
"Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah kugenggam. Kau ingat itu? Kau tau aku bagaimana. Bila aku sangat mencintai seseorang maka tidak akan mudah aku melepaskannya." ucapnya lagi.
Aletha masih mencoba meronta-ronta sambil mendorong dada bidang pria itu, namun lagi-lagi ia gagal.
Ya Tuhan, tolong aku. Siapa sebenarnya lelaki ini. Apa yang dia mau? Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali? Apa yang sebenarnya terjadi di masa laluku? Batin Aletha.
"Ta-tapi aku nggak bisa napas. Tolong lepaskan aku!" ucap Aletha terbata-bata.
Mendengar ucapan Aletha spontan lelaki itu melepaskan tubuh Aletha dengan cepat.
"Maaf sayang. Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat!" ujar lelaki itu lembut.
"Aku, aku, aku mau ke kamar kecil. Dimana kamar kecil?" tanya Aletha.
Aletha menyiiri seluruh ruangan beaar itu dengan matanya. Mencari-cari dimana letak kamar mandi.
"Lurus, lalu belok ke kiri." sahut lelaki itu.
Aletha cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Aku harus bagaiman supaya bisa keluar dari rumah ini? Apa Dena bisa membantuku? Ahhh, tidak. Aku selalu merepotkannya. Lagian dia pasti sibuk dengan segudang pelanggannya di butik. Tapi aku harus bagaimana? Tanya dalam hati.
"Sudah selesai, sayang?" tanya suara lelaki itu dari luar.
"Se-sebentar!" sahut Aletha dari dalam.
"Baiklah, kutunggu di depan pintu." ujar lelaki itu lagi.
Tok tok tok
"Permisi tuan! Ini teh dan makanannya Tuan." ucap seorang pelayan dari luar ruangan sambil memegang nampan di tangannya.
"Masuk!" sahut lelaki itu dari dalam.
Si pelayan itu masuk dan meletakkan nampan itu di atas meja.
"Keluar!" tukas lelaki itu kepada si pelayan.
"Baik, tuan. Saya permisi.
Saat si pelayan sudah pergi, dua orang suruhan lelaki itu masuk.
"Tuan, kami sudah membawa orang yang anda maksudkan." ujar mereka berdua serentak.
Mereka adalah Radot dan Sandy. Rupanya kedua orang itu adalah orang kepercayaan lelaki yang memiliki istana megah ini.
Lelaki itu melangkah mendekat kepada mereka.
"Buka ikatan di tangannya dan juga mulutnya!" perintah lelaki itu.
Kedua suruhannya itu dengan ligat membuka ikatan tangan Bilson dan mengeluarkan kain penutup di mata dan mulutnya.
"Bagaimana kalian bisa membawa dia ke sini?" tanya lelaki itu.
"Eee, anu, tuan. Pria ini sedang cekcok dengan pacarnya tadi tuan di jalan, kami langsung membawanya ke sini." jelas Radot.
"Dia juga menolak tadi tuan, makanya kami membawanya ke sini secara paksa." sahut Jaka.
__ADS_1
"Bagus! Kalian berdua memang patut diandalkan." ucap lelaki itu sambil menepuk pundak kedua suruhannya itu.
Kenapa wajahnya mirip denganku? Siapa dua sebenarnya? Dan apa maunya membawaku ke sini? Batin Bilson.
Matanya menatap tajam kepada lelaki yang mirip dengannya itu.
"Kau tidak mengenalku pengecut?" ucap lelaki itu kepada Bilson.
Bilson menggeleng perlahan.
"Kau sudah melupakan apa yang kau perbuat di masa lalu?" tanya lelaki itu lagi.
"Sepertinya anda salah orang. Saya bukan orang yang anda maksud." ucap Bilson mencoba menghindar.
Lelaki itu meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Drrrrrrt drrrrrrrrrt drrrrrrrt
Ponsel Bilson berdering. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan mengarahkan ke telinganya.
"Halo! Dengan siapa ini..."
"Halo....."
Suara yang didengarnya melengking dan bergema Seperti di dalam satu ruangan.
"Kamu yang menghubungi saya?" tanya Bilson bingung.
"Iya. Kan tadi saya sudah menghubungi anda sebelumnya. Apakah anda melupakannya tuan Bilson?' tanya lelaki itu.
"Sudahkah kamu mengingat saya, tuan?" tanya lelaki itu kepada Bilson sambil mengerutkan keningnya.
"Saya tidak mengenal anda. Lepaskan saya! Saya tak ingin berurusan dengan anda." ucap Bilsob berteriak.
Mas Bilson? Mas Bilson datang ke sini untuk membawaku? Benarkah? Apakahmas Bilson sudah perduli dengan kami? Iya, aku yakin itu adalah mas Bilson. Aku sangat mengenal suaramya. Batin Aletha.
Aletha segera keluar dari kamar mandi.
"Mas Bilson!" serunya.
Ia berlari menyambar tubuh Bilson lalu memeluknya sanga erat.
"Trimakasih, mas karena sudah datang ke sini unguk menemputku dan anak kita." ucap Aletha dalam dekapannya.
"Hentikan tingkah konyolmu perempuan bodoh! Aku ke sini bukan untuk melihat tingkahmu yang sangat menjijikkan ini. Tapi......"
Lelaki itu mencium aroma ketidakharmonisan diantara pasangan suami istri itu. Dia bisa melihat dari tatapan mata Bilaon dan juga Aletha.
Pasti kamu sangat menderita ya, sayang? Aku tau itu. Alu bisa merasakannya. Tenanglah! Aku akan memberikan pelajaran kepada lelaki arogan ini. Janji lelaki itu dalam hatinya.
"Lalu, mas ke sini ngapain?" tanya Aletha bingung.
Ia sudah melepaskan pelukannya namun menatap mata Bilson dengan lekat.
Senggaknya ada orang yang aku kenal di sini. Jadi aku tidak sendirian. Batin Aletha.
"Aku yang memanggilnya ke sini. Kamu senang kan bertemu dengan suamimu di sini?" ujar lelaki itu.
__ADS_1
"Siapa kai sebenarnya dan apa yang kau inginkan?" tanya Aletha.
Lelaki itu mendekati Aletha dan Bilson.
"Mengenai aku siapa, mungkin suami kamu ini lebih tau. Coba kamu tanyakan!" ujar lelaki itu.
Ia melirik tajam ke arah Bilson.
"Siapa dia, mas? Dan kenapa wajah kalian berdua sangat mirip?" tanya Aletha.
"Siapa kau? Tidak, aku tidak mengenalmu sama sekali." sahut Bilson.
"Benarkah?" tanya lelaki itu.
"Jaka!" panggilnya kepada seorang tangan kanannya.
"Saya, tuan!" sahut Jaka.
"Ambilkan bingkai poto di dalam sana!" perintah lelaki itu kepada Jaka.
"Siap, tuan!" sahut Jaka.
Ia bergegas menuju lemari yang ditunjuk oleh lelaki itu.
"Ini, tuan." ucapnya kepada bossnya itu sambil menyodorkan sebuah bingkai poto yang sudah tua tapi tetap terawat dengan baik.
"Lihat ini! Kau akan ingat kepadaku." ucap lelaki itu.
Ia menyodorkan bingkai itu kepada Bilson, tapi...
"Tidak. Aku tak mau melihatnya. Pasti ini semua rekayasa kamu." ucap Bilson cepat.
"Sebaiknya aku pergi saja. Karena aku hanya membuang-buang waktuku di sini." ucap Bilson.
Ia melangkah hendak keluar dari pintu.
"Kalau dengan Renata Aruan apakah kamu ingat?" tanya lelaki itu.
Zeggg
Seketika detak jantung Bilson berdegup sangay kencang seperti genderang mau perang saat mendengar nama itu disebut.
Kakinya pun berhenti seolah mengisyaratkan padanya agar tidak meninggalkan ruangan itu.
Kenapa dia tau nama itu? Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa ia memakai wajahku? Tunggu tunggu. Aku akan coba mengingat-ingat siapa lelaki ini. Batinnya.
"Sudah ingatkah kamu siapa Renata Aruan?" tanya lelaki itu.
Ia memberi penekanan terhadap suaranya saat menyebut nama Renata Aruan itu.
Bagaimana dia bisa menyebut nama wanita itu. Bukankah itu..... Ahhh sudahlah. Aku tak perduli. Aku akan meninggalkan tempat yang tidak jelas seperti ini. Batinnya.
"Coba jelaskan apa yang sudah kamu perbuat kepada wanita yang bernama Renata Aruan! Dan coba anda jelaskan mengenai wajah anda dan wajah saya. Saya pikir anda sangat tau itu....." gumam lelaki itu.
"Mungkin poto ini bisa membantu kamu mengingatnya." ucap lelaki itu sambil berjalan mendekati Bilson dan memberikan bingkai itu ke tangan Bilson dalam keadaan telungkup.
Aletha bahkan tidak bisa melihat poto siapa yng ada di dalam sana.
__ADS_1