Mama Superku

Mama Superku
Adanya Keabnormalan


__ADS_3

"Terima kasih Tuhan," seru Aletha dalam batinnya. Hasil CT Scan telah keluar, yang menjelaskan bahwa di bagian kepala tidak ada apa-apa artinya tidak ada gumpalan atau masalah apapun.


Aletha kembali menghaturkan ucapan syukur kepada yang Kuasa setelah para perawat dan dokter keluar dari ruangan itu yang meninggalkan Aletha dan juga setelah menjelaskan hasil dari CT Scan kemarin.


"Kita patut bersyukur karena hasil CT Scan itu itu tidak ada masalah, berarti kita harus melakukan rekam otak untuk mengetahui lebih jelas diagnosanya apa yang menyebabkan dia sering kejang seperti ini."


"Kemarin saya sudah menjelaskan kepada ibu dan ibu nggak perlu khawatir karena seperti yang saya jelaskan, kalau perekaman otak itu sampai sejauh ini belum ada efek sampingnya jadi ibu nggak perlu takut."


Kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh dokter Edi tadi yang jelas di telinga Aletha. Tadinya wajahnya sudah berseri-seri, namun sekarang terlihat begitu khawatir. Jadwal EEG saja belum ditentukan namun Aleta sudah ketakutan. iya takut terjadi apa-apa dengan perekaman otak nanti, bahkan ia takut dengan hasil akhirnya.


"Sayang, kamu harus kuat ya. Kita harus berjuang sama-sama ya, nak. Tugas kita sekarang sangat banyak dan aku yakin kamu dan mama akan sanggup untuk melaluinya."


"Kamu berjuang untuk tetap kuat dan bertahan sedangkan mama berjuang untuk merawatnya dengan tegar tanpa adanya air mata. kita serahkan semua kepada sang khalik ya nak." Aleta bergumam dengan mata yang berkaca-kaca. jari-jarinya menggenggam jemari mungil baby Eril yang sedang terlelap.


Aletha duduk di samping Eril seraya melipat kedua kakinya bersila dan menyelimuti kakinya dengan selimut Ariel. Mereka berbagi selimut karena udara dingin dalam ruangan itu menusuk sampai ke tulang sumsumnya. Meskipun Aletha sudah mengenakan celana panjang dan kaos kaki tapi ia masih tetap saja merasa kedinginan.


Dinginnya AC di dalam ICU ini memang berbeda dengan suhu ruangan di dalam ruang rawat inap. Bahkan kita sampai menggigil saking dinginnya.


Akan tetapi seluruh penghuni ruangan itu tak ada yang kedinginan seperti dirinya mereka malah tertidur sangat lelap nya. Atau mungkin karena mereka memang sedang sakit jadi tidak mengeluh atas dinginnya ruangan tersebut.


"Sayang, nak, bangun. Ini mama, nak." Aletha menepuk-nepuk lengan Eril agar sadar. Kembali lagi tubuhnya mengejang, seperti yang para perawat yang mengatakan, spastik. Seperti itulah Eril selama ia mengejang. "Suster......" Aletha berteriak memanggil perawat. Tetapi tak ada sahutan atau jawaban.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Semua penghuni ruangan itu sedang lelapnya, mungkin begitu juga para perawat jaga. Atau mungkin mereka tidak mendengar teriakan Aletha. Akhirnya tubuh Eril kembali normal seperti sediakala. Kejangnya telah berhenti. Masih sama-hanya beberapa detik saja.


Suara tangisan Eril pun menjadi alunan musik yang menggema di ruangan itu, sehingga membuat seorang pasien terbangun.


"Kenapa, ibu? Dia mengejang lagi?" tanyanya tiba-tiba saat Eril sudah diam. Dan tangannya telah asyik menarik-narik rambut mamanya.


"Iya, Bu," jawab Aletha pelan. Butiran bening tak terasa keluar dari pelupuk matanya.


"Susternya nggak ada yang datang?" Lagi tanya wanita tersebut. Dari tebakan Aletha, wanita itu kira-kira berumur 45 tahuanan.


Aletha menggeleng. Ia mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas.


"Mungkin mereka sedang tidur. Barang kali mereka juga letih, yah kita taulah, setiap orang pasti butuh yang namanya istrirahat. Dan mereka juga pasti lelah kan. Ibu tidur aja, dia juga sudah tidur. Kayaknya sebentar lagi suster bangun.""


Dua minggu Eril dirawat di rumah sakit. Mereka akhirnya pulang ke rumah setelah melakukan perekaman otak. Dan hasil rekam otak menunjukkan bahwa adanya keabnormalan otak. Yang dokter bilang benar, Eril mengidap penyakit epilepsi.


"Ibu, tolong dengarkan penjelasan saya dengan baik. Epilepsi itu adalah suatu penyakit yang sering diderita oleh anak-anak. Akan fatal akibatnya jika tidak segera ditangani dengan baik."


"Apakah anak saya bisa sembuh, dok?" Aletha mencela penjelasan sang dokter kala itu.


"Bisa, bu. Hanya perlu perawatan yang rutin dan pemberian obat secara teratur selama dua tahun. Dan selama itu, pemberian obat tidak boleh berhenti sekalipun-tidak bolong walau sekalipun."

__ADS_1


"Apakah ada masalah nantinya dengan otak anak saya, dok?"


"Kalau tidak segera ditangani tentunya akan ada masalah, akan tetapi kita kan sudah segera bertindak. Namun ibu harus sabar merawat dan menjaganya. Karena selama masa pengobatan, kita juga turut mengobservasi keadaannya."


"Tahap awal pengobatan, setiap minggu ibu harus kembali ke sini dengan membawa Eril untuk kita amati kondisinya. Apakah terjadi perkembangan atau tidak." Doskter Edi menjelaskan panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan obatnya, dok? Apakah takarannya selalu seperti itu?" tanya Aletha memastikan.


"Pasti akan berubah, bu. Itupun bila dia sudah tidak kejang setelah beberapa bulan misalnya. Saya akan memberikan stok selama ibu belum kembali ke sini sesuai dengan waktu yang ditentukan."


"Setelah dua tahun, bila dia memang tak pernah kejang lagi selama itu, kita akan kembali melakukan perekaman otak. Untuk melihat apakah masih ada keabnormalan atau tidak."


"Jadi, ibu harus tetap sabar dan ikhlas. Kulihat dia anak yang kuat, kok. Lihu saja waktu itu. Dia bisa mengalahkan delapan orang suster saat hendak memberikan suntikan. Dia bisa dengan tenaganya sendiri melawan suster itu."


"Oh ya, bu. Kalau ada apa-apa ibu bisa menghubungi saya. Saya akan menitipkan nomor WhatsApp saya kepada suster nanti untuk diberikan kepada ibu. Ibu bisa menelepon saya kapan pun ibu mau. Saya akan berusaha membantu ibu," ucap dokter akhir mengakhiri obrolannya.


Kini Eril sudah kembali ceria seperti sediakala. Akan tetapi gerakan fisiknya tidak tidak seperti sebelumnya. Eril sudah tak mampu untuk berjalan sendiri. Harus dituntun oleh orang dewasa.


Perkembangan kembali ke jaman dimana waktu ia berusia satu tahun.


Awalnya Aletha bingung dengan semua itu. Namun akhirnya ia menerima setelah dokter memberi penjelasan. Karena keseringan kejang itulah yang membuat tubuhnya kembali harus belajar berdiri, belajar berbicara.

__ADS_1


Sedih ia, tapi Aletha tak bisa mengucapkan apa lagi. Harapannya hanya ingin agar Eril kembali pulih dan kembali seperti dulu lagi.


"Sabar ya, bu. Semoga segala obat yang kita berikan, dia akan kembali seperti biasa. Saya banyak menangani pasien seperti ini, dan hampir semua bisa sembuh. Kita berdoa semoga Eril mendapatkan hal yang sama seperti mereka. Yang penting obatnya harus selalu diberikan tepat waktu."


__ADS_2