki itu setelah Dena merebut Eril dari gendongannya.
"Lepaskan saya, pak. Saya bukan Revan. Saya Bilson yang sebenarnya, pak." Lelaki itu meronta-ronta. Namun sedikitpun tak diacuhkan oleh petugas. Mereka menariknya secara paksa dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" ucap Dena kepada Eril yang sudah ada dalam gendongannya. Dipeluknya bayi itu sembari mengecup pucuk kepalanya. "Kamu tenang ya, nak. Ada bunda di sini."
Dokter Ariel menuntun mereka masuk ke dalam mobil dan berniat untuk membawa baby Eril ke kediaman Aletha.
Sesampainya mereka di rumah Aletha, mereka tak menemukan Aletha di sana. Yang ada hanya mama Vina dan papa Irwan yang masih terbaring lemah di lantai.
"Tante, om!" teriak Dena. Ia mencoba mendudukkan mama Vina yang ternyata sudah sadar. Begitu juga dengan papa Irwan yang dibantu oleh dokter Ariel.
"Oma! Mama mana?" tanya Eril yang mencari-cari sekitar ruangan tapi tak melihat mama Aletha di sana.
"Oma, Oma nggak tau sayang." Mama Vina berkata pelan.
__ADS_1
"Tadi ada orang yang mirip dengan Bilson datang ke sini dan sempat mmebuat keributan di sini. Menurut yang kami dengar dari kepolisian ia kabur dari penjara." Papa Irwan menjelaskan.
"Iya, kami bahkan nggak sanggup melawan Karena dia terlalu arogan sekali. Dia bahkan memukul saya dan istri saya hingga jadi seperti ini."
"Jangan-jangan itu Revan. Kemana Aletha dibawanya? Tadi hanya baby Eril yang bersamanya. Kalau begitu Aletha dimana?" Dena mulai bingung, begitupun dengan dokter Ariel.
"Eh, tunggu dulu. Revan dan Bilson kan punya wajah yang sama, apa mungkin yang tadi itu Bilson?" Dena mulai ragu. Susah memang membedakan karena sangat mirip.
Dokter Ariel sedikit bingung dengan ucapan istrinya itu. Ia sampai memikirkannya dengan serius.
"Kalau itu Bilson berarti kita salah nangkap orang."
"Iya, mas. Sebaiknya kita ke kantor polisi sekarang."
"Ayok!" Dokter Ariel begitu antusias. Ia meminta kepada mama Vina dan papa Irwan agar membawa baby Eril ikut serta. Mereka takut bila sampai Revan kembali dan menculik Eril.
Sesampainya di kantor polisi, mereka meminta ijin kepada pihak kepolisian untuk mengunjungi lelaki yang diduga Bilson itu. Polisi memberi ijin tetapi dengan pengawasan ketat.
"Trimakasih, pak." Dena menunduk kepada polisi itu lalu mengikuti polisi lainnya menuju tempat Bilson ditahan.
"Saya Bilson. Saya yang sudah merebut bayi itu dari tangan si brengsek itu. Dan kalian malah menangkapku."
"Apa? Kau beneran Bilson?" tanya Dena sekali lagi.
"Apakah kalian tak mengenali dari sikapnya? Atau kalian tak bisa membedakan suaranya?"
Dena berpikir sejenak.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Dokter Ariel memegang lengan Dena. Baby Eril berada dalam gendongannya.
"Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma sedang mikirkan Aletha, sayang. Kalau dia memang Bilson lalu Revan?" Matanya terbelalak.
"Jangan-jangan Aletha....."
"Kita harus mencarinya sekarang! Ayok!" Dena menarik tangan dokter Ariel.
"Sayang, pelan-pelan! Kau kan lagi hamil, sayang. Aku nggak mau kau dan anak kita kenapa-kenapa. Tunggu sebentar!" serunya.
__ADS_1
Dena menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya singkat. Matanya menoleh ke baby Eril.
"Dia gimana?" ekor matanya melirik ke arah Bilson.
"Aduh, lupa aku!" Dena menepuk jidatnya sendiri. Mereka lalu menceritakan semuanya kepada petugas, yang kemudian mengeluarkan Bilson dari jeruji besi itu.
Tak lupa dokter Ariel meminta kepada pihak kepolisian agar ikut serta mencari keberadaan Revan yang sudah berstatus sebagai buronan itu. Polisi itu setuju dan menunjuk bebrapa orang sebagai perwakilan. Mereka pun berpencar mencari keberadaan Aletha.
"Duh Aletha, kamu dimana sih? Kenapa kamu terus menderita begini, Tha? Ya, Tuhan lindungilah Aletha dimana pun dia berada sekarang." Aletha bergumam dalam hatinya. Dia tulus ia panjatkan untuk sahabatnya yang tak tau dimana keberadaannya.
"Sayang, kamu lapar?" Dokter Ariel bertanya kepada baby Eril. Yang dibalas dengan anggukan.
"Sayang, kita nggak makan dulu?" tanya dokter Ariel kini kepada Dena.
Dena diam seribu bahasa. Pikirannya masih melayang entah sampai dimana.
"Sayang, kamu mikirkan apa?" tanya dokter Ariel lembut. Ia menghentikan mobilnya sejenak.
"Kita makan dulu, ya!"
"Nggak. Aku nggak mau makan. Aku mau mencari Aletha sampai ketemu. Aku tidak akan makan sebelum Aeltha ditermukan." Ia membentak suaminya itu.
"Tali sayang, kalau kamu nggak makan anak kita dan kamu nanti nggak kuat. Kita makan ya!"
"Mas, bisa nggak sih nggak usah terlalu egois? Sudah kubilang nggak mau makan, yah nggak mau. Jangan paksa aku. Pokoknya aku mau mencari Aletha sampai ketemu."
"Sayang, tolong dong pikirkan anak kita, pikirkan kesehatanmu."
"Aku nggak mau makan. Aku mau mencari Aletha. Kalau kau nggak mau mendukungku, ya sudah. Aku sendiri saja yang cari Aletha." Ia membuka pintu mobil lalu keluar dan kemudian menghempaskan pintu itu. Membuat baby Eril menangis histeris.
"Maafin bunda ya, sayang." Dokter Ariel langsung memeluk Eril dan menenangkannya. "Bunda sedang main-main jadi kita ditinggalkan."
Sementara di tempat lain, seorang wanita sedang berlari ketakutan. Sambil sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat sosok yang mengejarnya. Ia berlari sekuat tenaga hingga sampai dikeramaian.
Ia menarik kasar napasnya yang kuat akibat kelelahan berlari.
"Syukurlah, aku berhasil darinya. Semoga saja dia tak bisa menemukanku di sini. Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini. Jangan biarkan Revan berhasil menangkap aku. Aku mohon, Tuhan," batin Aletha. Napasnya masih tersengal-sengal.
__ADS_1