
Mentari pagi menyambut Aletha yang sedang berdiri dibalik tirai jendela rumah sakit. Sisa tetesan embun masih saja menempel di jendela kaca rumah sakit tersebut. Aletha membuka jendela itu setelah mematikan pendingin ruangan. Ia ingin sekali merasakan panasnya surya di pagi hari.
Tak terasa, sudah tiga hari mereka menginap di ruangan ini. Ruangan yang penuh dengan aroma pahit yang akan selalu menempel dalam kenangan. Sejujurnya Aletha tidak menyukai semua aroma ini, tapi ia berusaha untuk kuat dan tegar menghirup semua aroma ini demi sang buah hati.
Hasil laboratorium mengatakan kalau baby Eril sehat-sehat saja. Tidak ada kelainan ataupun masalah dalam tubuhnya. Hanya leukositnya yang turun. Dokter bilang, ada virus yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga ia demam.
"Mungkin dia memakan sesuatu yang tidak bersih. Anak-anak kan suka memasukkan sesuatu ke dalam mulut, nah bisa saja itu tidak bersih. Jadinya dia demam. Ibu nggak usah khawatir. Menurut diagnosa saya, dia kejang karena demam." Beti penuturan dokter Ariel kemarin.
Hari ini ia lega, karena dokter mengijinkan Eril pulang. Infus juga sudah dilepas. Eril pun sudah mulai tertawa, sudah mau main, bahkan sudah mau makan meskipun sedikit. Tapi itu sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Dena janji hari ini akan datang untuk menjemput mereka pulang.
Dengan semangat Aletha menyusun barang-barang Eril ke dalam tasnya. Dan ia merapikan lemari seperti sediakala.
"Ibu, hari ini mau pulang kan?" tanya seorang perawat yang tiba-tiba datang sehingga membuat Aletha terkejut.
"Eh, suster. Saya kaget, sus," ucap Aletha.
"Maaf, bu. Tadi saya sudah mengetuk pintu tapi ibu terlalu serius. Jadinya saya langsung masuk saja. Maaf ya, bu." Perawat tersebut tersenyum tulus pada Aletha.
"Iya, sus. Nggak apa-apa, kok. Memang saya yang kurang fokus," sahut Aletha. "Ada apa suster ke sini? Apa ada yang perlu saya benahi?"
"Oh iya hampir lupa saya. Itu, ee, ibu diminta segera ke meja adminstrasi. Sekarang ya, Bu!" ucap perawat tersebut sambil meletakkan seprei baru diatas ranjang Eril.
"Baik, sus. Saya akan segera kesana."
Bersamaan dengan itu, Dena sudah sampai di ruangan.
"Pagi anak bunda. Gimana anak bunda sudah sehat?" tanya Dena kepada Eril yang sudah duduk diatas ranjang. Seperti biasa matanya berbinar kalau sudah bertemu dengan bundanya yang satu ini.
"Bunda membawa mainan baru untukmu. Mau tidak?"
Eril menganggukkan kepalanya. "Mau bunda," jawabnya tersenyum. "Mana?" tanyanya lagi.
"Kiss bunda dulu. Baru bunda kasih," tukas Dena.
Aletha tersenyum bahagia melihat keceriaan Eril yang sudah kembali. "Aku tinggal sebentar ya, Den," ucap Aletha tiba-tiba.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?"
"Disuruh ke ruang administrasi. Katanya mau melunasi tagihan rumah sakit," jawab Aletha sedikit menaikkan suaranya karena mereka masih saja tertawa.
"Ok, baiklah," jawab Dena singkat.
Aletha langsung turun ke lantai dasar menemui pihak administrasi. Lalu memabayar semua tagihan yang sudah ia lihat di kertas yang diulurkan padanya.
"Trimakasih, ibu. Semoga anaknya lekas pulih," ucap petugas tersebut.
Aletha menjawabnya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan ruangan itu menuju ke lantai tiga tempat Dena dan baby Eril kini berada.
"Sudh selesai?" tanya Dena kepada Aletha yang baru tiba di ruangan.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Kamu makan dulu, gih!" tutur Dena. Diliriknya baby Eril yang sedang sibuk dengan mainan barunya. Aletha melakukan hal yang sama.
"Aku uda bawakan sarapan untukmu. Jadi kamu bisa makan disini," tukas Dena. Matanya mengisyaratkan agar Aletha membuka kotak yang sudah ia bawa dari rumah.
Aletha seolah mengerti tatapan Dena, lalu berjalan dan membuka kotak makan tersebut.
Aletha mengangguk, lalu perlahan-lahan ia memasukkan beberapa suap nasi ke dalam mulutnya.
"Oh ya, mengenai tawaranku waktu itu gimana? Kamu sudah memikirkannya belum?" tanya Dena.
"Belum," jawab Aletha singkat sembari ia menelan makanan yang sudah ia kunyah.
"Kamu nggak aku suruh kok untuk menggambar. Tugas kamu hanya menghitung uang masuk dan uang keluar. Masa kamu nggak bisa?"
"Benarkah hanya itu? Kukira kamu akan menyuruhku menggambar model baju masa kini. Aku kan nggak tau menggambar. Kau tau kan aku nggak mahir di bidang itu."
"Siapa juga yang suruh kamu menggambar? Jadi selama ini itu yang kamu pikirkan makanya kamu menolak?"
Aletha menggangguk cepat sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya ampun, Letha. Ya nggak mungkin aku kasih kamu pekerjaan seperti itu. Aku taulah kamu mahir di bidang apa. Tapi bagian ketik mengetik, dan hitung menghitung pengeluaran kamu bisakan?"
__ADS_1
"Bisa, bisa. Tapi....." Aletha meneguk aair mineral dalam kemasan botol yang dibawa Dena dari rumahnya.
"Apa lagi? Jangan bilang kamu nggak mau."
"Bukan nggak mau. Tapi, gimana dengan Eril? Nggak mungkin kan papa sama Mama aku repotkan untuk menjaganya. Kasian mereka."
"Kan bisa kamu bawa, Letha. Astaga! Kamu kayak nggak kenal aku saja. Pasti karyawan disana senang bermain dengan anak yang cute sepertinya.
Lagian aku yang punya butik, jadi nggak masalah. Aku akan membicarakannya nanti dengan karyawan ynag lain."
"Makasih, Den." Aletha membereskan kotak makan yang sudah kosong lalu memasukkannya ke dalam kantong kresek, kantong yang Dena bawa tadi juga.
"Santai, Tha. Berapa kali sih aku bilang, stop say thank you!" You know me, and me know you more than anything." Ia menarik napasnya kasar.
"Sekali lagi kau ucap trimakasih, aku nggak akan mau menyapamu lagi. Paham!" Dena pura-pura cemberut.
"Maaf, Den. Kedepannya aku nggak akan bilang itu lagi. Janji!"
"Janji? Awas kalau diulangi lagi. Aku akan marah dan nggak akan mau bertegur sapa denganmu. Ingat itu." Dena pura-pura mengancam. Tentu saja Aletha menganggapnya itu serius. Karena ia tak bisa melihat reaksi Dena yang memunggunginya.
"Sudah yok, pulang! Aku nggak tahan lama-lama disini. Bau!"
Ia langsung menyambar tubuh Eril dan menggendongnya.
"Biar aku saja!" ucap dokter Ariel yang tiba-tiba datang.
"Sayang? Sejak kapan kamu ada disini? Bukannya kamu bilang sibuk operasi makanya nggak bisa datang?'
"Iya, kebetulan operasinya udah selesai. Jadi aku langsung ke sini." Dokter Ariel mengecup kening Dena sambil menggendong baby Eril.
"Ehem, ehem." Aletha berdehem melihat pasangan pengantin baru itu. Masih terbilang barulah, karena belum ada dua tahun. Hahaha.
"Kenapa? Cemburu ya? Makanya terima tuh pinangan si siapa namanya sayang?"
"Bilson."
"Iya, Bilson. Terima aja pinangan si Bilson beneran itu. Kan kamu uda tau kebenarannya. Masa kamu nggak mau terima dia?"
__ADS_1
"Uda ah. Yok pulang. Kok malah bahas aku pula."