Mama Superku

Mama Superku
Bilson Kena Tipu


__ADS_3

"Ma-maksud kamu apa, mas?" tanya Aletha bingung.


"Aku tidak akan pernah mengabulkan segala permintaanmu. Tidak!" ucap Bilson ketus.


"Ya sudah kalau begitu, akupun takkan memberi tahu dimana aku menyimpan berkas itu." sahut Aletha.


Dia berlari sekencang-kencangnya sambil memabawa baby Eril dalam gendongannya.


Ia mengunci pintu kamar dengan cepat dan sigap. Lalu menutup telinga Eril agar tidak terkejut mendengar teriakan Bilson yang sampai merusak gendang telinga. Meskipun ia berada di luar kamar.


"Dasar wanita gila! Kau telah menipuku. Buka pintunya!" jeritnya dari luar.


Aletha yang mendengar jeritan Bilson dari luar hanya bisa berdoa dalam hati memohon perlindungan dari yang Maha Kuasa agar selamat dari lelaki tak berprikemanusiaan itu.


Sambil menggendong baby Eril, Aletha berusaha meraih ponselnya. Dia ingin meminta bantuan dari siapa saja yang dia berhasil hubungi. Namun tangannya kesulitan mencari kontak di ponselnya. Sehingga ia tak berhasil menghubungi siapa pun.


Sementara suara jeritan Bilson masih terdengar jelas di daun telinga, bahkan masih sangat kuat.


Aletha hanya bisa pasrah sambil memeluk erat baby Eril.


Ie menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil menajamkan telinganya agar tetap fokus mendengar suara Bilson atau pun suara langkahnya.


Setengah jam sudah Aletha bergulat dengan jiwa pasrahnya. Suara dari luar pun tidak ada. Aletha sedikit bernapas lega. Ditariknya napas panjangnya beberapa kali.


Sementara Santi yang sudah mondar mandir tidak jelas di dalam apartemennya memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar karena dia sudah pusing memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan kepada Tito Kardalis nantinya.


Dia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya.


"Dasar Sandra! Orang lagi butuh teman dianya malah sibuk. Iiiiiih, sebel!" gerutu Santi.


Ia menendang kerikil yang ada di depannya hingga terlempar jauh dan....


"Hey, siapa yang melempar saya?" tanya salah seorang lelaki penjual buah di pinggir jalan.


Ternyata kerikil itu mengenai lengannya. Sontak saja ia kesakitan dan terkejut hingga ia meringis.


Lelaki penjual buah itu mencari-cari siapa yang sudah melemparnya. Matanya menelusuri jalanan mulai dari bagian depan, belakang dan sampingnya.


"Kamu yang melempar saya? Hah?" teriaknya kepada Santi yang sedang ketakutan.


"Ma-ma-maaf, pak. Saya nggak sengaja." ujar Santi takut.


"Makanya mbak kalau mau lempar lihat-lihat dong! Sakit ini lenganku." gerutu lelaki itu.


"Kamu mau gantiin saya jualan? Hah?" tanyanya kesal kepada Santi.

__ADS_1


Kok aku disuruh gantiin dia jualan sih. Kan aku udah minta maaf. Batin Santi.


"Lihat ini, tangan saya jadi sakit. Gimana saya mau jualan?" ucap lelaki itu lagi.


"Sekali lagi maaf, pak. Saya lagi buru-buru tadi jadi saya nggak lihat bapak ada di sana." ucap Santi memberi alasan.


"Saya nggak mau tau. Pokoknya mbak harus tanggung jawab. Mbak harus bersedia gantiin saya jualan!" tukas lelaki itu.


Aihhh si bapak. Nggak ngerti apa aku lagi galau? Gimana mau dagang hati aja lagi bimbang. Gerutu Santi dalam hati.


"Bisa nggak?" tanya lelaki itu tiba-tiba sehingga membuyarkan lamunan Santi.


"Maaf, pak. Saya tidak bisa. Saya sedang dilanda kebingungan sekarang." sahut Santi.


"Mbak mau lari dati tanggung jawab?"


"Bu-bukan, pak. Saya memang lagi galau. Takutnya nanti dagangan bapak nggak laku kalau saya yang jualin." tukas Santi.


Dilihat dari penampilannya perempuan ini sepertinya orang baik-baik. Hmmmm, coba saya tes dulu. Batin lelaki itu.


"Kalau begitu mbak harus ganti rugi?"


"Ganti rugi apaan, pak? Kan si bapak nggak ada yang rugi. Buktinya tangan bapak baik-baik saja." tukas Santi.


"Jelas rugi saya. Tangan saya sakit jadi nggak bisa jualan. Dan ini semua gara-gara mbak. Mbak harus tanggung jawab!" ucap lelaki itu tegas.


"Iya, iya. Saya ganti rugi. Berapa yang harus saya bayar?" tanya Santi.


Lelaki itu menghitung semua jumlah buah yang belum laku terjual lalu menjumlahkan total harganya secara keseluruhan.


"Mbak harus membayar segini!" tukas lelaki itu sembari menunjukkan buku kecilnya.


"Hah? Mahal banget, pak?" ujar Santi.


"Ya sudah kalau mbak nggak mau bayar, sebaiknya mbak membantu saya menjualkan buah-buahan ini sampai habis." ucap lelaki itu santai.


Gila ini bapak. Masa kerugiannya mahal banget. Kesempatan dalam kesempitan ini kayaknya. Ogah aku mau jualin semua dagangannya. Aku lagi bete gini mana bisa. Kesal aku hari ini kesaaaaaal! Gerutu Santi dalam hatinya.


Sementara di rumah Aletha, Bilson sedang duduk di depan kamar Aletha menunggu sampai Aletha keluar. Ia sibuk dengan gadgetnya. Pikirannay sangat buntu sekarang.


Masa dia nggak ada ide untuk membuat Aletha keluar dari kamarnya. Dasar Bilson. Kalau marahnya sedang pasang ya itu, idenya pun tak jalan. Semua buntu.


Aletha merapatkan telinganya ke pintu. Ia memanfaatkan pendengarannya semaksimal mungkin untuk mencari tahu suasana di luar kamarnya.


"Kok nggak ada suara? Apa mas Bilson sudah pergi??" lirih Aletha.

__ADS_1


Semoga saja mas Bilson sudah pergi. Ya Tuhan, lindungilah kami. Doa Aletha dalam hatinya.


"Mama, mama!" seru Eril.


"Iya sayang." sahut Aletha.


Ia mengusap pipi chubby Eril dengan lembut.


"Anak mama kenapa?" tanya Aletha berbisik.


"Mimi, mimi." jawab Eril.


"Kamu haus aayang?" tanya Aletha.


Baby Eril mengangguk.


Aletha langsung buru-buru mencari air minum di dalam kamarnya. Berharap air minum masih ada di dalam ceret di atas meja. Hanya itulah harapannya satu-satunya.


Ia tak tega melihat baby Eril kehausan. Dari tadi memang mereka tak ada meneguk air minum setetes pun.


"Aduuuuh! Air minumnya kosong lagi. Gimana ini?" gumam Aletha.


"Sayang, air minumnya udah abis. Anak mama yang kuat ya. Mama akan cari solusinya." ucap Aletha pelan.


Si baby hanya bisa menatap wajah mamanya yang mulus dan putih itu.


"Astaga, gimana ini? Semua peralatan Eril kan masih di dapur. Aku belum sempat tadi memasukkannya ke kamar. Ini semua gara-gara lelaki brengsek itu. Hufft, sial!" gerutu Aletha.


Ia melangkahkan kakinya ke pintu dengan gontai sambil menggendong baby Eril.


Ia mencoba melakukan hal seperti yang tadi. Merapatkan telinganya ke pintu agar bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang ada di luar kamarnya.


"Hallo, San! Surat-suratnya hilang dari kamarku."


"Lho, kok bisa pak? Siapa yang mengambilnya?"


"Mungkin wanita gila itu yang mengambilnya. Aku sangat yakin." sahut Bilson.


"Trus sekarang ibu wanita itu lagi dimana, pak?" tanya Sandra dari seberang.


"Dia lagi sembunyi di dalam kamar." jawab Bilson.


Sandra memberikan solusi agar Bilson berhasil membuat Aletha keluar dari dalam kamar. Bilson mendengarkan penuturan Sandra dengan seksama.


"Siap-siaplah kau perempuan gila! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancam Bilson.

__ADS_1


__ADS_2