
"Aku mau pindah, Tito. Masa kontraknya surah habis," ucap Santi berdalih. Ia tak ingin Tito bertqnya terlalu jauh. Untuk saat ini dia tidak akan memberitahu siapapun kalau dia akan pulang ke rumah orang tuanya.
"Ya sudah, yok! Aku akan bantu kamu!" tukas Tito. Ia menarik tangan Santi sampai ke dalam mobil.
Cepat-cepat Santi membawa barang-barangnya ke dalam mobil yang dibantu oleh Tito.
"Masih ada yang tertinggal?" tanya Tito kepada Santi. Santi menjawab dengan kepala yang menggeleng perlahan.
"Oke, kita berangkat!" seru Tito.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Hmmmm kalah ya, kasian!" ujar Bilson mengejek Aletha. "Makanya jangan coba-coba menggugatku. Aku nggak akan datang dan aku nggaka akan pernah setuju dengan perceraian ini," senyumnya mengembang.
"Tapi kenapa, mas? Bukankah kamu sudah punya kekasih, dan.... wanita itu sedang hamil anak kamu sekarang, iya kan?" Aletha sudah terbakar emosi. Keputusan hakim tadi membuatnya sedikit goyah, ditambah lagi tingkah Bilson yang semakin menyebalkan.
""Kau ingin tau mengapa? Yakin kau kuat mendengarnya?" tanya Bilson dengan sorot mata tajamnya. Tangan kanannya mencengkeram dagu Aletha sangat kuat. Sampai-sampai ia tak bisa menjawab pertanyaan Bilson yang memekik di telinga itu.
"Jawab!" bentak Bilson. Tak sadar kalau dia sedang mencengkeram dagu Aletha yang membuat wanita itu tak bisa berkata apa-apa.
Aletha meronta semampunya. Tangan kanannya bergerak mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melindngi dirinya.
Prakkk
Vas bunga yang terbuat dari kaca ia pukulkan tepat di kepala Bilson. Dan tangan Bilson yang mencengkeram pun segera mengendor. Aletha cepat-cepat lari dari sana dan menggendong baby Eril dan mereka keluar dari rumah itu dengan perasaan takut.
Aletha berlari-lari sambil menyusuri jalanan menuju keramaian. Dalam hati ia berdoa agar mereka tidak akan tertangkap oleh Bilson. Peluhnya sudah membanjiri sekujur tubuhnya.
Brukkk
"Maaf, pak. Saya saya tidak sengaja," ucap Aletha kepada orang yang ditabraknya sambil menundukkan kepalanya. Rasa takutnya membuatnya enggan menunjukkannya kepada orang yang ditabraknya itu.
__ADS_1
"Ibu nggak apa-apa?" Bukannya marah, lelaki yang ditabrak Aletha itu malah menanyakan keadaan Aletha. Ia memegang pundak Aletha lalu mengamatinya dari atas sampai ke bawah untuk memeriksa keadaannya. Baby Eril mencengkeram kuat tubuh mamanya itu.
"Jangan takut, sayang. Kamu aman bersama mama. Kita akan meninggalkan tempat ini," gumam Aletha kepada baby Eril sambil mengusap punggungnya lembut.
"Hei, wanita gila! Jangan lari!" seru Bilson dari kejauhan. Tangannya memegangi kepalanya yang berbalut kain sambil meringis kesakitan.
"Mau kemana kau, hah?"
Lelaki yang ditabrak Aletha itu berusaha memahami situasi, lalu ia menarik tangan Aletha dan menggiringnya ke dalam mobilnya. Dibukakannya pintu untuk wanita itu dan bayinya.
Ia memasang sabuk pengaman pada Aletha. Barulah dia bisa meihat dengan jelas siapa wanita itu. Dari tadi tak sedikit pun Aletha mau mengangkat dagunya.
"Dia?" batin lelaki itu. Seketika ia teringat kala itu ia melihat wanita itu berada di pengadilan. "Apa yang terjadi padanya sebenarnya?" batin lelaki yang mengenakan jas itu.
"Hei, lepaskan dia!" teriak Bilson yamg sudah dekat dari mereka. Lelaki itu tak menghiraukan Bilson, karena dia fokus menatap Aletha ysng masih dalam rasa takutnya.
Entah mengapa baby Eril menangis sejadi-jadinya melihat mamanya diperlakukan seperti itu.
"Mama, mamaaaaa!" tangisnya penuh iba. Air matanya mengucur deras. Tangannya tak ia lepaskan dari baju sang mama.
"Lepaskan wanita itu, pak! Anda tidak boleh kasar dengan seorang wanita!" ucap lelaki itu sambil menahan kegeramannya. Tangannya sudah mengepal kuat. Giginya merapat hingga mengeluarkan bunyi.
"Saya suaminya. Terserah saya mau apakan dia, dan anda jangan ikut campur karena ini nggak ada kaitannya sedikitpun dengan anda. Minggir!" tukas Bilaon mendorong tubuh lelaki itu dengan tangan kirinya.
"Meskipun bapak suami dari ibu ini, tapi tetap saja bapak tidak boleh kasar begitu kepada wanita," lelaki itu mencoba mengingatkan Bilson.
"Siapa kau, hah? Apa hubunganmu dengan istriku?" bentak Bilson kepada lelaki itu. Bilson enatap lelaki yang mencoba menghentikannya dengan tatapan ingin memakan. Seolah lelaki itu adalah makanan lezat yang siap disantap.
"Saya memang tidak ada hubungan dengan wanita ini, tapi sikap anda sangat tidak pantas dis3but sebagai seorang suami karena anda sudah membuat istri anda terluka," ucap lelaki itu santai. Ia telah mengontrol dirinya agar tidak sampai memukul lelaki besar yang ada di depannya.
__ADS_1
"Jika dia sampai memukul istrinya, bida jadi kan istrinya terpelanting? Dia aja badannya sebesar gajah," ucap lelaki itu merutuki Bilson dalam hatinya.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan anda, minggir!" ucap Bilson kasar. Ia menarik paksa tangan Aletha yang juga ditarik oleh lelaki itu. Seperti sedang lomba tarik tambang saat memperingati tujuh belasan. Hahahaha.
"Ada," sahut lelaki itu cepat dengan suara tegas. Ia melirik ke arah baby Eril yang masih menyisakan air matanya.
"Apakah anda selalu begini? Menghantam istri anda di depan anak anda?" tanya lelaki itu. Kini ia yang geram melihat Bilson. Anak sekecil baby Eril sangat tidak pantas menyaksikan orang tuanya melakukan hal yang berbau kekerasan.
"Dia bukan anakku," sanggah Bilson lalu mengatupkan kedua bibirnya.
"Lalu kalau dia bukan anakmu, anak siapa? Hah? Jadi penyebabnya adalah anda mencurigai istri anda selingkuh? Begitu? Tidak tidak.
Bilson terdiam mendengar apa yang diucapkan lelaki itu, tangan Bilson mengepal kuat, matanya semakin tajam menatap lelaki itu.
"Saya adalah seorang oengacara, saya bisa melaporkan anda ke pihak yang berwajib dengan tuduhan telah melajukan KDRT terhadap istri sendiri, dan juga telah mengganggu mental anak dengan melakukan kemerasa di hadapan anak, ucap lelaki iru santai.
"Laporkan saja kalau anda berani. Lagian anda tidak bisa membuktikan kalau saya berbuat kasar kepada istri saya," ucap Bilson menantang. "Baik," jawab lelaki itu cepat.
Lelaki itu menggunakan kesempatan kelengahan Bilson untuk menarik kembali tangan Aletha lalu menyisyaratkan agar Aletha masuk ke dalam mobil untuk mengamankan baby Eril.
"Brengsek!" umpat Bilson.
"Siapa bilang saya tak punya bukti? Hah?" bentak lelaki itu.
Ia menarik kedua tangan Bilson ke belakang, lalu menendang lutut Bilson dengan sangat kuat.
"Aaaaaaaaaargh! Sa-sakit!" teriak Bilson.
Lelaki itu mendorong tubuh Bilson sangat kuat sampai terjerembab ke tanah. Kesempatan itu ia gunakan untuk kembali ke mobil, lalu buru-buru ia menginjak pedal gas lalu mengemudikan mobilnya dengan kencang.
__ADS_1