
"Aku belum siap, Den. Aku ingin fokus membesarkan Eril. Aku juga ingin mandiri tanpa adanya lelaki dalam hidupku. Kau kaulah dari dulu aku tak pernah bersusah payah untuk mencari uang." Dia berhenti sejenak. "Aku nggak ingin merepotkan orang lain untuk segala urusanku dan kedua orang tuaku."
"Tapi, Tha Bilson itu bukan orang lain. Dia adalah mantan kekasihmu dulu. Dia lain dari Revan. Revan ya Revan, Bilson ya Bilson. Kamu nggak boleh nyamain mereka berdua yang jelas memiliki perbedaan yang sangat signifikan." Dokter Ariel malah ikut nimbrung dengan obrolan kedua sahabat itu.
"Apaan sih sayang, sok tau deh." Dena mencibir.
"Ya kan kamu uda cerita sayang."
"Tapi kan ini urusan kami, kenapa mas ikutan nimbrung sih?" Dena memonyongkan bibirnya.
"Aku cuma mau membuka pikiran Aletha aja, sayang. Supaya rasa takutnya akan lelaki hilang. Seenggaknya berkuranglah," jawab dokter Ariel santai.
"Eh, kok jadi mas yang lebih tau. Hati kan Aletha yang punya, kenapa situ yang repot?" Dena semakin judes saja semakin hari kepada suaminya itu.
"Udah ah, kalian bertengkar mulu. Kayak nggak pasangan suami istri aja. Malu tau kalau sampai didengar orang," ujar Aletha mencoba menghentikan mereka berdua. "Lagian, dok ini sudah jadi keputusanku. Apapun yang dokter bilang, sampai detik ini aku masih belum siap menerima siapapun (pria) yang datang dalam hidupku dan putraku.
Dokter Ariel maupun Dena sahabatnya, hanya bisa bergeming mendengarkan penuturannya, walau sejujurnya dokter Ariel masih belum puas tapi ia tak bisa berucap apapun. Karena semua hal dikembalikan kepada Aletha karena dirinyalah yang menjalani, bukan Dena maupun dokter Ariel.
"Ya sudah, terserah kamu saja." Dena akhirnya mengeluarkan suaranya setelah bungkam beberapa saat. Dan diangguki oleh dokter Ariel. Akhirnya mereka meninggalkan Aletha dengan kesendiriannya di dalam kamar. Sementara baby Eril sedang makan disuapi oleh omanya. Sementara opa Irwan ikut nimbrung dengan mereka.
"Tante, om, kita pamit pulang dulu ya," ujar Dena kepada mereka bertiga.
__ADS_1
"Lho, cepat banget pulangnya? Nggak makan duku, Den? Kita uda masak tuh," ucap mama Vina menahan mereka.
"Maaf, tante, om, nggak apa-apa kan kami tinggal?" Dena malah bertanya balik.
"Ya sudah deh, kamu jaga kesehatan ya, nak Dena. Jaga juga cucu saya. Jangan lupa makan dan istrirahat yang teratur."
"Iya, tante. Terimakasih atas perhatian Tante sama kami sekeluarga "
"Sama-sama, Dena. Kamu kan keluarga kita juga."
Dokter Ariel dan Dena meninggalkan Eril yang sedang asyik dengan kunyahannya, tentunya setelah Dena dan dokter Ariel telah berpamitan padanya. Dia juga tetap meminta agar ayah dan bundanya itu agar tidak melupakannya. Sungguh menggemaskan bayi seusia Eril.
Akhirnya mama Vina meninggalkan Aletha yang sedang tertidur pulas. Ia pun berlalu setelah menyelimuti tubuh Aletha sampai ke leher. Kemudian mengecup kening putri kesayangannya itu.
"Menurut papa gimana?" tanya mama Vina tiba-tiba kepada suaminya itu.
"Apa? Maksudnya bagaimana?" tanya papa Irwan heran. Ia belum fokus arah pembicaraan mama Vina kemana.
"Ihh, papa inilah. Entah apa yang dipikirkan. Nggak fokus banget sih. Udahlah, kami mau tidur," celetuknya sembari menggendong cucu kesayangannya itu dan membawanya ke dalam kamar.
"Lho, ma, maksud nama apa sih? Aku nggak ngerti kok malah ditinggalin?" Papa Irwan mengekori mama Vina dari belakang. Ia masih penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu kepadanya.
__ADS_1
"Sudahlah, sudah malam. Kita tidur saja," ujar mama Vina ketus. Diletakkannya Eril yang sudah terlelap ditempat tidur sembari membaluakan minyak hangat ditubuh Eril. "Awas, jangan dekat-dekat kami," katanya masih jutek dengan nada marah yang dibuat-buat.
Papa Irwan sangat mengerti istrinya itu. Maka ia tak mau meninggalkan mereka seperti yang terucap dari bibir mama Vina. Karena ia tau itu hanya dimulut. Namun di hati, ia tak pernah marah kepada papa Irwan. Maka ia berpura-pura menjauh dari mereka, ya walau hanya lima langkah.
"Dasar, disuruh pergi malah pergi beneran," celetuk mama Vina. "Ya sudahlah, lebih baik aku tidur saja," gumamnya lirih. Lalu ia menutupi tubuh Eril dengan selimut, lalu dirinya. Akan tetapi Eril langsung berauara dan menendang selimut itu.
Kemudian, mama Vina melakukan hal yang sama lagi, tapi lagi ditendang lagi oleh Eril. Mungkin mama Vina lupa kalau Eril tidak pernah suka dengan selimut saat tidur. Yah, meskipun bukan pertama kalinya ia tidur bersama cucunya itu, namun ia benar-benar lupa memang.
Papa Irwan hanya bisa tersenyum mengamati istrinya itu berulang-ulang melakukan hal yang sama. Ia tak ingin mengusik istrinya itu, karena baginya pemandangan yang sangat menggiurkan bila melihat istrinya itu terlihat berdebat dengan selimut dan juga cucu kesayangannya itu. Ingin tertawa kuat tapi takut mama Vina tersinggung, atau bahkan Eril terbangun. Alhasil, papa Irwan menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tawanya tak lepas.
Akhirnya lelah juga dia, bahkan sampai tertidur dengan selimut yang sudah jatuh dibawah ranjang. Papa Irwan memungut selimut itu dan membalutkannya kepada cucu dan istrinya itu. Lalu ia pun ikut tertidur disamping mama Vina.
"Dasar, perempuan gila. Lihatlah aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos begitu saja. Kaulah yang membuatku berada disini. Lihat dan tunggulah, aku akan membalaskan sakit ini kepadamu bahkan berkali-kali lipat." Revan menggenggam erat besi yang berada tepat didepan wajahnya itu.
"Kau salah. Bukan aku yang memasukkanmu kedalam buih ini, tapi perbuatanmulah yang mengantarmu ke sini," sahut Aletha mencoba mengingatkan kembali Revan.
"Dasar wanita gila, wanita busuk, wanita yang tak punya perasaan. Tak kasihankah kau kepada bayi yang sedang kau rawat sekarang? Dia punya ayah, tapi sayang kau sendiri memenjarakan ayah kandungnya. Bagaimana orang lain akan mencibirku nanti," ujar Revan masih menggenggam erat besi hitam itu.
"Dia butuh ayah, juga butuh ibu. Aku tau kau sudah memberikan kasih sayang sebagai ibu kepadanya. Namun dari ayah? Apakah dia mendapatkannya? Kau egois, kau memisahkan ayah dari anaknya. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Aaaaaah, kau gila. Kau benar-benar lelaki gila dan pengecut. Beraninya hanya sama perempuan.Tindakanmu di masa lalu akan membuatmu terkurung disinh sampai waktu yang tidak bisa ditebak. Hanya kau yang bisa meloloskan dirimu dari sini. Bila kau tidak berkenan maka dengan senang hati aku akan membiarkanmu berada disini. Paham?" Aletha berteriak. Bahkan Revan sampai menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1