
"Begitulah ceritanya, bu," ucap Bilson yang asli kepada Dena.
Para polisi sudah pamit saat Revan jadi-jadian menceritakan segalanya. Dengan alasan untuk mengejar Bison jadi-jadian. Dan diangguki oleh Aletha yang sedang mendengarkan penjelasan Bison asli dengan sesama.
"Jadi siapa yang membantu kamu sampai akhirnya kamu tau yang sebenarnya, kalau dia adalah Teman? " tanya Dena.
"Ceritanya panjang, bu. Nanti saja kita bercerita saat waktu yang tepat. Dan aku akan membongkar semua kecilnya dipengadilan nanti setelah setelah dia tertangkap," tugas Bison.
Sementara Aletha masih diam membisu, sambil memeluk baby Eril dalam gendongannya, iapun mencerna setiap perkataan yang diucapkan Bison. Sekelebat kenangan tentangnya dan Bison terngiang di kepalanya. Ia masih enggan menatap pria asli yang merupakan kekasihnya itu dulu.
"Sayang, ini aku Bison. Mengapa dari tadi kamu hanya diam saja? Apakah kau tidak percaya dengan apa yang baru saja kuceritakan? Haruskah aku menunjukkan bukti-buktinya agar kau bisa menerimanya?" Tatapan Bison begitu mengibakan hati Aletha, namun ia masih mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Maaf, tapi mungkin bukan saatnya untuk membahas itu sekarang. Nanti kalian akan punya waktu banyak setelah perkara ini selesai," tugas Dena. Dan kau Revan, eh naksudku Bilson, kerahkanlah semua kenalanmu yang kau anggap bisa menangkap Bilson jadi-jadian itu, dan akan kita cebloskan dia ke dalam penjara."
"Sudah terlalu banyak kejahatan yang ia perbuat kepada Aletha maupun bayinya, " imbuh Dena. Matanya tertuju kepada baby Eril yang masih sesenggukan akibat ketakutan tadi. "Sini sama bunda, sayang!" gumamnya. Dan baby Eril mengangkat kedua tangannya menuruti ucapan sang bunda. "Anak bunda memang baik dan penurut, " ucapnya sambil mencium pucuk kepala bayi yang menggemaskan itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu," tukas Bilson.
"Aku akan menunjukkan bukti padamu dan kau akan menerima aku kembali. Tenanglah, aku akan membuat kau dan anakmu bahagia. Dan, mengenai Revan, aku akan membuat perhitungan dengannya. Dia telah sukses membuat kita berpisah," batin Bilson. Ia meninggalkan rumah Aletha dengan tekad yang kuat.
"Den, aku.... aku...," ucapnya lirih. Air mata yang sudah ia tahan dari tadi kini tumpah ruah dan berserakan ditipunya yang mulus.
Dena memeluk tubuh Aletha yang kini menangis sesenggukan lalu mengusap punggungnya perlahan-lahan.
"Aku tau apa yang kamu rasakan. Menangislah, usah ditahan! Ungkapkan semua kesedihanmu, mungkin itu akan membuatmu membaik!" ujar Dena.
"Sini saya gendong babynya, non! " ucap bibi Yani yang ternyata ikut dengan Dena juga Rimba. Namun keduanya hanya diam melihat situasi yang sangat genting tadi. Dan Dena memberikan baby Eril kepadanya. Lalu membawa baby Etil agak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Dan kau Rimba."
"Siap, nyonya."
"Ambilkan minum untuk ibu Aletha! Mengerti nggak?" ucap Dena meninggikan suaranya, membuat siempunya nama tersentak.
"Ba-baik, nyonya, " ujarnya lalu buru-buru mencari-cari sesuatu yang dia perlukan.
Sementara Dena menuntun Aletha ke ruang tamu dan mendudukkannya di sofa. Ia masih merangkul bahunya erat, takut bila Aletha sampai terjatuh melihat kondisinya yang masih syok dengan kejadian hari ini.
Aletha menangis dalam pelukan Dena. "Den, semuanya sudah dibawa sama dia. Semua sudah dia renggut dariku, bahkan bertahun-tahun ia menipuku, Den. Dan betapa bodohnya aku tidak menyadarinya sama sekali. Bahkan aku rela disiksa olehnya, Den," ucapnya dengan isak tangisnya.
"Aku nggak kuat, Den. Rasanya ini seperti mimpi buruk bagiku. Dan sulit untuk bangun dari mimpi ini," imbuhnya lagi.
"Ini bukan mimpi, Tha. Ini nyata, dan kau harus bisa menerimanya. Dan memang harus siap menerima mau tak mau meskipun pada awalnya agak sulit. Tapi, kau tenang saja, kami akan selalu ada untukmu dan bayimu," ucap Dena.
"Minumlah dulu supaya kau lebih tenang sedikit!" ujarnya saat Rimba mendekati mereka dengan membawa segelas air mineral untuk Aletha.
Aletha meneguk air mineral itu perlahan-lahan. Terdengar bunyi gluk gluk oleh Rimba dan Dena. Padahal ia tak pernah minum seperti itu, sampai mengeluarkan bunyi.
Perasaannya sedikit tenang. Air matanya pun sudah tidak jatuh lagi. Sorot matanya menyisiri seluruh ruangan.
"Dan aku akan kehilangannya. Ini adalah rumah dimana kenangan masa kecil aku di sini bersama mama dan papaku. Rasanya aku tidak rela melepaskannya begitu saja, Den. Rumah ini memiliki memori yang takkan terganti oleh siapapun..." ucapnya lirih.
"Nggak akan, Tha. Rumah ini akan tetap menjadi milikmu," ucap Dena memotong penuturan Aletha.
Aletha mengernyit tanda tak mengerti atas apa yang diucapkan Dena sahabatnya itu. Karena yang ia tahu, ia telah menandatangani semua aset miliknya yang telah diambil paksa oleh Bilson jadi-jadian.
__ADS_1
"Surat itu palsu, Tha'" ucap Dena pelan nyaris tak terdengar di telinga.
"Apa? Maksud kamu surat yang kutandatangani tadi palsu?" tanya Aletha dengan nata terbelalak. Dan diangguki oleh Dena.
"Iya, Tha'. Ternyata yang aslinya aku titip ke Rimba. Sengaja aku menyimpan yang asli di tempat Rimba, karena aku sudah menduga akan ada yang mencurinya, dan kecurigaanku benar adanya. Mereka mengambilnya kan dari apartemenku. Kau masih ingat?" tanya Dena. Dan Aletha mengangguk meskipun belum seutuhnya mengerti.
"Aku membuat duplikat berkas itu, Tha. Yang aslinya aku scan, supaya terlihat asli. Dan pertinggalnya ada samaku, itulah yang benar-benar asli. Kau ingin melihatnya?" tanya Dena.
Sorot mata Aletha mengatakan kalau ia ingin melihatnya, namun tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
"Rimba, kamu pahamkan maksud saya?" tanya Dena kepada Rimba.
"Siap, nyonya!" ujar Rimba sambil berlari kecil meninggalkan kedua sahabat itu.
"Ini, nyonya," ucapnya sekembalinya ia dari luar. Dena menerima berkas itu lalu, membuka amplopnya dan mengeluarkan sehelai kertas dari dalamnya.
"Bacalah, dan... telitilah! Kau akan tau itu asli atau tidak," ucapnya.
Aletha menerima kertas itu lalu membacanya dengan seksama. Satu persatu ia teliti isi surat itu. Bahkan ia raba anda tangan yang ada di sana untuk membuktikan keaslian surat itu.
"Benar, Den. Ini asli, aku tau betul bagaimana kondisi surat itu," ucap Aletha.
Senyum kecil yang muncul di bibirnya menandakan bahwa secercah harapan telah datang menghampirinya. Bukan soal harta warisan yang tertulis di surat itu yang ia harapkan, namun kenangan di rumah ini sulit baginya ia lupakan.
"Akhirnya ya, Tha kesabaranmu berbuah juga. Sekarang persiapkanlah hatimu. Suatu hari kau dkan dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai kejahatan Bilson jadi-jadian itu. Dan kau harus menceritakan segalanya. Jangan kau tutup-tutupi. Orang seperti Bilson bohongan itu nggak perlu dikasihani. Karena setiap perbuatan akan ada balasannya."
"Iya, Den. Trimakasih atas semua bantuanmu. Aku nggak tau apa yang terjadi dengan kami bila kau tak ada."
__ADS_1
"Sudah, sudah. Berapa kali aku harus bilang, tak ada trimakasih untuk sebuah persahabatan."
"Yang penting sekarang semua akan baik-baik saja," imbuhnya lagi.