
"Kamu mau kan menikah dengan anak saya" tanya mama Claudia kepada Santi.
Santi yang mendengarkan pertanyaan mama Claudia mematung seketika. Tak pernah terbayangkan olehnya bila dia akan menikah dengan seorang Tito Kardalis. Orang yang sama sekali tidak dia cintai.
Aku harus menjawab apa? Batin Santi.
"Tolonglah, nak. Umur saya tinggal beberapa hari lagi. Saya ingin pergi dengan tenang setelah melihat putra saya menikah." ucapnya memohon.
Tubuhnya sudah sangat lemah. Tak ada lagi rambut yang menghiasi kepalanya.
"Hah? Menikah dengan Tito, tante? Kenapa harus aku?" tanya Santi bingung.
"Karena kamu adalah wanita yang baik dan bijaksana. Makany tante memilihmu. Mau ya sayang!" pinta mama Claudia.
Santi tak tau harus menjawab apa. Dia kebingungan sendiri. Sementara Tito Kardalis menatapnya dengan tatapan memelas.
"Tapi tante, aku nggak cinta sama Tito. Kami hanya teman dekat." tukas Santi.
"Tante tau sayang. Tapi tante yakin suatu saat nanti kamu akan mencintai Tito...." ucap mama Claudia lirih.
Suaranya perlahan-lahan semakin pelan. Ada rasa dengungan di gendang telinganya.
Lalu mama Claudia memejamkan matanya.
"Tante kenapa, Tito?" tanya Santi panik.
"Sudah sering mama begini. Yah, Kadang tak kenal lagi dengan orang. Bahkan aku sempat dilupakannya...." ucap Tito Lirih.
Tito Kardalis menghembuskan napasnya kasar.
Hati Santi yang lembut teriris mendengarkan penuturan Tito. Ada luka yang tertancap di relung hatinya.
"Yang kuat ya, Tito. Aku turut prihatin atas apa yang menimpa tante." ucap Santi.
"Jadi gimana mengenai permintaan mama, Ya?" tanya Tito.
"Maaf, Tito. Aku belum bisa menjawab. Aku belum siap menjawab lebih tepatnya. Kamu tau kan kita hanya teman dekat. Nggak mungkinlah kita akan menikah." ucap Santi.
Santi menundukkan kepalanya seraya menatap jari-jari kakinya yang terlihat jelas.
"Kuberi kamu waktu satu minggu." ucap Tito lugas.
__ADS_1
"Apa? Satu minggu?"
"Hmmm." gumam Tito.
Ide gile. Cepat banget itu waktu. Memangnya mau menikahi apa atuh. Satu minggu langsung yes! Hadehhh, aku harus gimana? Kacau nih kacau! Batin Santi.
"Arrrrrgh!" pekik Santi saat ia mengingat kejadian saat bertemu dengan mama Claudia, mamanya Tito Kardalis.
Aku harus apa? Di satu sisi aku kasihan dengan tante Claudia. Di satu sisinya lagi aku tidak mencintai Tito Kardalis. Sisi lain lagi aku mencintai orang lain. Bagaimana ini? Batin Santi.
"Apakah aku harus mempertahankan mas Bilson yang sudah jelas-jelas mengkhianati aku? Atau haruskah aku menerima lamaran dari Tito sementara aku tidak pernah mencintai dia. Lalu aku harus bagaimana?" ucap Santi.
Ia bicara dengan dirinya sendiri.
"Apa benar wanita itu beneran istrinya mas Bilson? Masa ia sih itu istrinya mas Bilson? Secara gitu mas Bilson pengusaha kaya. Masa ia punya istri seperti dia. Kayaknya nggak mungkin deh." gumamnya lagi.
Bicara sendiri, jawab sendiri, tanya sendiri hanya itulah yang bisa dilakukan disaat hati dan pikiran sedang kacau balau.
"Kalau memang dia istri mas Bilson, kemungkinan besar aku akan diputuskan oleh mas Bilson. Aku nggak terima. Aku lebih mencintai mas Bilson dari pada dia. Buktinya mas Bilson lebih memilihku dari pada dia." ucapnya lagi.
****
"Syukurlah mas Bilson belum pulang. Senggaknya aku masih punya waktu untuk melakukan rencanaku." gumam Aletha.
Kini ia sudan berada di kamar Bilson yang memang nggak dikunci.
"Ya Tuhan, semoga saja aku berhasil. Lindungi hamba ya, Tuhan!" seru Aletha dalam doanya.
Ia mencari-cari benda yang dia inginkan. Mulai dari mengotak atik isi lemari, laci meja, bawah tempat tidur, laci lemari, namun Aletha tak jua menemukan apapun.
"Dimana ya diletakkannya? Aku harus cepat menemukannya agar dia tak semena-mena kepada aku dan baby Eril. Aku harus menemukannya! Harus!" gumamnya sendiri.
Tak ada kata menyerah dalam kamus Aletha. Jika yakin kebaikan pasti akan berpihak kepada kita, jika memang kita mengharapkan yang terbaik, maka yang terbaik tidak akan menghampiri.
Apa yang kita harapkan untuk diri kita, itu jualah yang menjadi doa di untuk kita sendiri.
Tiba-tiba terdengar deru mesin mobil memasuki area rumah Aletha. Sementara pandangan Aletha tertuju pada sesuatu yang unik dan menarik perhatiannya.
"Ngapain kamu di depan kamar saya? Kamu mau maling ya?" bentak Bilson yang baru saja tiba.
"Ng-ng-nggak, mas. Aku, aku, aku lagi bersih-bersih tadi. Karena kelelahan makanya kami berhenti sebentar." ucap Aletha mengarang-ngarang alasan yang tepat. .
__ADS_1
"Hellleh, banyak alasan kamu!" ujar Bilson.
Bilson segera melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya. Diperiksanya satu persatu barang yang ada sebelum dan setelah dia berangkat kerja tadi pagi.
"Nggak ada kok yang hilang. Dia nggak bohong kok." tukas Bilson.
"Huffft, untung saja nggak ketahuan. Kalau sempat ketahuan bisa-bisa mati aku dan bayiku." gumam Aletha.
Ia bergegaa membawa Eril ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Takut bila Bilson kumat, mereka yang akan jadi sasarannya.
Aletha memesan ojek online yang akan membawakan barang yang akan dia kirimkan ke alamat apartemen Dena.
Aletha menuliskan dalam kolom komentar bahwa ia menunggu kang ojol di belakang rumahnya.
Tak perlu waktu lama, jawaban Ok dari sang ojol kembali menghias beranda aplikasi ojek online Aletha.
Lima belas menit Aletha menunggu di halaman belakang rumahnya sendiri sambil memegang sapu lidi supaya Bilson tidak curiga.
Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya saat kang ojol sudah mendekati pagar rumahnya dari belakang.
"Kang, sini!" ujar Aletha berbisik.
Takut bila sampai Bilson mengwtahuinya.
Sang driver ojek online pun datang menghampiri Aletha yang tertutupi oleh gerbang belakang rumahnya.
Aletha menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat kepada driver ojol tersebut.
"Tolong antarkan ke alamat ini ya, pak." ujar Aletha.
"Baik, bu." sahut kang ojol.
Ia langsung memasukkan amplop tersebut ke dalam tas berwarna hitamnya.
Lalu meninggalkan Aletha yang kini sedang berpura-pura menyapu agar Bilson tak mencurigainya.
Tentu saja Bilson sama sekali tidak mencurigainya. Dia hanya melihat sekilas Aletha yang sedang menyapu halaman belakang, lalu masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan sangat cepat.
Setelah Aletha merasa Bilson sudah pergi jauh, ia langsung meraih ponselnya dari saku celananya laku dicarinya kontak Dena.
"Hallo, Den. Sudah kutitipkan ke kang ojol yak. Kamu tunggu aja bentar lagi sampai. Jangan ada yang tau ya, Den. Cukup kita saja. Nanti saya akan menjelaskan kepada mereka bila waktunya sudah tiba " ucap Aletha.
__ADS_1
"Siap! Ini akan jadi rahasia kita berdua!" sahut Dena tersenyum.
Aku yakin pasti Aletha nanti yang jadi sasaran si pria brengsek itu. Lihat saja, aku akan memberi kejutan untuknya. Takkan kubiarkan dia meraja lela. Batin Dena.