Married Life

Married Life
1.28. The Truth


__ADS_3

Matt menatap keempat temannya itu yang berada di pojok restauran. Sudah hampir satu minggu ia tidak keluar dari kantornya itu. Bahkan ia tidur disana, pulang kerumah malah akan membuat kenangan dengan Jessica semakin kuat. Dan ia membutuhkan refreshing sekarang, dan ia pikir teman temannya adalah salah satunya.


Keempat temannya itu terlihat sedang menunggunya, menunggu semua cerita yang ia alami. Dan Matt begitu tahu bagaimana sifat teman temannya itu. Matt duduk dikursi sebelah Timmy, berdehem sedikit untuk menormalkan teman temannya yang memandangnya dengan mengintimidasi.


“Bagaimana hubunganmu dengan Lara, Tim?”


Matt bertanya, berusaha untuk tidak menjadi pusat perhatian semua temannya setelah kasus perceraiannya itu. Karena ia sangat tahu bagaimana cerewetnya mereka ketika sudah bertanya, dan ia sedang menghindari itu sekarang.


“Tentu, baik-baik saja.”


“Sebenarnya dari mana kalian bertemu lagi, Tim? Kau tidak pernah bercerita kepada kami.”


Kali ini Carl angkat bicara, Matt tersenyum. Ia bisa menghindari pertanyaan para temannya, ya walaupun Timmy yang menjadi korbannya. Timmy menatap Matt dengan datar, pria jenius memang bisa mengendalikan keadaan. Seharusnya mereka berkumpul untuk menanyakan keadaan Matt, tapi mengapa jadi ia yang terpojok sekarang.


“Ya kalian tahu, blind date.”


Kali ini suara tawa Ragen yang mengisi atas jawaban Timmy. Dan diikuti tawa yang lainnya. Timmy hanya menghembuskan napas berat, ia sangat tahu ini yang akan ia dapatkan jika ia bercerita tentang pertemuannya dengan Lara.


“Stop it! Kita disini untuk menanyakan tentang Matt.”


Timmy berkata kesal, semua terdiam termasuk Matt. Matt menatap dingin kearah Timmy, bisa bisanya ia berbicara begitu frontal. Timmy yang merasa ada tatapan menusuk yang ditujukan padanya itu langsung menatap kearah lain.


“Kau baik-baik saja Matt?” Lee bertanya.

__ADS_1


“I’m Good.”


Jawab Matt singkat. Lee, menatap Matt datar. Bukan jawaban singkat itu yang ia inginkan. Tapi cerita singkat tentang perceraiannya dengan Jessica, dan termasuk saham Villegas Company yang menurun drastis karena perceraian mereka itu.


“Kau juga pasti tahu Matt, semua orang punya masa lalu.”


Kali ini perkataan Ragen membuat semuanya mengangguk menyetujui, sedangkan Matt terbang dalam lamunannya. Ia amat mengerti perkataan itu, tapi mengapa masa lalu Jessica yang dilakukannya itu bersama dengan Mike sahabatnya sendiri. Seolah mereka sedang mengejeknya dibelakang, mempermainkannya.


Matt tersentak, tangannya mengepal kuat. Tepat dihadapannya terdapat Mike yang tengah berdiri memandangnya. Matt menatap satu persatu teman yang lainnya itu, semua melihatnya dengan tatapan khawatir. Ia dijebak, mereka memancingnya kesini untuk menemui Mike. Mengapa seperti ini?


“Kalian memancingku untuk menemui pria brengsek ini?”


“Tunggu Matt, Mike punya sesuatu yang ingin dikatakannya.” Lee berusaha untuk menjelaskan.


“Apa lagi yang perlu dikatakan? Apa kalian tidak tahu apa yang telah dilakukan si bajingan ini?”


“Kami akan tinggalkan kalian berdua, dan kuharap kau bisa mengendalikan emosimu Matt.”


Kalimat terakhir yang dikatakan Ragen sebelum mereka meninggalkannya berdua dengan Mike. Mike duduk tepat dihadapannya. Matt menatap kearah lain, bahkan hanya untuk sekedar menatapnya saja membuat emosinya naik.


“Sebelumnya aku ingin minta maaf denganmu Matthew.” Mike mulai membuka suara. “Aku merasa amat bersalah dengan kau dan Jessica.” Matt terdiam, namun kali ini matanya menatap Mike yang juga menatapnya dengan tatapan menyesal.


“Jessica mencintaimu Matt, gadis itu begitu mencintaimu.”

__ADS_1


Mike masih begitu terbayang bagaimana Jessica menolaknya saat ia mengajak untuk menghilang dari sisi Matt yang jelas-jelas pria itu menyakitinya. Walaupun tidak menyakiti secara fisik, tapi menyakiti secara batin. Ia tahu dulu Matt suka membawa gadis-gadis malam, dan diajaknya menginap dikediaman mereka berdua. Jessica sedari kecil sudah sering disakiti secara fisik dan mental oleh ayahnya sendiri. Maka dari itu, Mike selalu bersikap lembut padanya. Tapi api cemburu seolah telah membutakan semuanya.


“Jessica sudah beberapa kali meminta aku untuk meninggalkannya, dia memutuskan hubungan kami hanya demi menjadi istri terbaik dimatamu.” Matt terdiam, tapi hatinya kini mulai merasakan sakit entah karena apa.


“Tapi aku memaksanya, aku memaksanya untuk terus bersamaku. Aku tidak mau kehilangannya Matt, aku tidak sanggup kehilangannya. Hanya gadis itu yang berasa disisiku saat kedua orang tuaku bercerai, hanya gadis itu yang setia menemaniku saat semua orang menjauhiku. Hanya gadis itu yang bisa mengukir sebuah senyuman dibibir ku saat mataku mengeluarkan air mata..." Matt tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.


...Aku begitu mencintainya Matt, aku sangat mencintainya.”


Air mata Mike menetes, Matt menatap Mike dengan sendu. Ia tahu bagaimana hancurnya Mike dulu, Mike memang mempunyai masa lalu yang begitu kelam. Air matanya memang menunjukkan kesedihan, dan kekecewaan yang begitu dalam.


“Tapi kurasa, aku memang bukan ditakdirkan untuknya.” Mike menghapus air matanya perlahan.


“Kau lebih pantas dariku, aku yakin kau tidak akan pernah menyakiti Jessica kan Matt?” Matt terdiam, ingatannya kembali dimana Tuan Villegas menampar Jessica. Secara tidak langsung ia telah menyakiti Jessica, karena ia adalah penyebab Tuan Villegas berbuat seperti itu.


“Aku akan pindah ke Perancis dan tinggal bersama kakakku, aku telah banyak membuat beban dikehidupan kalian berdua. Dan aku akan mengganti kontakku seolah mati ditelan bumi. Aku tidak akan menganggu kalian berdua lagi.”


Entah senang atau sedih yang dirasakan Matt, tapi ia masih terdiam. Dihatinya hanya ada sebuah penyesalan, seandainya ia mendengarkan penjelasan Jessica saat itu, seandainya sifat dewasanya itu muncul.


“Sejujurnya aku seperti ini karena Jessica Matt, aku menghubungi ponsel gadis itu tidak aktif, aku datang kerumahnya pun tidak diterima. Aku sangat khawatir dengan kondisi Jessica Matt. Saat kecil Tuan Villegas tidak pernah sungkan untuk menyiksa Jessica, dan kurasa yang sekarang bisa menolong Jessica adalah dirimu.”


Matt dapat merasakan jantungnya berdetak kencang, rasa sedih, khawatir, dan takut menjadi satu. Mike tiba-tiba berdiri, dan Matt dapat melihat dengan jelas Mike membawa sebuah koper besar di tangan kanannya. Pria itu mengecek jam tangannya.


“Aku pamit, penerbangan ku sekitar satu jam lagi. Kumohon jaga Jessica baik-baik Matt, dan kuharap kau tidak terlambat.”

__ADS_1


My note :


Maafkan updatenya lama, author blank kelanjutannya gimana. Dan jujur aja author kurang srek gitu sma chapter ini. Kurang maksimal aja dari segi bahasanya. Karena author bikinnya terburu buru. Maafkeun😭😭


__ADS_2