
"Dasar wanita gila." Revan memaki Aletha dengan kuatnya sampai-sampai orang yang ada disana sontak menoleh padanya.
Aletha akhirnya meninggalkan lelaki itu dengan segala makian yang masih dilontarkan untuknya.
Kemudian ia tersentak, dan bangun dari tidurnya. "Aduh, ternyata mimpi buruk," gumamnya. "Kenapa sih pria brengsek itu sampai masuk kedalam mimpiku?" Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Untuk apa coba aku harus memimpikannya? Cihh," ia menarik kasar napasnya yang sempat tertahan.
Aletha lalu beranjak dari ranjang dan merai gelas kosong yang terletak diatas meja kemudian menuangkan air minum ke dalamnya. Lalu meneguknya sampai habis.
"Mama." Eril langsung menghambur ke dalam pelukannya setelah ia meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya semula. "Mama uda bangun?"
"Uda dong, sayang," sahut Aletha sambil memamerkan senyumnya. Suaranya masih serak, suara baru bangun tidur.
"Ma, abang boleh nggak minta sesuatu?"
"Boleh, mau minta apa, sayang? Kalau mama mampu, mama pasti akan mengabulkannya," jawab Aletha tersenyum simpul.
"Benarkah? Janji," tanyanya sedikit ragu. Anak seusia Eril sudah bisa seserius ini.
"Janji." Aletha menjepitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Eril yang sudah mengacung.
"Nggak boleh ingkar, tau?"
"Siip, sayang." Aletha semakin gemas melihat anak kesayangannya itu. "Mau minta apa, coba cerita ke mama," pinta Aletha dengan wajah keingintahuan.
"Abang mau papa," ucapnya sambil tersenyum manis, manis banget. Membuat hati Aletha meleleh bersamaan dengan ucapan yang ia lontarkan.
"Tapi sayang, papa kan...." lirih Aletha. Ia memutar otak untuk menjelaskan mengenai keberadaan papanya saat ini. Padahal pertanyaan ini sudah pernah keluar dari mulut Eril, entah kenapa hari ini muncul lagi.
"Mama kenapa nggak mau jumpaan sama papa?" tanyanya dengan oral yang belum jelas sekali terdengar. Namun karena Aletha tau anaknya itu, ia mengerti dengan semua yang dituturkannya.
"Papa yang mana, sayang?" tanya Aletha penasaran. Ia ingin mendengar siapa yang dimaksud Eril sebagai papanya. Apakah Revan atau Bilson.
__ADS_1
"Ya, papa Bilsonlah," jawabnya girang.
"Hah? Siapa yang ngajarin dia?" batin Aletha. Ia bahkan tak pernah menceritakan tentang Bilson asli kepadanya. Namun ia mencoba bertanya lagi. "Bilson yang mana, sayang?"
"Itu loh, ma. Papa Bilson yang waktu itu, yang datang ke rumah saat mama sakit," jawabnya sembari memutar bola matanya mengingat-ingat kejadian yang sudah berlalu itu.
"Astaga, Eril. Kenapa dia bisa tau semuanya?" jerit Aletha dalam batinnya. Kemudian ia menarik lengan Eril, lalu mencubit pelan pipi chubby'-nya karena terlalu gemas. "Kamu tau dari mana itu, sayang? Mama kan nggak pernah cerita," celetuk Aletha.
"Abang dengar sendiri," jawabnya singkat.
"Jadi, kamu bilang dia papa kamu?"
"Iya. Kenapa ma? Benarkah?"
Aletha langsung membawa Eril ke dalam dekapannya. Ia masih bingung akan memberikan penjelasan yang bagaimana untuk anaknya itu.
Sementara mama Vina yang dari tadi mendengar dari balik pintu, langsung masuk menghampiri anak dan ibu itu seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Aletha saat ini. Mama Vina memang paling mengerti banget. Sudah tak bisa diragukan lagi, insting seorang ibu memang sangatlah sensitif.
"Cucu oma, tok kita makan dulu. Biarkan mama Letha mandi dulu, sayang. Kan mamanya baru bangun, jadi masih bau asem," celetuk mama Vina kepada cucu kesayangannya itu.
Mereka meninggalkan Aletha yang masih tertegun sambil selonjoran di penyangga tempat tidurnya. "Untung aja mama datang, kalau tidak aku pasti kelabakan menjawab Eril," gumamnya pelan.
Aletha membereskan tempat tidur sebelum akhirnya ia masuk kedalam kamar mandi dengan handuk yang terurai di bahu kanannya.
"Abang mau apa? Roti atau nasi, atau......"
"Abang mau nasi goreng," jawabnya tersenyum riang. Sorakannya terdengar oleh opanya yang baru saja keluar dari kamar, lalu berjalan menuju meja makan yang saat ini telah ramai meski hanya ada dua orang yang ada disana.
"Wah, cucu opa pagi-pagi sekali sudah semangat banget. Ada apa, sayang?" tanya opa Irwan.
"Karena mama janji sama Abang," sahutnya bangga. Senyumnya yang mengembang seolah menunjukkan kalau dia baru saja dapat mainan baru dari seseorang. Polos banget.
"Janji apa, nak?" Opa Irwan bertanya karena sangat penasaran. Ia mendekati Eril sambil menunduk berharap sejajar dengan cucunya itu. "Coba bilang opa, mama janji apa," pintanya lagi.
__ADS_1
"Ketemu papa," soraknya riuh. "Yeeeyyyy!" soraknya lagi.
Opa Irwan terheran-heran dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia memandang istrinya yang sedang menyiapkan makanan diatas meja dengan ribuan pertanyaan. Oma Vina juga meliriknya, kemudian mengangguk.
"Ayok, makan!" serunya mengalihkan keseriusan Eril. Dan.... berhasil. Eril langsung menatap hidang yang telah tertata di mejanya.
"Hmmm, harum," ujarnya. Ia langsung meraih sendok dan hendak menyendok kan nasi goreng ke dalam mulutnya, namun....
"Baca doa dulu, nak." Oma Vina berujar. Yang diangguki opa Irwan. Lalu Eril langsung melafalkan doa yang sudah diajarkan kepadanya lalu makan.
"Yam, enak," gumamnya. Ia masih belum mahir untuk makan sendiri, tapi ia nggak mau disuapi. Merasa dirinya kalau dia sudah besar, jadi tak perlu lagi disuap.
Alhasil oma dan opanya harus ligat membersihkan semua nasi yang berjatuhan sebelum dia memungutnya kembali, dan memakannya. Repot memang, tapi begitulah anak kecil. Rasa ingin tahunya tinggi sangat.
"Oma, tambah," pintanya kepada oma Vina sambil menyodorkan piringnya yang sudah kosong. Padahal lebih banyak yang terjatuh di meja bahkan di lantai.
Oma Vina langsung menyendok kan nasi lagi ke dalam piringnya, dan dilanjutkan lagi untuk makan - masih sama seperti tadi, bertumpahan di meja dan di lantai. Dia makan sambil bersenandung.
"Sssst, kalau makan jangan bersuara," celetuk si oma. "Abang nggak ingat lagu Kak Seto?" Oma Vina mengingatkan. Eril langsung meletakkan sendoknya didalam piring dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tersipu malu, lalu menundukkan kepalanya setelah telapak tangannya ia lepaskan dari mulutnya.
"Ya sudah, lanjut makannya. Oma nggak akan cerita kok ke kak Seto," ujar oma Vina membujuk Eril lagi agar menghabiskan makananya.
"Nenek janji?" tanya Eril sembari mengangkat kepalanya memastikan kalau omanya itu tidak bohong.
"Janji," jawab oma singkat. Seperti biasa seperti yang diharapkan Eril, oma Vina mengacungkan jari kelingkingnya.
Eril langsung bersemangat dan kembali menyantap nasi gorengnya sampai habis.
"Abang sudah, opa," ucapnya sambil menunjukkan piring kosongnya.
"Nggak tambah lagi?" tanya oma Vina.
"Nggak oma," jawabnya sambil mengibaskan tangan kanannya. "Abang uda kenyang," sahutnya cepat. Karena oma Vina sudah siap ingin memasukkan lagi sesendok nasi goreng kedalam piring kosongnya itu.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," celetuk oma Vina sembari menyendok kan nasi terakhirnya kedalam mulutnya sendiri.