Mama Superku

Mama Superku
Aletha VS Santi


__ADS_3

"Kenapa sih ini pipi pake merah segala. Aihhh, bikin malu aja." gumam Santi.


Ia mencuci mukanya lalu memolesnya dengan perias wajahnya.


"Sadar, San. Kamu aekarang sedang dirundung kegalauan. Kenapa kamu masih berharap padanya sementara dia sudah punya istri." ucapnya pada dirinya sendiri.


"Tapi aku mencintai dia. Lagian aku masih belum tau pasti itu istri betulan atau istri bohongan." gumamnya lagi.


"Aduuuh, Santi. Cepatlah kamu cari tau tentang hubungan mereka. Takutnya kamu semakin tak bisa dikendalikan nanti dengan Bilson." kilahnya lagi.


Aura positif dan negatif dalam dirinya kini sedang berperang. Sampai ia bingung sendiri mau memutuskan aura yang mana.


"Mas, kita makan siang yok!" ujar Santi setelah mengoleskan handsanitizer di tangannya.


"Kamu sudah lapar?" tanya Bilson.


"Nggak juga sih, tapi ini kan sudah jam makan siang." tukasnya lagi.


"Maaf, sayang. Mas nggak bisa. Kamu makan sendiri aja ya, biar mas pesankan." jawabnya.


"Lho, memangnya mas nggak lapar?" tanya Santi.


"Belum. Lagian mas juga mau meeting." jawab Bilson.


"Ya udah kalau begitu aku pulang aja ya, mas. Aku capek mau istirahat. Mas nggak usah antar aku. Aku bisa sendiri." tukas Santi.


Ia meninggalkan kantor Bilson, namun sebelumnya mereka sudah cipika cipiki ria.


Santi menunggu taksi yang sudah dipesannya lewat online diujung jalan. Di seberang kantor Bilson.


Tak berapa lama taksi pun datang.


Setelah Santi pergi, Bilson buru-buru pergi juga sambil berjalan tergesa-gesa ia memakai jasnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saki jasnya.


Tas kerjanya ia tinggalkan di kantornya.


"Mau kemana itu mas Bilson? Katanya tadi mau rapat, tapi kok pergi?" gumam Santi yang hendak masuk ke dalam taksi.


Matanya melirik gerak langkah Bilson yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Kok lama sih, pak?" tanya seorang wanita kepadanya saat Bilson sudah tiba.

__ADS_1


"Iya, maaf. Tadi ada masalah sedikit di kantor," jawab Bilson.


"Gimana? Gimana? Ada info terbaru kah?" tanya Bilson setelah duduk.


Sandra menenggak air minumnya sedikit. Membiarkan Bilson menunggu dirinya.


"Bagaimana kalau bapak pesan makanan atau minuman dulu?" tawar Sandra. Sepertinya dia sengaja mengulur waktu.


"Nggak perlu. Langsung saja ke topik!" sahut Bilson datar.


"Yakin?" tanya Sandra. Bilson mengangguk.


"Baiklah kalau begitu."


"Ini, berkas yang bapak minta," ujar Sandra sambil menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat.


Segera Bilson membuka amplop tersebut.


"Kau hebat! Dengan begini rencanaku akan lancar." ucap Bilson riang gembira. Bak anak kecil yang baru dapat mainan baru.


"Iya, pak. Aku juga mau bilang satu hal...." lirih Sandra.


Padahal dia sama sekali tidak tertarik lagi berbicara dengan Sandra setelah berkas itu ada di tangannya. Malah Bilson berniat untuk menjauhi Sandra setelah ini.


"Ihh, kok gitu sih dia? Setelah dia dapatkan apa yang dia mau, dia malah dingin samaku," gerutu Sandra dalam hati.


Di sudut sana ada dua wanita memperhatikan Bilson dan Sandra. Tapi dari arah yang berbeda. Mungkin mereka tidak saling tau kalau mereka sedang salaing mengintip Bilson dan Sandra.


Sngkatnya, Sandra dan Bilson pun berpisah. Bilson pergi dengan membawa kemenangan, sedangkan Sandra pergi membawa wajah cemberutnya. Berbanding terbalik, satu dapat kebahagiaan, satunya lagi dapat ..... Ah, sudah lah. Entah apapun itu.


"Apa yang mereka bahas? Dan ada apa dengan amplop coklat itu?" ucap Aeltha dalam hati. Lalu ia meninggalkan kafe membawa rasa penasarannya.


Ternyata dia mengikuti Sandra ke kafe sambil menggendong baby Eril. Rasa penasarannya kepada Sandra semakin memuncak.


Sementara di sudut lain....


"Mas Bilson denga Sandra ada apa sih? Tadi kata mas Bilson rapatnya di kantor? Tapi ini... kok malah di kafe dan bertemu Sandra lagi," batin Santi.


Ternyata dia juga mengikuti Bilson saat Bilson kuar dari kantor tadi. Ia meminta kepada supir taksi untuk membuntuti mobil yang ditumpangi Bilson. Dan sampailah dia di sini. Melihat Bilson dan Santi dari jauh entah membicarakan apa.


Setelah Sandra dan Bilson pergi, Santi pun pergi meninggalkan kafe, sama seperti Aletha peegi dengan rasa penasaran yang tak kalah memuncak.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus memulai penyelidikanku tentang kebenaran mas Bilson," ucap Santi dalam hati setelah sampai di dalam taksi.


"Jalan, pak!" ucapnya kepada si akang supir taksi.


***


Bilson melangkahkan kakinya menuju rumahnya sambil membawa senyum lebarnya ikut serta.


"Dari mana saja kau?" bentaknya pada Aletha saat Aletha baru saja tiba. Ia mendengar langkah kaki saat dirinya hendak masuk ke dalam rumah.


"Suami pulang kerja bukannya di rumah. Dasar wanita sinting!" maki Bilson pada Aletha.


Aletha dan baby Eril segera meninggalkannya tanpa menghiraukannya. Tentu saja sikap Aletha membuatnya geram. Sejak beberapa hari ini Aletha tak pernah menghiraukannya lagi. Ia lebih memilih diam.


"Kita mandi ya, sayang. Gerah nih!" ujar Aletha kepada putranya sambil tersenyum di bibir merah mudanya.


Baby Eril tersenyum bahagia. Ia bahagia sekali melihat kolam mini miliknya beserta mainan karet sudah mengapung didalamnya karena kolam itu sudah penuh oleh air.


Salah satu hal yang dia sukai adalah bermain air. Mungkin sudah menjadi kebiasaan anak kecil kali ya, suka bermain air.


Sementara di ruang tamu, Bilson memandang amplop coklat itu dengan puas. Tapi ia tidak berniat membukanya karena sudah yakin kalau isinya adalah sesuatu yang dia inginkan.


"Ini apa? Panggilan sidang?" gumamnya. Dibacanya surat itu sampai selesai.


"Tidak. Aku tidak mau menghadirinya," kilahnya. Ia merobek surat panggialan sidang itu dan meletakkannya di dalam tong sampah.


"Berani-beraninya dia memperpanjang perceraian ini!" umpatnya.


"Dasar wanita gila. Lihat saja, sebelum aku mendapatkan yang kumau, aku tak akan menceraikanmu. Oke, kuikuti sidangnya, tapi aku akan membantah semua tuduhan yang dilontarkan padaku nanti. Bersiaplah wanita sinting!" gerutu Bilson dalam hati.


"Oke, sudah selesai. Sekarang kita keringkan badanmu, lalu kita pakai baju!" ujar Aletha. Ia mengangkat baby Eril keluar dari kolam. Lalu dilapnya badan baby Eril dengan handuk dari kepala sampai kaki hingga kering.


Lalu dioeskannya dengan minyak hangat, minyak baby, agar tidak masuk angin akibat kelamaan main air.


"Selesai!" ucapnya lagi setelah baby Eril kini sudah berpakaian lengkap. Lalu merekapun berpelukan.


Ada yang masih ingat bagaimana diperlakukan ibunya saat masih bayi? Hayooo siapa yang ingat. Apa mungkin seperti yang dilakukan mama Aletha kepada baby Eril. Hahahha, pasti tidak ada yang ingat kecuali, diceritakan oleh mama kita, super mamalah pastinya.


Lha, kok pada bahas ini sih? Ya sudahlah.


"Harumnya anak mama ini. Hmmmmmm," gumam Aletha. Ia mendengus sambil menajamkan hidungnya menikmati aroma harum baby dari tubuh anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2