
Sementara Bilson yang sebenarnya, sedang bersusah payah untuk menyelamatkan diri dari jurang maut. Suruhan Revan berhasil menabrak mobil yang dia tumpangi, dan mobil itu amblas ke dalam jurang.
Syukur, Bilson bisa menyelamatkan diri meskipun agak kesulitan karena kondisi tubuhnya yang luka. Untung saja ada warga yang melihat kecelakaan itu, dan Bilson berhasil diamankan hingga dibawa ke rumah sakit.
Ternyata, ada saksi yang melihat kejadian itu, dan melihat dengan jelas siapa pelakunya. Bilson bertekad akan menangkap siapa yang sudah mencelakai dirinya baik hidup maupun mati.
Selama di rumah sakit, Bilson menghubungi polisi dan menceritakan tentang kecelakaan itu. Merekapun kerja sama untuk mecaritahu si pelaku.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Bilson geram kepada kedua pria itu.
"Ti-tidak ada, pak. Kami hanya tidak sengaja menabrak mobil bapak," jawab mereka berdua serentak.
"Baiklah, jika kalian berdua tidak ada yang mengaku maka selamat bersenang-senang di dalam penjara karena kalian sudah mengancam nyawa seseorang," ucap salah seorang polisi dengan tegasnya.
"Jangan, pak. Jangan masukkan saya ke penjara," ucap seorang yang bertubuh gemuk itu. "Saya juga, pak. Tolong, pak! Kami ada keluarga, kami melakukannya untuk menyambung hidup kami, pak," sahut seorang yang bertubuh kurus.
"Makanya jawab yang jujur. Kalau tidak kalian berdua akan masuk sel. Dan orang yang telah membayar kalian tidak akan bertanggung jawab atas kalian. Maka pikirkan keluarga kalian!" ucap Bilson dengan suara kerasnya.
Kedua pria itu menceritakan segalanya.
"Kurang ajar! Aku akan membuat perhitungan dengannya!" ujar Bilson marah. Tangannya sudah mengepal sangat kuat.
"Tahan dulu, pak. Kita akan membuat strategi terlebih dahulu. Sepertinya orang ini sangat licik, maka kitapun akan melakukannya dengan cara yang licik juga," tukas pak polisi.
Akhirnya kedua pria yang sudah berusaha melenyapkan Bilson dibebaskan dengan syarat, mereka akan bekerja sama dengan Bilson. Bilson bahkan mengancam keselamatan keluarga mereka bila mereka tak mau diajak kerjasama.
"Trimakasih atas kebaikan bapak. Semoga bapak sehat selalu," ucap pria yang bertubuh gemuk itu.
"Bapak sangat baik sekali, mau membebaskan kami padahal kami sudah mencelakai bapak," sahut pria bertubuh kurus itu.
__ADS_1
"Sudah sana, temuilah keluarga kalian dan jangan berbuat seperti ini lagi! Dan, ingat suatu saat saya akan menghubungi kalian, jadi tinggalkan kontak kalian di sini!" tukas Bilson.
Mereka berdua menuliskan nomor ponsel mereka di secarik kertas yang diberikan Bilson.
"Semoga bapak cepat sembuh," ucap keduanya serentak.
"Trimakasih atas doanya," jawab Bilson.
Kedua pria itupun pamit dan juga petugas kepolisian. Kini Bilson sendirian di rumah sakit.
Besok adalah hari pernikahannya dengan Aletha, namun apa yang bisa ia lakukan? Kondisinya masih belum stabil, meskipun sudah lumayan membaik daripada sebelumnya.
"Tenang, sayang! Aku akan datang besok. Tunggulah aku untuk mengucapkan janji suciku padamu," gumamnya pelan.
Tak sadar, butiran bening telah jatuh di pipinya, pipi yang masih ada bekas lebam.
Malampun semakin larut. Bilson memutuskan untuk tidur dengan harapan esok akan jauh lebih baik dari hari ini.
"Kenapa pintunya dikunci? Kemana papa dan mama?" tanya Bilson pada dirinya sendiri.
"Lho? Mas Bilson?" Seorang wanita terperanjat melihat Bilson. Bilsonpun membalikkan tubuhnya, menoleh kepada wanita itu.
"Bukannya mas dan kedua orang tua mas sudah berangkat ke hall?" tanya wanita itu heran. Alisnya bahkan ikut terangkat bersama keningnya yang mengkerut.
"Saya sudah berangkat? Ini buktinya saya masih di sini," tukas Bilson tak kalah bingungnya.
"Jadi yang tadi siapa? Bukannya itu kamu, mas?" tanya wanita itu lagi. Ia mendekati Bilson lalu menyentuh lengannya dengan jari telunjuknya.
"Bukan hantu," gumamnya.
__ADS_1
"Saya mau ke sana juga mas. Permisi!" ucap wanita itu berlari meninggalkan Bilson dengan wajah takut.
"Kenapa dia lari? Lalu mengapa ekspresinya seperti itu? Memangnya saya hantu?" gumam Bilson.
Segudang pertanyaan mulai muncul dalam benaknya. Namun, dengan langkah gontainya, iapun pergi menuju hall tempat pernikahan Aletha dan dirinya digelar.
"Apa? Jadi benar pestanya digelar? Tapi siapa mempelai prianya? Apa aku memang bukan manusia? Nggak mungkin dalam beberapa hari hati Aletha langsung berpindah. Aku yakin itu," gumam Bilson.
Ia menampar wajahnya sendiri untuk memastikan dia sadar atau sudah mati. "Awww, sakit!" jeritnya.
Tiba-tiba matanya fokus pada kedua pasangan yang sudah duduk bersila di hadapan pak penghulu.
"Siapa pria itu? Kenapa sangat mirip denganku?" tanyanya sedikit memekik. Ia terperanjat dengan apa yang baru saja dia lihat. "Nggak mungkin. Nggak mungkin ada orang yang mirip aku, bukan mirip lagi tapi sama persis," ucapnya lagi.
Kemudian diliriknya mama dan papanya yang tersenyum bahagia. "Ma, pa, aku di sini. Itu bukan anak kalian..." lirihnya.
Lalu matanya melihat Aletha yang sedang mencium punggung tangan lelaki yang mirip dengannya itu, dan lelaki itu mencium kening Aletha.
"Sayang, ini aku Bilson. Bukan dia, sayang. Sadarlah!Aku mohon!" batinnya.
Semakin hancur hatinya melihat senyum yang terpancar di wajah kekasihnya itu. "Ya, Tuhan aku harus bagaimana? Seseorang telah merenggut segalanya dariku. Ia telah mengambil orang-orang yang kucintai tanpa aku ketahui," batinnya menjerit.
"Siapa lelaki itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong, siapapun ceritakan padaku satu hal!" batinnya.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan hall itu bersama dengan hancurnya hatinya. Ingin sekali rasanya ia menghancurkan acara itu, tapi ia tak berdaya. Tak sanggup rasanya ia membuat kedua orang tuanya kehilangan senyum kebahagiaan ini. Namun ia tidak rela, sangat tidak rela.
Senyuman manis Aletha tadi juga terbayang di benaknya, membuat dirinya tak sanggup menghentikan pernikahan ini. Ditambah lagi, saat kedatangannya, kata sah sudah terucap dari para saksi yang turut menghadiri pesta itu.
Tak sanggup rasanya ia berdiri. Lututnya goyah bahkan tak sanggup menopang tubuhnya yang begitu lemah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya kini sudah memuncak, namun tak tau hendak dilampiaskan kepada siapa.
__ADS_1
Orang-orang di jalanan memandang dia denga tatapan jijik, ada juga yang takut. Mereka menganggap bahwa dirinya adalah seseorang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa karena sedang mengamuk.
Sungguh sial nasibmu, Bilson. Semoga ada pelangi dibalik semua kegundahanmu ini. Dan semoga kau mendapatkan secercah harapan untuk kembali ke kehidupanmu yang dulu. Sabar, dan mintalah pada Tuhanmu agar kau diberi kekuatan seperti batu karang!