Mama Superku

Mama Superku
Meninggalkan Hutang


__ADS_3

Beberapa bulan setelah penyelidikan, Bilson jadi-jadian berhasil dijebloskan ke dalam penjara. Bukan penyesalan yang keluar dari bibirnya, tetapi ia malah mengucapkan balasdendamnya kepada Aletha dan juga bayinya.


Sedikit demi sedikit, kehidupan Aletha dan juga baby Eril kini mulai membaik. Bahkan perceraian yang pernah diajukan oleh Aletha ke pihak pengadilan agama telah disetujui, sebab Aletha menyerahkan semua bukti yang memberatkan Bilson alias Revan.


Namun, ternyata tak seperti yang diharapkan, meskipun saat ini Bilson alias Revan sudah ada dalam jeruji besi, namun ternyata dia meninggalkan utang yang begitu banyak. Memanfaatkan posisinya sebagai direktur perusahaan untuk meminjam uang dari beberapa perusahaan dengan alasan untuk membuka cabang baru perusahaan yang diemban.


Bahkan Bilson alias Revan menawarkan kerjasama dengan menjanjikan keuntungan yang sangat menggiurkan. Tentu saja hal itu membuat para investor setuju dan memberikan sejumlah dana yang dipinjam oleh Bilson alias Revan, tanpa pikir panjang.


Sedikitpun Aletha tidak pernah paham mengenai bisnis atau perusahaan yang digeluti orang tuanya sejak dulu. Memang sih, dia sudah sedikit lega karena dia sudah bebas tinggal di rumah itu tanpa adanya kekerasan seperti yang dulu.


Revan meninggalkan hutang dan mau tidak mau Aletha harus membayarnya, ia bahkan sampai menjual semua aset yang dia punya kecuali rumah yang mereka tempati saat ini.


"Apa yang harus kulakukan? Aku nggak bisa bergantung hidup dengan uang yang sudah mulai menipis di tanganku. Aku harus mencari pekerjaan, tapi di mana? Adakah orang yang mau menerima seorang single parent seperti aku untuk bekerja? Di bidang apapun aku siap," gumam Aletha.


Kini baby Eril sudah genap berusia satu setengah tahun. Jalannya sudah lancar, giginya semua sudah tumbuh dan dia mulai mahir berbicara dua atau tiga kata.


"Jika aku bekerja siapa yang menjaga anakku? Atau apakah ada orang yang menerima aku kerja dengan membawa anak kecil?" tanya Aleta kepada dirinya sendiri. Dilihatnya bayi yang dulunya mungil itu kini sudah besar, badannya semakin tinggi saja.


Aletha membolak-balikkan koran yang baru saja dia dapatkan dari tukang penjual koran, ia melihat lowongan pekerjaan yang tertera di sana. Namun, tak satupun yang sesuai dengan kriterianya. Kebanyakan mereka menerima pekerjaan dengan status fresh graduate atau bahkan yang masih single, tidak termasuk single parent seperti dirinya.


Ia menghempaskan koran itu ke meja yang ada di ruang tamu. "Aku harus bagaimana? Haruskah aku menyulitkan Dena lagi? Tidak, aku tidak bisa. Sudah terlalu banyak aku memberatkan dirinya. Sudah saatnya aku harus berdiri sendiri karena ini semua adalah keputusanku. Aku akan menghubunginya nanti jika aku memang benar-benar tidak mendapatkan pekerjaan," imbuhnya lagi.


"Mama, mama ayo main, Abang mau main sama mama. Mama sini!" pinta Eril kepada mamanya. membuat mamanya yang tadinya melamun, menyambut anaknya yang ingin bermain dengannya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Mama akan bermain denganmu. Mau main apa kita, nak?" tanya Mama Aletha kepada Eril.


"Kita main perosotan yuk, ma!" ajak baby Eril kepada mamanya. Dan diangguki oleh Mama Aletha. Tangannya ditarik oleh Eril menuju tempat bermain yang dikhususkan untuknya, yang di dalamnya ada bermacam-macam mainan. Termasuk sebuah perosotan mini.


Sambil memperhatikan Eril bermain di perosotan Aletha masih memikirkan lagi tentang bagaimana nasib mereka kedepannya. Ia mencoba memutar otak untuk mencari cari pekerjaan yang cocok dengannya sambil membawa anak kecil seperti Erill.


"Mama, papa mana? Abang mau ketemu sama papa. boleh ya, ma?" ujar Eril. Membuat Aletha terperanjat. Baru kali ini semenjak Eril jelas berucap, ia menanyakan tentang papanya.


"Papa sedang pergi jauh sayang, nanti papa akan datang, kamu sabar ya!" jawab Aletha. Ia mencoba meyakinkan anaknya itu. Lalu, dengan polosnya Eril kembali sibuk dengan mainannya.


"Halo Bu saya melihat di koran bahwa restoran ibu membutuhkan seorang pelayan, bisakah saya saya mengajukan lamaran di restoran ibu?" tanya Aletha lewat sambungan ponselnya.


"Baiklah Bu, besok saya akan datang menemui ibu. Terima kasih banyak ya Bu," ucapnya lagi lalu menutup sambungan teleponnya.


Saat dilaksanakannya interview, Aletha dijejali begitu banyak pertanyaan dan semua bisa di jawabnya tetapi yang membuat dia tidak diterima di restoran itu untuk bekerja adalah karena dia mempunyai seorang anak. Karena Aletha meminta kepada pihak restoran agar bisa membawa anak sambil bekerja namun restoran itu keberatan untuk memberikan kesempatan itu kepada Aletha.


Mereka meninggalkan restoran itu dengan hati yang hampa dengan harapan yang kosong. Namun tak sampai di situ juga, Aleta bahkan mendatangi berbagai jenis perusahaan, perkantoran, restoran restoran dan lain-lain. Tapi tak satupun yang menerima dia karena lagi-lagi permintaan Aletha adalah bekerja sambil membawa anak. Hal itulah yang membuat semua pihak terkait untuk menolaknya bekerja di tempat mereka.


Aletha dan Eril kembali ke rumah dengan putus asa. Satu-satunya yang menjadi harapan dan tumpuannya saat ini adalah Dena. Mungkin hanya Dena yang bisa membantu dia saat ini supaya dia bisa menyambung hidupnya dan juga anaknya.


"Sayang kita ke rumah bunda ya!" ajak Aleta kepada Eril.


"Baik Mama. Abang rindu sama bunda. Abang ingin main sama bunda," ucap Eril dengan senang hati. Ia merasa kalau bunda Dena adalah tempat ternyaman kedua dalam hidupnya, tentu saja yang pertama adalah mamanya Mama Aletha.

__ADS_1


"Oke, sayang kita siap-siap dulu!" seru Mama Aletha.


Ia membawa Eril ke kamar mandi untuk dimandikan dan kemudian mengganti bajunya. Iapun melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.


"Ayo, sayang ambil sepatunya ya!" ucap Aletha kepada Eril. Dan Eril melakukan apa yang diperintahkan oleh mamanya. Ia mengambil sepatu yang ia sangat sukai.


"Kenapa itu sayang? Yang itu sudah kekecilan sama Abang. Ganti ya!" tukas Mama Aleta.


"Enggak mau, abang maunya ini. Abang ganteng pakai ini," rengek Eril.


"Kalau gitu kita nggak usah ke rumah bunda," celetuk Mama Aletha.


"iya iya iya iya, abang pakai yang ini aja," ucap Eril lalu mengganti sepatunya dengan sepatu yang ditunjuk oleh mamanya.


"Kita berangkat!" seru Aletha.


Setelah semuanya merasa sudah beres mereka pun pergi meninggalkan rumah itu dengan menaiki taksi ke rumah Dena.


Dena sudah memiliki rumah, dulunya Ia hanya memiliki sebuah apartemen tapi karena kegigihannya dalam membuka bisnis butiknya, perlahan-lahan rezeki pun menghampirinya. Sehingga ia bisa membeli rumah yang tergolong mewah di kota itu.


Bahkan butiknya pun kini sudah memiliki dua cabang. Patut diacungi jempollah kerja keras Dena selama ini. Kreativitasnya membuat masyarakat terpikat atas semua karya tangannya sendiri.


Bukan hanya itu saja, karyawan-karyawannya pun nyaman dengannya karena dia memperlakukannya dengan baik meski mereka adalah bawahannya. Tak jarang mereka juga sering melakukan holiday bareng atau makan bareng di waktu-waktu tertentu, di luar kegiatan butik pastinya.

__ADS_1


__ADS_2