Mama Superku

Mama Superku
Ayo Ngaku Sekarang!


__ADS_3

Manusia yang nampak kuat, manusia itulah yang rapuh sebenarnya. Karena sampai suatu ketika, dia akan penat untuk berpura-pura tabah dan kuat.


_____________________


"Aletha! Aletha!" jerit suara Bilson dari dalam kamarnya.


"Ada apa, mas manggilin aku? Dan kenapa harus menjerit segala?" tanya Aletha.


Ia berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa spatula di tangannya. Karena dia sedang asyik memasak di dapur. Sementara baby Eril sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya.


"Kemana semua surat-surat penting yang ada di sini?" tanya Bilson dengan suara yang memekikkan telinga.


Aletha saja sampai menutup kedua telinganya dengan lengannya.


"Ng-ng-nggak tau, mas." jawabnya terbata-bata.


"Hanya kamu dan aku yang ada di dalam rumah ini. Lalu siapa yang sudah mengambilnya?" tanya Bilson lagi dengan tatapan tajamnya.


Tatapan yang ingin membunuh.


"Mungkin mas lupa kali meletakkan di mana." sahut Aletha.


"Nggak. Aku nggak lupa. Aku masih ingat dimana kusimpan berkas-berkas itu. Pasti kamu kan yang sudah mencurinya?" tuduh Bilson.


Ia menunjuk kasar kepada Aletha.


"Bukan, mas. Bukan aku. Untuk apa aku mengambilnya. Lagian mas tau kan kalau aku di rumah saja dan tidak bekerja. Semua keuangan kan mas yang mengatur. Jadi untuk apa aku mengambilnya." ucap Aletha pura-pura lugu.


Ya, Tuhan semoga saja mas Bilson tidak mencurigai aku. Jerit Aletha dalam hati.


"Kamu bohong. Aku yakin kamu yang sudah mencurinya!" tukas Bilson tak terima.


"Kalau mas nggak percaya ya sudah. Aku mau lanjut masak dulu." sahut Aletha santai.


"Kurang ajar! Kamu mau menghindar dari perbuatan buruk kamu? Udah jelas-jelas kamu yang mencurinya." ucap Bilson lantam.


"Sini kamu!" ujar Bilson lagi.


Ia menarik paksa tangan Aletha lalu membawanya dalam kamar mandi.


Dicelupkannya kepala Aletha ke dalam bak mandi selama 30 detik kemudian diangkatnya.


"Ayo, ngaku sekarang! Dimana kamu menyimpan semua berkas itu?" bentak Bilson tepat di telinga Aletha.


Sangat dekat, bahkan hampir tidak ada jarak.


"Kamu mau membunuh aku sekalipun aku nggak akan bilang dimana aku menyimpannya karena aku tidak mengambilnya." jawab Aletha.

__ADS_1


Kepalanya menengadah ke atas karena tangan Bilson sangat kuat mencengkeram rambutnya.


Karena sangat marah dan geram, lagi-lagi Bilaon menekan paksa kepala Aletha ke dalam bak yang berisi air penuh selama satu menit. Kemudian diangkatnya lagi.


Begitu terus dilakukannya sampai dia merasa letih.


Berbeda dengan Aletha, ia masih tetap kuat dan bersemangat untuk tidak membocorkan dimana dia menyembunyikan berkas itu.


"Baiklah, jika kamu tak mau juga jujur, aku akan membuat perhitungan denganmu!" ujarnya marah.


Ia meninggalkan Aletha sendirian di kamar mandi. Aletha segera mengejar Bilson.


"Dimana kau menyembunyikannya. Kasitau sekarang juga!" jerit Bilson.


Ia mencengkeram bahu Eril kuat sampai-sampai ia menangis ketakutan.


"Jangan coba menyentuh anakku!" bentak Aletha.


"Lepaskan dia!' jerit Aletha.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya sampai kamu memberitahu dimana kamu menyimpan berkas itu!"


"Berapa kali aku harus bilang bahwa aku tidak mengambil berkas itu. Kenapa kamu masih tidak percaya?" tanya Aletha.


Pandangannya fokus kepada Eril yang berada dalam cengkraman Bilson.


"Tolong! Jangan sakiti anakku! Aku mohon padamu! Dia sangat berharga untukku." ucap Aletha mulai terisak.


"Tidak untukku." gumam Bilson.


Dari tadi dia sudah berusaha untuk tetap kuat melawan Bilson. Namun sekarang fisiknya lemah dan juga hatinya. Anaknya sedang dalam ancaman besar.


Apa yang harus aku lakukan? Batin Aletha.


"Jika kau tak ingin dia dalam bahaya, kasitau sekarng dimana kau simpan berkas itu! Sekarang!" pekik Bilson.


Baby Eril semakin kuat menangis dalam cengkraman tangan papanya itu. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya.


Tuhan, aku harap apa pun keputusanku semoga itu yang terbaik. Tolong jaga anakku Tuhan dan jangan biarkan manusia seperti Bilson akan menang bersama dengan keangkuhan dan kesombongannya. Gumam Aletha dalam hati.


"Satu, dua, ....."


Bilson mulai menggertak Aletha. Dilihatnya Aletha sedang panik dan bingung sekarang. Bahkan tangannya satu sudah terlepas dari lengan Eril. Hanya hitungan sedetik lagi baby Eril akan terjatuh ke bawah.


"Jangan, mas! Aku mohon jangan lukai dia, mas!" jerit Aletha.


"Baiklah, baiklah. Aku akan memberitahu dimana aku menyimpannya." ucap Aletha dengan terpaksa.

__ADS_1


"Beritahu sekarang!" bentak Bilson.


Mau tak mau Aletha menceritakan dimana ia menyimpan berkas tersebut. Karena ia tak ingin mempertaruhkan hidup putranya hanya demi berkas yang hanya membawa kebahagiaan semata untuknya tapi tidak untuk baby Eril.


"Lepaskan Eril sekarang, mas. Kalau tidak aku tidak akan memberitahunya. Kita harus sama-sama pegang janji masing-masing." ucap Aletha.


"Kau biarkan baby Eril bebas, maka saat itu juga akan memberitahumu." ucap Aletha tegas.


Bilson mendorong kuat tubuh Erio hingga terjatuh mendekati Aletha.


Aletha yang melihat baby Eril tersungkur di lantai segera bergegas menghampiri anaknya itu dan memeluknya erat sangat erat.


"Kamu aman sekarang sayang. Ada mama di sini yang akan selalu menjagamu. Kita harus berjuang, ya. Kita harus kuat!" bisik Aletha ke telinga bbaye Eril.


"Maaf sudah membuatmu seperti ini sayang. Namun kita harus bersabar. Semoga kelak keberuntungan berpihak kepada kita, ya sayang." gumam Aletha lagi.


Bilson yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam. Seolah-olah hatinya sudah mati tak ada rasa. Sampai saat ini ia belum jua pernah memeluk dan mencium darah dagingnya itu.


"Dimana berkas itu kamu simpan?" tanya Bilson menagih janji Aletha.


"Itu, anu mas. Berkasnya ada di..."


"Dimana? Hah? Kau mau lari dari janjimu? Tidak, tak akan kubiarkan." ucap Bilson.


Ia mendekati Aletha dan baby Eril. Terlihat jelas ketidaksukaan baby Eril kepadanya sampai-sampai ia menangis tersedu-sedu karena Bilson sudah di dekatnya lagi.


Aletha mengusap punggung baby Eril yang berada dalam gendongannya.


"Dimana?" bentak Bilson lagi tepat di telinga Aletha.


Aletha sampai menjauhkan wajahnya dari Bilson.


"Aku menitipkannya kepada temanku." jawab Aletha pelan.


"Siapa namanya? Dimana alamatnya? Cepat kasitau sekarang!" ucap Bilson galak.


Aletha sengaja mengulur-ulur waktu untuk menjawab pertanyaan Bilson sambil mengharapkan adanya bala bantuan yang akan datang menolongnya.


"Cepat katakan!" jeritnya lagi.


Baby Eril yang mendengar suara kemarahan sang papa kembali menangis sesentrupan.


Aletha tetap membawa tubuh Eril ke dalam dekapannya untuk memberi energi agar si bayi tidak merasa sendirian dalam keributan pagi itu.


"Iya, mas. Aku akan mengatakannya tapi mas harus janji satu hal kepadaku." pancing Aletha.


"Tidak. Aku tidak akan melakukan apa pun untukmu jika itu yang kau mau. Pegang janjiku!" tutur Bilson.

__ADS_1


__ADS_2