
Hari Hari sebelum menuju pernikahan kami lalui bersama bahkan tidak dapat dihindari percekcokan kecil sering terjadi diantara kami. galang terlihat mulai dingin kembali seperti saat pertama kami bertemu dulu. Malam ini terasa sangat sunyi. Galang hanya diam saja . Kami berada di rumah papi Richard untuk menentukan rencana pernikahan kami yang sudah tinggal menghitung hari saja. Persiapan awal kami rubah karena awalnya Galang ingin pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga terdekat saja. tentu saja ku tolak. Aku ingin pernikahan terbaik Karena menikah bagiku adalah Sekali dalam seumur hidupku dan aku ingin teman-temanku juga datang. tapi galang bersikeras bahwa pernikahan mereka akan digelar secara sederhana. Ku tinggalkan galang sendirian di ruang tamu aku berjalan menuju ke lantai atas ke kamar galang. karena kamarku yang dulu sekarang digunakan sebagai ruang kerja galang. Ku tutup pintu dengan keras hingga galang langsung menatap ke atas.
Aku kecewa dengan Galang. entah mengapa hatiku sangat kecewa dan sakit. mengapa hanya masalah pernikahan ini ia bahkan tidak memperbolehkan mengundang sahabat-sahabatnya. "Apa dia malu nikah sama aku?" batinku .aku masih memegangi dadaku yang sesak. tak lama kemudian galang datang ke dalam kamar mencoba menenangkan ku tapi tak ku gubris. aku langsung turun ke lantai bawah dan galang terus mengekoriku."Fineee.. Terserah kamu mau nikah gimana ."tiba tiba galang berucap setengah teriak. aku berhenti dan membalikkan tubuhku menatap tajam galang.
"Kalo kamu terpaksa yaudah nggak usah nikah" jawabku ketus seraya meninggalkan galang yang terdiam di depanku. aku memilih pulang memesan taxi online malam ini ketimbang diantar galang. Galang berjalan cepat ke arahku tetapi kutepis tangannya.
Entahlah pikiranku kacau balau . terbawa emosi dan menguras hati. kupegang kepalaku yang panas ini dan kuhempaskan punggungku kebelakang.
Sebenarnya ibu sudah seringkali memceramahiku bahwa ya memang seperti itulah hubungan tidak pernah berjalan mulus terus terusan. sebenarnya aku merasa kesal sendiri telah meninggalkan galang. karena hatiku masih rindu dengannya.tapi entah kenapa aku merasa kecewa saja.
Sesampainya di kontrakan selesai membayar taxi aku berjalan memasuki ruangan kecil yang terdapat Ruang tamu kecil dengan satu sofa panjang yang biasa ditiduri oleh galang ketika ia menginap kontrakanku. ku elus sisi sofa ku dan kupejamkan mataku. aku merindukan galang.
********
Esoknya ketika aku membuka pintu aku terkejut melihat galang sudah duduk di kursi kayu depan kontrakanku. "Ngapain kesini?"tanyaku sinis. ia hanya terdiam sambil menatapku duduk disampingnya memasang sepatu sneakers berwarna putih. aku berdiri mengunci pintu dan berlalu tanpa menghiraukan galang yang mengekor. aku berjalan terus tapi galang juga mengikutiku .
"Beib.. "Panggilnya membuat ku terhenti. aku menoleh kearahnya dan dia berjalan mendekatiku. "Kita sudah mau menikah. please jangan kekanak kanakan gini " ucapnya membuatku tertegun. "Kekanak kanakan katanyaa?" gumamku dalam hati sambil menatap wajah galang tajam. padahal kan yang kuminta hanya pernikahan istimewa yang dihadiri teman temanku juga tapi ia menganggapku seperti ini. galang meraih tanganku langsung kutepis kasar. "Beiibbb. Tungguuu dulu . iya oke oke terserah kamu aja" ucapnya sambil mengejarku yang terus berjalan dijalanan komplek kontrakanku. aku berhenti lagi dan sekarang aku mulai menangis. entah kenapa akhir akhir ini hatiku sangat sensitive sehingga membuatku menangis terus terusan. Galang mendekatiku dan mendekapku menenangkanku kemudian menggandeng tanganku menuju kontrakan.
__ADS_1
Mataku mulai merah dan bengap seperti habis digigit nyamuk. galang terus terusan menenangkan hatiku. dan akhirnya aku merasa cukup tenang.
pernikahan kurang 5 hari lagi undangan sudah siap tapi aku belum menyebar nya untuk teman-temanku karena keinginan galang kemarin. Setelah itu galang mengiyakan untuk mengundang teman-teman kuliahku dan sahabatku di SMA dulu. aku sangat senang seketika itu juga langsung kupeluk galang.
Galang hanya diam saja. "lalu bagaimana dengan teman-temanmu?" tanyaku sembari mendongakkan wajahku yang masih memeluk galang . "ah itu.. aku ga ada temen deket di jakarta" ucapnya dengan nada sedikit tersenggal. "hm.. satupun tak ada?" tanyaku lagi. "aku kan dari SMA udah di Mellbourne "jawabnya sambil memegang kedua sisi pipiku. "Ah iya yaa.." Ucapku kemudian kutenggelamkan lagi wajahku pada dada bidang galang.
Kurang tiga hari menuju pernikahanku. Aku sangat dilema antara bahagia dan sedih. Galang masih tetap dingin tapi lembut. ia kerap kali menginap kontrakanku akhir akhir ini mengingat aku yang masih saja sensitive terhadapnya.
cekelek..
pintu terbuka terlihat galang sudah rapi dan tampan didepan pintu . ia mendekatiku dan mencium pelipisku . ku balas dengan senyuman manisku. "Sarapan yuk beib. ibu udah masak nih" ajakku seraya memegang lengan galang. "hm aku barusan makan sama papi tadi, kamu makanlah " jawab galang sambil mengelus kepalaku. aku mengangguk dan melanjutkan makanku.
Aku melihat galang yang duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. kulihat ada senyuman tipis di ujumg bibirnya. "beiib lihat apa sampe senyum senyum?" tanyaku pada galang. "ini temenku mellbourne mengirimku ucapan selamat pada kita." jawabnya sembari melempar senyum ke arahku.
__ADS_1
Setelah makan aku langsung bergegas mengambil barang barangku dikontrakan untuk dipindahkan ke Appartment galang.
tapi sesampainya di Halaman Kontrakan aku melihat seorang wanita berdiri di depannya.
"Sylviaa??" sapaku mengagetkan sylvia saat itu. "Heii coba jelaskaaaan padaku kenapa kau baru mengirim undangan ke akuuu?!" ucapnya sedikit kencang sambil menggoyang goyangkan tubuhku. aku tertawa lebar . galang tidak ikut turun dia masih menunggu di dalam mobil. aku mengajak sylvia masuk dan menceritakan mengapa undangan sylvia baru ia kirim padahal besok adalah hari pernikahannya.
Sylvia langsung memeluk sahabatnya. "kenapa kamu cepat sekali mendapat pasangan hidup. bahkan nanti kamu bisa saja cuti kuliah karena tiba tiba mengandung" kata sylvia sambil menatap ku . "ah aku udah nggak sabar temenku punya bayi dan dibawa ke kampus " imbuhnya sambil menggelitiki pinggangku. "Sylviaaaaa!!" Ucapku membentak sylvia karena kegelian. kami saling tertawa hingga melupakan sesorang di luar sana.
"yampun pacarmu dari tadi dimobil. kamu gak kasian?" tanya sylvia. "nggak. dia emang gitu biarin aja. "jawabku datar.
kemudian sylvia berpamitan . Galang keluar mobil dan menggerutu kesal "kok kamu ga bangunin aku sih. 2 jam aku nunggu sampek ketiduran dimobil" .
"hahaha maafin aku beib. kamu sih diajak turun ga mau" ucapku sembari merangkul lengan galang mengajak nya masuk ke kontrakanku.
Setelah membereskan semuanya kami memindahkan ke dalam bagasi. bahkan di dalam mobil sudah cukup penuh juga barang barang ku yang membuat galang geleng geleng kepala.
kemudian kami meninggalkan kontrakan galang melajukan mobilnya ke appartement .
__ADS_1