
"Kamu mama tinggal di sini dulu ya, sayang. Mama mau siap-siap dulu. Kita mau jalan-jalan hari ini. Kamu senang kan?" ucap Aletha kepada Eril.
Baby Eril kini udah bisa berjalan meskipun usianya masih sembilan bulan, namun masih tertatih-tatih. Giginya sudah tumbuh namun belum secara keseluruhan. Rambut hitam dan tebalnya meniru sang mama. Pipinya yang chubby dan tentunya sangat menggemaskan.
Sekarang baby Eril sedang belajar berbicara.
Baby Eril tersenyum mendengar ucapan sang mama.
"Mama, mama!" gumamnya.
"Iya sayang. Cup cup."
Aletha mengecup lembut kepala baby Eril.
"Hmmmmm, harum!" gumam Aletha sambil mencium rambut baby Eril yang harum.
Aletha bergegas mengganti pakaiannya. Hari ini ia akan pergi ke kantor Dena. Ada banyak hal yang akan dia urus bersama Dena.
Saat mamanya sedang sibuk, baby Eril sibuk juga dengan mainan-mainannya. Seketika kamar itu berantakan seperti kapal pecah. Mainannya bertebaran dimana-mana. Mobil-mobilan, lego, kotak semuanya berhamburan.
Aletha yang sudah selesai dengan kesibukannya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng.
"Baiklah, yuk kita rapikan dulu sebelum kita berangkat!" ujarnya.
Mereka bekerjasama merapikan semua mainan dan menyimpannya ditempat masing-masing. Lebih tepatnya Aletha yang merapikan. Tapi selalu dan selalu diusik oleh baby Eril. Alhasil mereka menghabiskan waktu satu jam untuk bermain sambil merapikan mainan-mainan Eril.
"Kok lama banget datangnya?" tanya Dena saat mereka sudah hampai di kantor Dena.
"Bundaaaa!" panggil Eril.
Ia berlari tertatih-tatih menghampiri sang bunda. Dena langsung menangkap tubuh Eril dan mengangkatnya ke atas lalu mereka berputar-putar.
"Anak bunda ganteng banget!" ujar Dena.
Ia menciumi Eril karena sangat gemas. Eril menjauhkan pipinya agar Dena tidak sampai menciumnya.
"Lho, lho kenapa nggak mau dicium pipinya sama bunda, sayang?" tanya Dena tersenyum.
"Ndak. Ndak." jawab Eril.
Dipeluknya Eril dengan erat dan penuh kehangatan.
"Aku pun begitu. Kalau aku cium pipinya dia akan menghindar. Mungkin dia nggak suka kali ya, bun." sahut Aletha.
"Anak bunda duduk di sini ya, sayang. Ini udah bunda siapkan makanan dan mainan buat anak bunda yang ganteng ini!" ujar Dena.
__ADS_1
Semangatnya berkobar-kobar bila sudah bertemu dengan baby yang sangat menggemaskan ini.
Ia mendudukkan Eril di kursi empuk yang ada di dalam ruangannya dan memberikan cemilan dan mainan di pangkuan Eril.
Eril sangat senang. Ia langsung memeluk mainan barunya itu dan menyambar cemilan yang diberikan oleh sang bunda.
"Gimana langkah kamu selanjutnya?" tanya Dena memulai pembicaraan.
"Aku nggak ngerti jalan pikirannya mas Bilson. Dia nggak mau menceraikan aku, Den. Surat cerainya dibuangnya ke tong sampah dan aku menemukannya sudah dalam keadaan rusak. Bilson telah merobeknya." ucap Aletha.
Dena sedang memikirkan cara agar sahabatnya itu secepatnya terbebas dari pria arogan itu.
"Kalau masalah surat cerai, kita masih bisa mengurusnya lagi. Itu mah gampang. Sekarang kamu harus pikirkan lebih baik lagi. Mau menceraikannya atau mempertahankannya." ucap Dena.
Ia tak ingin memojokkan atau menjadi provokator bagi Aletha. Dena berharap keputusan yang Aletha buat demi kebaikan baby Eril dan dirinya sendiri.
Untuk apa masih dijalani bila memang menyakitkan? Untuk apa ikatan pernikahan jika pada akhirnya tidak bersatu? Dan untuk apa mempertahankan pernikahan bila ada penghianatan?
"Aku uda siap, Den. Janda pun nggak masalah bagiku. Yang penting aku nggak tersiksa lagi. Aku bisa besarkan anakku sendiri tanpa harus mengharapkannya. Toh selama ini, dari aku mulai mengandungnya hingga sekarang, ku sendiri yang berjuang mati-matian." gumam Aletha.
Kenangan saat dia mnegandung baby Eril kini terkuak kembali ke permukaan..
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu. Dan kuharap kamu nggak akan menyesal." ucap Dena.
"Tapi gimana caranya, Den? Surat kepemilikan saham dan semua aset ada di tangannya. Bagaimana cara kita menemukannya, Den?" tanya Aletha cemas.
"Untuk yang satu itu kita harus menyiapkan siasat yang baik. Kita harus menyewa orang-orang yang memang ahlinya untuk mencuri berkas-berkas itu." sahut Dena.
Sementara di tempat lain, Bilson dengan Sandra sedang merundingkan satu hal. Mereka bertemu diam-diam tanpa ada yang tau.
Santi sedang duduk di kafe menunggu temannya yang sudah janji akan datang.
"Itu bukannya mas Bilson? Ngapain dia berduaan sama Sandra? Katanya hari ini mereka rapat di kantor tapi kenapa ada di sini? Aku samperin atau nggak ya?" gumamnya bingung.
"Tapi kenapa mereka dekat banget ya ngobrolnya? Iya sih Sandra rekan bisnisnya dan juga sahabat aku. Nggak mungkinlah dia berkhianat kepadaku." gumam Santi lagi.
Pandangannya tetap tertuju kepada sahabat dan kekasihnya itu. Mereka sedang sibuk dengan pembicaraan yang sangat intim sepertinya. Namun Santi tetap berpikiran positif kepada sahabat dan kekasihnya itu.
Baru saja Santi hendak melangkah tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Maaf lama. Tadi macet di jalan." ucap lelaki itu.
"Nggak apa-apa Tito. Aku juga baru sampai kok. Baru sekitar lima menit yang lalu." ucap Santi.
Pelayan Kafe datang dan menanyakan pesanan kepada Tito.
__ADS_1
"Oya, kamu apa kabar?" tanya Santi.
Tito sedang sibuk memilih pesanannya.
"Aku baik." jawabnya singkat setelah pelayan itu meninggalkan mereka.
"Wah, syukurlah. Sudah lama kita tidak bertemu ya." gumam Santi.
Tito Kardalis memandang lekat manik Santi. Pandangan mereka kini beradu. Tak ada kedipan sekali pun.
"Kamu apa kabar?" tanya Tito.
Ia mengalihkan pandangannya dari Santi.
"Hmmmm, aku baik." jawab Santi santai.
"Kamu udah S2 nya?" tanya Santi tiba-tiba.
"Udah. Ini aku sedang sibuk mengurus wisudaku. "Kamu datang ya nanti di wisuda aku!" ucap Tito.
Santi kaget karena tiba-tiba saja Tito mau mengundangnya ke hari spesialnya. Biasanya juga jarang Tito mau mengundangnya.
"Kenapa? Salahkah aku mengundangmu?" tanyanya hati-hati.
"Nggak. Bukan itu." sahut Santi cepat.
"Lalu?" tanya Tito Kardalis penasaran.
Ia mengerutkan keningnya sambil menaikkan alisnya dan menatap kembali Santi.
"Aku kaget aja kamu ajak aku." gumam Santi.
"Maaf jika aku sudah mengajakmu. Bila tak ingin juga nggak apa-apa kok. Nggak ada paksa sama sekali." tutur Tito Kardalis.
Tito menyeruput jus jeruk yang sudah dari tadi terletak di depannya menunggu tuannya menikmati rasa dan aromanya.
"Lho, itu bukannya Santi, mas?" tanya Sandra saat mereka sedang menikmati hidangan di kafe.
"Mana?" tanya Bilson penasaran.
Yang dia tau Santi tadi di apartemennya.
Apa mungkin Santi bohong padaku? Akhhh, nggak. Nggak mungkin. Mana setega itu dia samaku. Batin Bilson.
Manik Bilson sibuk menyusuri sekeliling kafe. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1