
...Enjoy and Happy Reading ...
Rumah Keluarga Boltom
12:15
Jessica menghela napas dan kembali memotong beberapa daging sapi mentah itu. Siang ini ia ingin membuat steak untuk putri kecilnya, salah satu makan kesukaan sang putri. Jessica menatap jam dinding, lima belas menit lagi Lyn akan pulang dengan Mr.Sam.
Jessica kembali memikirkan perkataan Matt kemarin, haruskah ia menyudahi semuanya? Ia tidak mungkin menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Inikah balasan semuanya karena perselingkuhannya dengan Mike beberapa tahun lalu? Tapi mengapa kedua anaknya juga ikut merasakan kepedihan ini. Mata Jessica berlinang, ia sudah menyesali semua kesalahannya di masa lalu, tapi mengapa Matt seolah selalu menyerangnya? Terlebih Corrine telah hadir di kehidupan mereka, bukankah ini semua sudah menjadi balasan untuknya? Lalu kesakitan apa lagi yang Matt inginkan darinya?
“Akh!”
Jessica tersentak ketika jari telunjuk kirinya secara tidak sengaja teriris pisau daging miliknya. Darah mengucur dari jarinya, ia tersentak karena tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat Jessica mencuci telunjuknya di wastafel, ia meringis ketika air mengenai lukanya, terasa nyeri.
“Iya, sebentar!”
Jessica berteriak kesal, siapa yang menekan bel rumahnya dengan begitu tidak sabaran. Serasa jarinya sudah tidak mengeluarkan darah, Jessica berjalan menuju pintu utama. Lukanya bisa ia obati nanti, ia penasaran siapa yang memencet bel rumahnya di siang bolong seperti ini.
“Selamat siang Nyonya Villegas.”
Dihadapannya terdapat Corrine yang tersenyum simpul padanya. Sebelum Jessica sanggup berkata-kata Corrine memasuki rumah besar itu dengan menabrakkan bahu mereka. Jessica menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan, sampai kapan kesabarannya terus diuji?
“Desain yang cukup menarik, selera Matt memang tidak pernah mengecewakan dari dulu.”
Langkah demi langkah Corrine semakin dalam memasuki rumah keluarga Boltom itu. Dari sofa, meja, bahkan vas bunga tidak luput dari sentuhan Nona Edmond itu, seolah tugasnya memang menilai semua dekor yang ada disana. Kaki jenjangnya itu mulai melangkah menuju dapur, memperlakukan semua adalah miliknya.
“Steak? Ah, tidak perlu merepotkanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana dekorasi rumah yang Matthew inginkan. Aku tidak mungkin mengecewakannya jika aku tinggal serumah dengannya, bukan?"
__ADS_1
Corrine tertawa tersipu malu dengan jarinya yang menutupi mulutnya, Jessica hanya tersenyum sinis. Khayalan Corrine mengenai Matt memang sudah terlalu jauh. Ia takut Corrine akan gila jika Matt terus menerus menolak cintanya. Tidak, bahkan menurutnya sekarang Corrine memang sudah gila.
“Aku juga ingin tahu dekorasi kamar seperti apa yang Matt inginkan.” Corrine mulai menaiki tangga, dengan cepat Jessica mencengkeram lengannya dan menatap gadis itu dengan tajam.
“Cukup Corrine, kau tidak diterima disini!” Corrine tersenyum sinis melihat tatapan amarah Jessica padanya.
“Matt menyuruhku untuk membawa semua pakaiannya dari sini. Jadi lepaskan aku!”
Dengan sekali hentakan keras Corrine melepaskan cengkeraman Jessica pada lengannya. Jessica terdiam, rasa sedih dan kecewanya kembali. Ya, ya, memang seharusnya ia berpisah dengan Matt sedari dulu. Penebusan dosanya yang telah berselingkuh dengan Mike sangat tidak berguna. Hampir tujuh tahun lamanya ia berusaha berubah demi Matt, dan Matt tidak melihat itu semua. Dan ia sangat kecewa.
Corrine menatap kearah perut rata Jessica, seketika bayangan pesan Jessica untuk Matt kembali. Jessica telah mengandung anak Matt, Corrine mengepalkan tangannya erat dan kembali menaiki tangga, diikuti Jessica dibelakangnya dengan menundukkan kepalanya.
“Ah, ada yang ingin aku katakan padamu Nyonya Villegas.”
Corrine menghentikan langkahnya diujung anak tangga. Ia berbalik dan menatap Jessica yang terlihat begitu frustasi. Corrine kembali tersenyum simpul. Ia mencodongkan tubuhnya kearah tubuh Jessica dan berbisik.
Dengan sekali hentakan Corrine mendorong Jessica, membuat tubuh mungil itu terbentur puluhan anak tangga. Dalam hitungan detik tubuh Jessica sudah terbaring di lantai bawah, gadis itu merintih, darah segar mulai keluar dari kepalanya membasahi lantai.
Corrine yang melihatnya tersenyum, ia menuruni tangga secara perlahan dan menatap Jessica yang darahnya sudah menggenang dilantai. Corrine mundur, ia tidak ingin heels kesukannya itu mengenai darah Jessica, itu akan memberikan jejak pada heelsnya. Dengan sisa kesadarannya Jessica menatap Corrine yang berjongkok dan membisikan sesuatu.
“Aku Corrine Edmond, dan kau tidak pantas bersaing denganku.”
Corrine tersenyum sini dan mulai berdiri, sebelum gadis itu melangkah menjauh. Dengan sisa kekuatannya Jessica menggapai pergelangan kaki Corrine. Ia tidak menyadari, bahkan sedari tadi Corrine memakai sarung tangan hitam, gadis itu tidak ingin meninggalkan sidik jarinya.
“Kumohon, Kumohon selamatkan bayiku.” Jessica berucap, bahkan ia tidak mengeluarkan suara. Tubuhnya berusaha menahan rasa sakit yang diterimanya.
Ia memohon Tuhan berpihak padanya, ia tidak peduli lagi. Ia hanya ingin bayi yang dikandungnya selamat. Ia berupaya untuk menjaga kesadarannya, berharap Corrine memiliki rasa empati padanya, walaupun ia tahu yang dilakukannya sia-sia. Corrine hanya tersenyum sinis dan meninggalkan rumah keluarga Boltom, meninggalkan Jessica yang mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1
......................
“Sampai bertemu besok Nona Lyn.”
“Baik Mr. Sam. Terimakasih banyak sudah mengantarku.”
Lyn melambaikan tangan kearah supir pribadi keluarga Boltom itu. Tanpa pikir panjang Lyn membuka pintu besar keluarga Boltom. Bahkan beberapa jam ia bersekolah ia tidak menyangkal begitu merindukan sang Ibu.
"Mama, ma-"
Tubuh gadis kecil itu seketika mematung ketika melihat seorang wanita dewasa yang telah tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah yang membasahi lantai. Lyn berjalan perlahan, jantungnya berdetak kencang, ia ingin memastikan wajah wanita itu.
“Ma, Mama!”
Gadis kecil itu mulai menangis, dan berlari menuju ibunya. Lyn mengguncang tubuh sang ibu. Apa, apa yang harus ia lakukan? Ia tidak boleh hanya menangis, gadis kecil itu tahu, jika ia hanya menangis, ia bisa kehilangan sang ibu.
Tanpa pikir panjang gadis kecil itu berlari keluar rumah, mobil Mr.Sam sudah tidak ada disana. Ia mulai berlari menuju pos penjaga gerbang dan tidak menemukan siapapun. Pasti paman penjaga gerbang rumahhya itu sedang makan siang, itu yang biasanya mereka lakukan ketika ia pulang sekolah.
Lyn kembali memasuki rumah dengan isakan tangis yang semakin deras, ia menatap sang ibu yang masih tidak bergerak. Namun kini gadis kecil itu mengeluarkan ponselnya, ponsel yang diberikan ibunya karena ia menghilang dengan kakeknya dulu. Ia menekan tombol satu, dan kini nomor ibunya yang terhubung. Tidak, tidak. Ia kini menekan tombol dua, kali ini nomor sang ayah yang terhubung. Lyn masih terisak dan sesekali menghapus air matanya.
“Ayo Papa, aku mohon.”
Tangisan Lyn semakin keras ketika untuk ketiga kalinya sang ayah tidak mengangkat panggilannya. Kali ini gadis kecil itu menakan tombol tiga, terdengar deringan dua kali.
“Halo, Lyn ada apa?”
“Paman, selamatkan ibuku, selamatkan ibuku.” Tangisan Lyn pecah.
__ADS_1