Mama Superku

Mama Superku
Bimbang


__ADS_3

"Selamat pagi, bu." Dua orang perawat yang baru saja masuk ke dalam ruangan Eril dirawat membuat Aletha terpaku.


"Hmmm, pagi sus. Ada apa ya, sus?"


"Gimana keadaan Eril hari ini, bu?" tanya perawat tersebut serius. Perawat yang satunya mengecek infus yang menempel ditangan Eril.


"Masih sama, sus. Satu malam ini saja dia sudah kejang sebanyak delapan kali. Saya, saya takut suster. Saya nggak tau harus bagaimana lagi. Padahal semua obat sudah diberikan sesuai rekomendasi dokter."


"Begini, bu. Karena anak ibu masih belum ada perubahan, bagaimana bila kita rujuk ke ruang ICU? Disana akan ada perawat yang bisa standby untuk mengecek kondisinya. Ibu nggak perlu lari-larian memanggil suster lagi karena ada beberapa suster yang selalu siap saat pasien membutuhkan bantuan."


"Apa? ICU, sus?" Mendengar kata itu membuat jantung Aletha berdegup kencang. Seumur hidupnya tak pernah ia menginjakkan kaki di ruang ICU.


"Iya, bu. Disana nanti Eril akan lebih difokuskan, bu. Karena biasanya mereka yang masuk ICU membutuhkan pertolongan lebih dibandingkan yang ada di ruang rawat inap. Dan pasiennya pun semoga cepat membaik juga." Imbuh perawat tersebut.


"Lagian ini hari keempat Eril dirawat disini, tapi masih saja belum ada perubahan. Padahal kita sudah memberikan segala obat. Mungkin dengan dia dirawat di ICU nanti kondisinya semakij membaik."


"Bagaimana menurut ibu? Apakah ibu bersedia memindahkan anak ibu ke ruang ICU?" tanya perawat tersebut setelah menjelaskan panjang lebar mengenai ruang ICU.


"Saya, saya.... saya pikir-pikir dulu, suster." Aletha menjawab seraya bingung. Tak tau hendak menjawab apa. Karena baginya ruang ICU adalah salah satu ruangan yang paling menyeramkan setelah kamar jenazah. Itulah menurut pandangannya. Karena yang ia dengar desas-desus selama ini bahwa di ruang ICU banyak juga pasien yang pada akhirnya meninggal karena nggak kuat.


"Nanti apabila ibu sudah menyetujui, saya akan membuat surat pemindahannya ke ruang ICU. Dokter Edi juga dokter Ariel sudah mengetahui kok bu. Bahkan mereka.berdualah yang memberi saran. Saya permisi, Bu." Perawat itu pergi tanpa menoleh lagi.


Ia tahu benar kalau seseorang pasti akan sulit menerima bila anggota keluarganya harus masuk ruang ICU. Sama halnya dengan Aletha. Ia sangat tidak menyetujui Eril masuk ruang ICU.


"Ya sudah, kalau ibu belum siap nggak apa-apa. Saya harap ibu memberikan keputusan yang terbaik nantinya. Saya pamit dulu, ya Bu."


"I-iya suster. Terimakasih karena kalian sudah merawat putra putri kami dengan sebaik-baiknya. Semoga kalian dapat pahala dan pasangan yang baik bagi yang belum menemukannya."

__ADS_1


Perawat itupun meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi setelah berpamitan lagi kepada mereka.


"Oh ya, bu mengenai ruang ICU sebaiknya ibu iyakan saja."


"M-maksdunya?" Amanda heran. Seorang wanita paruh baya dari ruangan sebelah datang menghampiri Aletha.


"Aku sedikit bercerita padamu, dengarlah!" pintanya. Ia menarik kursi yang ada disamping ranjang lalu duduk diatasnya. "Beberapa minggu yang lalu anakku dirawat di ICU. Awalnya aku takut sama sepertimu. Tapi setelah pertimbangan yang sangat lama akhirnya ku setujui saran mereka."


"Dan benar, disana memang ada perawat yang selalu standby untuk menangani pasien. Meskipun aku selalu mengganggunya dengan segala rengekan-rengekanku, tapi mereka melayani anakku dengan sabar. Waktu itu anakku sudah berada diambang kematian." Wanita itua berhenti berbicara.


"Anak ibu sakit apa?" Aletha mulai berani bertanya.


"Anak saya kecelakaan, bu dan koma. Aku sangat terpukul kala itu. Tapi dengan pelayanan dan obat yang mereka berikan anakku akhirnya sadar. Aku sangat bahagia kala itu. Dan satu lagi, ibu harus berdoa. Karena tiada guna kita berusaha tapi tidak diiringi doa. Karena yang punya kehidupan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa."


"Di sana nggak seram kok bu. Bukan seperti yang ibu banyangkan." Ia menatap Aletha lekat-lekat. Kenangan kalau itu membuat matanya berbinar. Ia tak menyangka bahwa anaknya selamat.


"Jadi, malam ini ibu terima saja tawaran mereka. Kalau disini kan terlalu ramai, jadi mereka nggak bisa fokus hanya untuk anak ibu. Dan mengenai kejang, menurutku itu sudah sangat berbahaya jika dibiarkan tanpa adanya penanganan khusus."


"Dari beberapa orang aku mendengar, bila seorang anak mengejang artinya beberapa syaraf ikut putus. Sementara dari cerita ibu dalam sehari dia mau mengejang bahkan lebih dari sepuluh kali. Coba ibu bayangkan, seberapa banyak syarafnya akan terputus? Apakah ibu tega membiarkan itu terjadi?"


Deg.


Bagaikan disayat sembilu hati Aletha mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh wanita itu. Dan hampir keseluruhan itu benar. Karena ia dulu juga sering mendengar dari orang-orang. Tentu saja ia tak mau kalau Eril sampai mengalaminya.


Akhirnya wanita itu meninggalkan Aletha yang sedang mematung. Untung saja saat itu seorang perawat jaga mapam datang. "Suster," sapa Aletha kepada perawat itu.


"Iya, bu. Bagaimana? Apakah ibu sudah memutuskannya?" tanya perawat itu langsung.

__ADS_1


"Sudah, sus. Dan..... saya setuju."


"Baiklah bu. Saya akan membuat laporan dan mengecek ke ruangan supaya secepatnya anak ibu dikirim ke ruang ICU."


"Kenapa dibawa ke ICU, sus?" tiba-tiba Bilson bertanya. Dia baru saja tiba sambil membawa tas ditangannya.


"Bapak tanya ke ibu saja, ya. Saya harus segera ke ruang operasi, karena ada seorang anak yang akan dioperasi. Saya mau menghubungi dokter," tukas perawat itu tiba-tiba dan tergesa-gesa. Lalu cepat-cepat meninggalkan mereka.


Sepeninggal perawat itu, Bilson menawarkan makanan yang baru saja ia bawa. Namun Aletha menolak karena dirinya sudah makan. Dan Bilson juga menawarkan agar dirinya istrirahat sejenak, gantian biar aku yang jaga. Itulah ucapan Bilson, pun ditolak oleh Aletha.


Yang dipikirkannya sekarang adalah Eril anaknya. Sudah berapa hari ini memang nyaris tak tidur. Karena selalu terjaga kalau kalau Eril kejang.


"Tapi kalau kau nggak istirahat, yang ada kau juga akan sakit. Siapa yang akan menjaganya, memberi ia semangat bila sampai kau pun sakit. Percaya padaku, aku akan menjaganya dengan baik."


"Tapi...."


"Sudahlah, tak ada kata tapi. Sekarang istirahatlah, serahkan saja padaku. Bilson langsung meraih botol minum plastik yang terletak diatas meja lalu keluar dan kembali dengan botol yang sudah dipenuhi air minum.


"Minumlah dulu. Jangan sampai kau kekurangan cairan," celetuknya seraya menyodorkan botol itu kepada Aletha dan mengambil gelas yang baru saja ia bawa.


Diakui memang sudah beberapa hari ini bisa dibilang Aletha kurang minum. Dengan terpaksa ia pun menerimanya dan langsung menuangkannya ke dalam gelas itu lalu menyesapnya sampai habis.


"Terimakasih," katanya singkat.


Bilson langsung mengambil gelas dan botol itu dari tangannya lalu meletakkan kembali diatas meja. Setelah itu ia membentangkan tikar yang ia bawa dari rumah di lantai. Lalu memberi isyarat Aletha untuk tidur.


Ternyata ibu-ibu lainnya sudah tertidur, sekarang giliran suami-suami mereka yang berjaga. Aletha pun tidur menjemout mimpinya-tentang kesembuhan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2