Mama Superku

Mama Superku
Aku Salah Apa, Mas?


__ADS_3

"Jadi selama ini kamu mengikuti saya? Hahh?" bentak Bilson.


Aletha tak menyahut ucapan Bilson ia sibuk dengan baju-baju Eril yang siap untuk dilipat.


"Jawab aku! Kenapa kamu diam?" ujar Bilson dengan suara kerasnya.


Masih tak ada sahutan sama sekali dari Aletha.


"Istri macam apa kamu, suami bicara tapi nggak dijawab!" tukasnya lagi.


Bilson menarik kasar tangan Aletha karena sudah geram atas sikap Aletha.


Aletha meronta-ronta dalam heningnya namun gagal. Tenaga Bilson jauh lebih kuat darinya.


"Jawab aku sekarang!" ucap Bilson.


Ia meninggikan suaranya. Tubuh Aletha diguncang-guncangkannya. Dengan kedua tangan besarnya ia mencengkram lengan Aletha sangat kuat.


"Lepasin, mas! Sakiiiit!" rintih Aletha.


"Aku nggak mau sebelum kamu menjawab pprtanyaanku. Kenapa kamu ngikutin aku? Siapa yang sudah menghasutmu? Siapa?" bemtak Bilso lagi dengan suara yang semakin keras.


Aletha sampai menjauhkan telinganya karena mendengar bentakan itu.


"Nggak ada, mas. Aku hanya kebetulan lewat tadi." jawab Aletha.


"Bohong kamu. Sejak kapan kamu mulai membohongi suami kamu?"


"Nggak, mas. Aku memang kebetulan lewat tadi." ucap Aletha mengulangi jawabannya.


Plakk


Tamparan keras Bilson mendarat di pipi Aletha dan sangat kuat. Sehingga darah segar menetes dari bibir Aletha.


"Dasar wanita tak berguna! Cihh!" ujar Bilson sambil menatap Aletha dengan tatapan sangarnya.


"Kenapa kamu masih bersama wanita itu, mas? Kenapa kamu lebih memilihnya. Aku salah apa, mas?" tanya Aletha.


Aletha memegang pipinya yang masih terasa panas. Darah segar menemperl di tangannya. Tapi ia acuhkan.


"Kamu tanya salah kamu di mana? Jelas kamu salah. Kamu wanita sialan! Ngerti nggak?"


"Sial? Kalau gitu kenapa mas mau nikahin aku?" tanya Aletha memberanikan diri.


"Bukan urusanmu. Urusanmu sekarang hanya dia. Dan kebersihan seisi rumah ini." ucap Bilson lagi.


"Ceraikan aku sekarang juga!" ucap Aletha dengan suara lebih keras dari biasanya.


Sesuatu yang tidak pernah diinginkannya akhirnya keluar dari bibirnya.


"Nggak. Aku nggak akan menceraikanmu!" ujar Bilson.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah memiliki kekasih yang lebih baik dari aku?" tanya Aletha kesal.


Plakk

__ADS_1


Tamparan keras itu mendarat lagi di pipi Aletha.


"Berapa kali aku harus bilang kalau itu bukan urusanmu?"


"Aku berhak mas karena aku istri kamu."


Bilson menghempaskan tubuh Aletha kasar sampai Aletha terjatuh ke lantai.


"Aku mau kemana, dengan siapa, itu bukan urusan kamu. Lebih baik kamu kunci mulut kamu rapat-rapat kalau tidak..."


"Kalau tidak apa, mas?"


Bilson tidak menjawab. Ia meninggalkan Aletha yang masih di lantai begitu saja.


"Mas! Mas!" panggil Aletha.


Bilson tak menyahut. Ia sudah meninggalkan rumah itu dengan keadaan emosi.


Suara deru mesin mobil terdengar dari luar.


Aletha bangkit dan membersihkan lukanya. Aor matanya yang sudah dia tahan dari tadi akhirnys tumpah ruah juga.


Ditatapnya Eril yang juga menatapnya lekat-lekat. Seorang sang bayi mengerti apa yang sedang terjadi dengan ibunya.


"Sayang! Mama nggak apa-apa. Mama baik-baik saja kok...." ucap Aletha lirih.


Ia tersenyum menahan perih di bibirnya. Rasa sakitnya hilang dalam sekejap saat tangan mungil Eril mengusap pipi ibunya itu perlahan dan lembut.


"Pintarnya anak mama ini. Cup cup"


Bilson yang sedang duduk di sofa dengan malas memeriksa pesan masuk atau panggilan masuk di smartphone-nya. Berharap sekali Santi akan memberi kabar.


Namun yang diharapkan tak ada kabar berita sama sekali. Karena uring-uringan, ia pun meninggalkan rumah itu dengan laju mobil yang sangat cepat.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Sebentar!" sahut seorang wanita dari dalam.


Ia menghentikan aktifitasnya dan membuka pintu apartemennya.


"Siapa ya?" tanyanya setelah pintu terbuka.


"Mas Bilson! Ngapain kamu ke sini mas?" tanya Santi.


"Apa aku salah datang ke sini? Ngapain lagi kalau bukan untuk bertemu kamu?" ucap Bilson percaya diri.


Santi masuk lagi ke dalam apartemennya tanpa memeprdulikan Bilson. Ia juga tak mengusir Bilson dari sana.


"Sayang! Aku minta maaf." ucapnya mengiba.


"Jangan dekati aku, mas! Masih belum cukup kamu membohongi aku? Hah?" ujar Santi meninggikan suaranya.


"Sssssst, malu kita. Nanti tetangga mendengar kita berdebat." ucap Bilson pelan.

__ADS_1


Jari telunjuknya ia sematkan di bibir Santi agar Santu memelankan suaranya.


"Biarkan saja mereka dengar. Aku nggak perduli." sahut Santi asal.


"Jangan gitu dong, sayang. Malu kita nanti bila sampai mereka tau kita...."


Bilson menghentikan ucapannya. Matanya masih menatap lekat kepada kekasihnya itu.


"Kita apa? Kita selingkuh gitu dan aku sebagai pelakor?" ucap Santi geram.


"Bukan, bukan begitu sayang." ucap Bilson lembut.


"Nggak. Aku nggak akan tergoda dengan kelembutanmu, mas. Cukup! Aku nggak mau lagi. Tolong pergi sekarang!"


Maaf, mas. Dengan berat hati aku mengusirmu. Tapi aku belum bisa bicara sama kamu, mas. Aku butuh waktu sendiri. Aku masih belum bisa mendengarkan penjelasanmu. Kumohon, mas. Tinggalkan aku sendiri! Batin Santi.


"Aku nggak akan pergi sebelum kamu mendengarkan penjelasanku dulu." ucap Bilson.


Ia masih berusaha membujuk Santi agar mau mempercayainya kembali.


"Aku nggak butuh penjelasan kamu sekarang! Pergiiii!" jerit Santi.


Bilson masih tak mau meninggalkan apertemen itu. Harapannya masih penuh akan kemauan Santi untuk mendengarkan semua kesalahpahamab yang dia buat.


"Kalau kamu nggak mau pergi juga, aku akan berteriak biar warga yang menyeretmu dari sini." ucap Santi berani.


Pada hal di dalam hatinya, entah kenapa ia tak ingin Bilson meninggalkannya. Namun karena ia masih marah, maka ia berusaha untuk selalu menghindar dari Bilson.


"Teriak saja. Aku yakin kamu nggak akan sanggup melihatku diseret dari sini. Iya kan?" tantang Bilson.


"Huffft! Siapa bilang nggak berani? Terlalu percaya diri kamu, mas." ucap Santi.


Aku tau kamu nggak berani sayang. Mana mungkin kamu mau aku meninggalkanmu di sini. Aku yakin hatimu nggak kuat menyaksikan aku digeret dari sini. Batin Bilson.


"Coba saja teriak!" ujar Bilson.


Haduhh, pake disuruh teriak segala. Kok mas Bilson bisa tau sih aku nggak berani teriak? Huhhh.. Batin Santi.


"Tuh kan. Apa kubilang. Kamu nggak sanggup melihatku digeret dari sini. Iya kan?" goda Bilson.


Ia membelai pipi Santi dengan lembut.


Santi yang sudah malu meninggalkan Bilson begitu saja dan mengunci pintu kamarnya.


"Sayang! Bukain dong pintunya! Please!" ujar Bilson.


Ia mengetuk-ngetuk pintu itu sambil memanggil-manggil nama Santi, namun Bilson tak mendapatkan apa-apa.


Sudah setengah jam ia berdiri di depan pintu kamar Santi, namun si pintu belum juga menganga.


"Dasar cewek kepala batu!" gumam Bilson.


Lihat saja nanti. Sampai berapa lama kamu akan bertahan di sana. Aku akan menunggumu di sini sampai kamu mau keluar dan bicara denganku. Batin Bilson.


Sudah satu jam. Namun Santi tak jua keluar dari kamar itu. Bilson yang sudah berkarat menunggu di depan pintu kamar sudah mulai gelisah. Mondar mandir nggak jelas, itulah yang dapat ia lakukan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2