Mama Superku

Mama Superku
Kebahagiaan Sesaat


__ADS_3

"Boss, kami menemukannya. Dia sekarang ada di jalan Putri Malu No. 24." ucap Sandy lewat ponselnha kepada tuannya.


"Awasi saja, dia! Jangan ditangkap dulu!" tukas Revan.


"Tapi, boss...."


Tuuuuttt


Sambungan panggilan telah berakhir.


"Akh, si boss gimana sih?" gerutu Sandy.


"Ya sudah. Kita turuti saja apa maunya si boss!" usul Radot.


Mereka pun akhirnya memperhatikan gerak-gerik seorang pria yang sedang mereka awasi.


Pria itu sedang asyik mengobrol dengan mesranya bersama seorang wanita cantik.


"Dasar laki-laki zaman sekarang. Udah punya istri juga tetap saja mau nyari ban serap!" celetuk Radot.


"Biarkan sajalah. Namanya juga lagi kehausan!" celetuk Sandy.


"Kalau haus ya tinggal minum...." lirih Radot.


"Memangnya tuh perempuan bisa diminum?" celetuk Sandy sambil menoyor kepala Radot pelan.


"Lha, kan kau yang bilang tadi dia haus ya sudah kubilang aja minum. Kan benar, kalau haus ya minum. Sejak kapan kalau haus makan? Nggak ada kan?" gerutu Radot.


"Ada." ucap Sandy ketus.


"Masa sih?" tanya Radot polos.


"Kau contohnya. Haus tapi makan. Lihat aja tuh perut. Buncitnya mirip seperti gunung Kerinci. Nggak tau kapan meledaknya! Hahahaha." ledek Sandy sambil terkekeh.


Radot menyeringai karena diledek begitu oleh Sandy.


"Biarkan saja. Kalau gendut kan tandanya dikira punya uang yang banyak. Meskipun sebenarnya sekarat. Dari pada kau?" celetuk Radot tidak terima.


"Lha, aku kenapa?" tanya Sandy penasaran.


"Kutilang." ucap Radot datar.


"Apaan tuh kutilang? Burung kutilang? Enak aja." gerutu Sandy.


Pikirannya sampai kemana-mana.


"Helleh, kejauhan. Emang kau mau dipanggil burung?" celetuk Radot menggoda Sandy.


"Lalu apa dong?" tanya Sandi masih penasaran.


Ia dengam setia menunggu jawaban dari mulut si gendut Radot dengan rambut gimbalnya.

__ADS_1


"Kurus, tinggi, langsing! Hahahahha."


Radot tertawa terpingkal-pingkal.


"Uda puas ketawanya? Hah? Nggak lucu tau!" tukas Sandy.


"Lha, kau ngambek? Ish ish ish, kau ini laki-laki. Masa cengeng sih? Aku aja yang kau ledeki dari tadi santai aja, bro." tukas Radot.


Seketika wajah Sandy memerah karena malu. Ia sampai tak menyahut penuturan Radot. Kepalanya tertunduk menatap sepatu hitamnya.


"Santai, men! Santai! Kita lanjut tugas utama kita!" tukas Radot sambil menepuk pundak Sandy.


Kedua anak buah yang memiliki perawakan yang sangat berbeda itu, menatap kembali ke sosok lelaki tadi.


"Makasi ya, mas. Kamu uda bawa aku ke sini!" tukas Santi.


"Hmmm." gumam Bilson sambil tersenyum tipis.


Terlihat jelas janggut tipisnya bergoyang-goysng di bawah dagunya karena sedang mengunyah.


"Maaf, ya mas. Kalau permintaanku aneh-aneh." ucap Santi.


"Habiskan dulu makananannya, sayang. Nanti kita lanjut ngobrolnya." ujar Bilson usai dia menelan sesendok nasi yang sudah ia kunyah.


Santi menurut sambil memasukkan sendok ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya dengan perlahan. Pipinya membengkak akibat penuhnya makanan di dalam mulutnya.


"Hmmmm, mas belum cerita samaku tentang waktu itu...." ucap Santi lirih.


Padahal sebenarnya dia tau arah pembahasan ini. Namun dia pura-pura nggak ngerti supaya Santi nggak curiga kepadanya.


"Waktu itu kan mas pulang dalam keadaan berantakan. Ada apa sebenarnya?" tanya Santi langsung.


"Benarkah mas pernah seperti itu? Entahlah, mas lupa." jawabnya bohong.


"Mbak!" ujar Bilson kepada pelayan resto.


Ia meninggikan suaranya agar terdengar oleh si pelayan resto itu. Tangannya sambil diacungkannya. Bilson mengalihkan pembicaraan. Tentu saja berhasil membuyarkan ingatan Santi agar tidak menanyakan hal itu lagi.


Lagi-lagi Bilson menghindar pertanyaan Santi. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Bilson masih merasa menang. Mungkin dia tak pernah sadar kalau kebohongan tak memiliki kaki.


Bilson memesan makanan penutup kepada pelayan resto itu. Dan Santi kesenangan hingga melupakan apa yang ingin ditanyakannya pada Bilson.


"Gimana kabar anak papa?" tanya Bilson sambil mengusap lembut perut rata Santi.


Kini ia sudah duduk di samping Santi. Ia merangkulnya dari samping. Santi hanya sibuk mengunyah makanan penutup tanpa menjawab pertanyaan Santi.


Aku harus tetap menyelidikimu, mas. Aku nggak bisa seperti ini. Jika kamu memang sudah punya istri, aku akan mundur. Entah kenapa rasa percayaku sekarang sedang diuji mas. Batin Santi.


"Sayang, kita mandi yok!" ucap Aletha kepada baby Eril.


Baby Eril kesenangan mendengarkan penuturan mamanya itu.

__ADS_1


Aletha bahagia sekali melihat senyum puntranya itu.


Aletha menggendong baby Eril dan membawanya ke kamar mandi.


"Mama mama tu!." ujar baby Eril.


Ia menunjuk kolam mandinya.


"Kamu mau berenang sayang?" tanya Aletha.


Baby Eril mengangguk.


Kemudian Aletha mengisi kolam mandinya itu hamlir penuh. Lalu memasukkan baby Eril ke dalamnya. Bukan main senangnya si bayi.


Sementara Aletha sibuk mencuci sambil menunggua bayinya puas berendam.


Lalu ia memandikan baby Eril setelah dirasa cukup berendamnya.


Cuciannya pun sudah selesai. Tinggal menjemur.


Kedua insan manusia itu merasa tidak terkekang karena Bilson sedang tidak ada di rumah besar itu. Jadi mereka bisa melakukan sesuatu tanpa harua merasakan takut. Karena tak ada suara bentakan ataupun suara keras.


Harapan semoga hal ini terus berlalu sangatlah tidak mungkin selagi mereka masih satu atap dengan lelaki arogan itu. Namun saat ini tak ada yang bisa dilakukan Aletha. Dia hanya bisa pasrah. Berharap adanya keajaiban yang datang untuk membantunua cerai dari si lelaki yang tak berprikemanusiaan itu.


"Yok kita main!" ujar Aletha kepada baby Eril sambil tersenyum.


Mainan baby Eril sudah disiapkannya di ruang tamu.


Baby Eril sangat senang. Baru kali ini ia merasa bebas bermain.


Sementara si bayi bermain, Aletha menyetrika pakaian mereka. Tapi masih dekat dengan baby Eril.


Jadi dia masih bisa memantau si bayi. Sambil ia mengajak si bayi mengobrol tentang permainan yang sedang dimainkannya.


Sungguh ibu yang luar biasa. Tak sedetikpun ia meninggalkan bayinya meskipun ia sibuk dengan pekerjaannya.


Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena Aletha mendengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah mereka. Seketika ia merasa khawatir dan ketakutan.


Ia segera menghentikan aktifitasnya dan langsung menggendong baby Eril ke dalam kamar sambil membawa semua mainannya. Ia tak ingin anaknya mendengar kekasaran yang dilakukan papanya. Takut hal itu akan membuat baby Eril merasa trauma. Meskipun dia masih kecil, namun dia dapat merasakan hal itu.


"Hallo! Permisi! Selamat sore! Spada!" seru orang itu dari luar.


Si emounya rumah tak jua muncul. Meskipun ia mendengar sayup-sayup suara itu. Namun rasa takutnya lebih besar dari pada rasa penasarannya dengan orang itu.


"Hallo!" seru orang itu lagi dengan suara yang keras.


Tapi masih tak ada respon dari yang empunya rumah. Padahal rumah besar itu dalam keadaan terbuka.


"Dimana sih yang punya rumah? Kenapa nggak keliar ya dari tadi?" gumam orang itu.


Ia memutuskan untuk menghampiri ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2