Mama Superku

Mama Superku
Akuilah


__ADS_3

Bilson menatap nanar bingkai poto itu. Dua orang bocah yang sedang duduk saling merangkul bahu.


"Ma-maksud kamu dengan poto ini apa?" tanya Bilson gugup.


"Masih belum mengerti juga?"


Lelaki iti menaikkan alis matanya.


"Coba kamu ingat-ingat siapa orang yang ada dalam poto itu!" ujar lelaki itu lagi.


Bilson menerawang masa kecilnya. Masa kecil yang penuh suram menurutnya. Masa di mana dia selalu dibully oleh teman-temannya.


Satu orang yang mau menjadi sahabatnya adalah hanya dia yang sedang berdiri tepat di hadapannya itu. Tapi dia masih belum yakin akan hal itu karena lelaki itu memiliki wajah yang mirip dengannya.


"Apakah kamu masih ingat lelaki yang kau rangkul itu? Atau apakah kau ingat siapa yang merangkul itu?" tanya lelaki itu lagi.


Bilson memandang poto itu sambil membayangkan bagaimana dia begitu dekat dengan bocah yang dia rangkul di dalam poto itu.


Bilson tak menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Aku yakin kau masih ingat. Tapi kau masih saja berpura-pura lupa." ujar lelaki itu.


"Stop! Nggak usah diperpanjang!" ujar Bilson dengan suara kerasnya.


"Berarti kau tidak melupakannya. Selamat untukmu!" ujar lelaki itu datar.


Aletha semakin bingung menatap kedua orang berwajah mirip itu. Tapi ia tak berkata apa-apa. Pikirannya menerawang jauh mencoba mengingat masa lalunya.


"Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa poto ini ada padamu? Siapa kau?" tanya Bilson.


Tangan kirinya memegang bingkai poto itu dan tangan kanannya mencengkeram kerah baju lelaki itu.


"Kenapa kau menggunakan wajahku? Apa maksudmu?" tanya Bilson kesal.


"Apa? Wajahmu? Atau wajahku?"


"Kurang ajar! Aku tak akan membiarkanmu lolos." ucap Bilson geram.


Dia mengepalkan tangan kanannya.


"Silakan saja! Aku tidak takut sama sekali. Aku hanya ingin tau apakah kau punya nyali untuk melakukannya atau kau mencoba kabur? Harusnya kau masih ingat bagaimana kamu dulu" ucap lelaki itu datar.


"Siapa kamu sebenarnya? Buka topengmu sekarang!" pekik Bilson marah.


"Kau yakin tak mengenalku bahkan kau sudah melihat wajah asliku? tantang lelaki itu.


Bilson menelan salivanya menahan emosi di dadanya.

__ADS_1


"Masih saja kau coba untuk menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya di depan istri kamu ini padahal kini dia sedang terancam olehku." ucap lelaki itu.


"Aku nggak perduli. Terserah kamu mau apakan dia." sahut Bilson.


"Kau yakin? Tak adakah yang kau butuhkan darinya?" ucap lelaki itu memancing amarah Bilson.


Tidak tidak. Kalau kubiarkan dia bersama wanita hila ini bisa-bisa rencanaku harus batal. Aku nggak akan mendapatkan sepeser pun nanti. Oke, aku akan membawanya dati sini. Batin Bilson.


"Ti-tidak. Aku akan pulang bersamanya." sahut Bilson dengan suara bergetar karena menahan emosi.


"Kau yakin, tuan?" tanya lelaki itu.


"Ya-yakin." jawab Bilson.


Nggak segampang itu kawan. Sebelum kau membawanya, akui dulu perbuatanmu di masa lalu yang kau lakukan kepada aku, tante Renata Aruan, om Billy dan juga Dira. Aku akan membuatmu mengakuinya agar Indira bisa menggugatmu. Batin lelaki itu.


"Tidak segampang itu." sahut lelaki itu.


"Maksudnya?" tanya Bilson.


"Coba lihat dibalik bingkai itu! Baca dan pahami!" ucap lelaki itu tegas.


Apa? Jadi dia tau aku siapa? Kurang ajar. Ini nggak boleh sampai ketahuan oleh wanita gila ini. Bisa-bisa aku nggak dapat apa-apa nanti. Tidak tidak. Tidaaaaaak! Batin Bilson.


"Bagaimana? Apakah kamu siap?" tanya lelaki itu.


"Kurang ajar kau Revan! Beraninya kau menjebakku!" ujar Bilson marah.


Revan Dinata adalah sahabat masa kecil Bilson. Dia jugalah yang selalu menemani Bilson dikala teman-temannya menjauhinya, disaat teman-temannya membulynya.


Revan aelalu ada buat Bilson.


Namun saat mereka sudah dewasa, mereka menyukai orang yang sama. Kala itu umur mereka sudah matang untuk berumah tangga. Mereka pun sudah memiliki pekerkaan yang mapan.


"Lap dulu keringat kau itu!" tukas lelaki itu.


Ia melemparkan tissue gulung tepat mengenai wajah Bilson.


Bilson menangkap tissue itu lalu mengusapkannya ke pipinya.


"Maukah kau mengakuinya di hadapan istrimu ini sekarang?" tantang Revan.


Tante dan om sabar ya! Secepatnya aku akan mempertemukanmu dengan Dira. Aku akan membuat mulut lelaki pengecut ini mengakui kesalahannya tante, supaya kita ada buktu yang kuat untuk mencebloskannya ke dalam penjara. Batin Revan.


Mata Bilson menyisiri seluruh ruangan saat Revan sedang membelakanginya. Ia mencari ancang-ancang agar bisa keluar dari rumah ini. Ia memutar otak untuk mencari ide cemerlangnya.


Aletha yang melihat perdebatan itu tak perduli lagi aekarang. Baginya itu hanya masa lalu mereka berdua yang ia rasa tak ada hubungan dengan dirinya.

__ADS_1


Satu-satunya yang ia ingin lakukan saat ini adalah bertemu dengan baby Eril. Maka dia juga sedang memikirkan cara agar dirinya segera bisa bertemu dengan baby Eril.


"Apa kau takut Bilson?" tanya Revan.


"Apa kau akan mengakui kesalahanmu?" tanya Revan lagi.


Bilson tak bergeming. Namun pikirannya masih menimang-nimang agar bisa kabur dari sini.


Sama halnya dengan Aletha. Ia hanya menganggap ocehan Revan seperti R3 alias Radio Rusak Rusak.


"Jangan lari kau!" jerit Sandy.


Ternyata Bilson berhasil mengelabui mereka. Ia melarikan diri setelah mampu meberikan pukulan dan tendangan kepada kedua anak buah Revan.


Bahkan Sandy dan Radot masih meringis kesakitam sambil memegang perutnya masing-masingm.


"Kejar dia!" teriak Revan.


Kedua anak buah itu berlari sambil meringis karena masih teras sakit yang mereka alami.


Aletha menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Karena dilihatnya semua orang sedang berlari mengejar Bilson.


Dia berlari menelusuri seisi rumah sambil memanggil-manggil nama baby Eril. Berharap baby Eril akan mendengar dan emngwluatkan suara khasnya.


Kamar demi kamar ia telusuri. Namun keberadaan baby Eril masih belum ditemukan. Kedua lutut Aletha seakan bergetar dan tak bisa berdiri tegap akubat kepanikan yang melanda.


"Lindungilah Putraki dimana pun dia berada. Aku mohon Tuhan...." gumam Aletha.


Para pelayan yang meihat Aletha berlari-lari hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa.


Tak ada yang berani menolong Aletha. Karena mereka takut dipecat oleh Revan.


Tangga demi tangga ia lalui dengan langkah tertatih-tatih. Saat ini ia sudah berada di lantai tiga rumah mewah itu.


Semoga saja Eril di sini. Aku harap naluriku nggak salah. Pasti dia ada di sini. Aku harap dia baik-baik saja di sana. Batin Aletha.


"Mana dia?" bentak Revan kepada kedua anak buahnya yang masih ngos-ngosan karena kelelahan berlari.


"Maaf, boss. Kami nggak bisa mengejarnya." ujar Sandy.


"Dasar tidak berguna!" tukas Revan kesal.


"Ma-maaf boss tapi dia larinya cepat sekali." sahut Radot membela diri.


"Pergi kalian dari sini dan segera temukan dia!" perintah Revan.


"Baik, boss." ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Dasar anak buah tidak berguna!" ujar Revan kesal sambil meninju angin.


Kedua anak buahnya itu sudah pergi dari hadapannya.


__ADS_2